alexametrics

Studi: Gejala Depresi Selama Kehamilan Turunkan Kekebalan Anak

loading...
Studi: Gejala Depresi Selama Kehamilan Turunkan Kekebalan Anak
Alami gejala depresi selama trimester ketiga atau terus-menerus selama kehamilan sebabkan ibu dua kali lebih mungkin memiliki bayi dengan tingkat imunoglobulin A terendah dalam usus. Foto/Joslin.org
A+ A-
JAKARTA - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kesehatan mental ibu selama masa kehamilan secara langsung akan memengaruhi perkembangan sistem kekebalan anak.

Para peneliti memeriksa catatan kesehatan dari 1.043 pasangan ibu-bayi yang berpartisipasi dalam Studi Cohort Anak, yang memantau kesehatan ribuan anak Kanada hingga remaja.

Laman Times Now News menulis, studi tersebut dilakukan oleh para peneliti pediatrik di University of Alberta. Untuk penelitian ini, para ibu mengisi kuesioner rutin tentang suasana hati mereka selama dan setelah masa kehamilan.



"Studi kami menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada ibu selama kehamilan dapat memengaruhi kadar dan fungsi sel-sel yang memproduksi imunoglobulin pada anak," kata Anita Kozyrskyj, seorang ahli epidemiologi anak-anak dan peneliti mikroba usus.

Peneliti mengambil sampel tinja dari bayi untuk dilakukan pemeriksaan. Ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan imunoglobulin A sekresi usus (sIgA), suatu antibodi yang memainkan peran penting dalam sistem kekebalan tubuh.

"Imunoglobulin ini sangat penting dalam microbiome untuk mengembangkan toleransi oral terhadap antigen lingkungan," jelas pimpinan tim penulis studi, Liane Kang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang melaporkan gejala depresi selama trimester ketiga atau secara terus-menerus sebelum dan sesudah kelahiran, dua kali lebih mungkin memiliki bayi dengan tingkat imunoglobulin A terendah dalam usus mereka.

Gejala ibu tidak harus parah untuk diagnosis klinis depresi. Tak ada hubungan yang ditemukan dengan depresi pascapersalinan. Hasilnya tetap benar, bahkan ketika faktor-faktor variabel seperti menyusui dan penggunaan antibiotik oleh ibu beserta bayi diperhitungkan.

Para peneliti mengatakan, penurunan kekebalan membuat bayi berisiko terkena infeksi saluran pernapasan atau pencernaan serta asma dan alergi. Juga dapat menyebabkan peningkatan risiko depresi, obesitas, serta penyakit autoimun seperti diabetes.

Kozyrskyj berpendapat bahwa kadar hormon stres (kortisol) yang lebih tinggi dapat ditransfer dari ibu yang depresi ke janin mereka dan mengganggu produksi sel yang akan membuat imunoglobulin setelah lahir. Dia menyarankan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungan antara microbiome ibu dan perkembangan kekebalan bayi. Kedua peneliti mengatakan, penelitian mereka menunjukkan bahwa lebih banyak dukungan kesehatan mental diperlukan oleh wanita hamil.
(tsa)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak