Bagaimana Mengangkat Kekerasan Seksual dalam Film

Rabu, 07 Oktober 2020 - 15:29 WIB
loading...
Bagaimana Mengangkat...
Miniseri Asya Story bercerita tentang remaja yang diperkosa dan terpaksa menjalani pernikahan dini. Foto/Genflix
A A A
JAKARTA - Asya seolah punya firasat suatu hal buruk akan terjadi. Hari-hari itu ia tampak murung. Tak nafsu makan. Fotonya terjatuh tanpa sebab, seakan jadi pertanda nasib buruk akan menimpanya.

Dan memang demikian. Siswi SMA yang diceritakan punya hobi bermusik ini suatu hari berlatih gitar di sebuah studio musik. Ia sendirian saat teman-temannya pulang duluan. Saat itulah ada remaja cowok lain, Alex (Sani Fahreza), mengambil kesempatan. Asya diperkosa.

Hari itu jadi mimpi buruk bagi Asya, diperankan Brigitta Cynthia. Ia mengalami tragedi terburuk dalam kehidupan seorang perempuan, baik remaja atau bukan. Jadi korban perkosaan .

Ketika hal itu terjadi pada remaja, dampak traumatisnya bisa jadi lebih dalam. Perjalanan hidup seorang gadis masih panjang. Di depan masih terbentang mimpi-mimpi dan pencapaian yang ingin diraih. Namun, itu semua terenggut begitu saja oleh sebuah peristiwa keji.

Bagaimana Mengangkat Kekerasan Seksual dalam Film

Foto: Genflix

Yang patut diperhatikan, Asya sehari-hari digambarkan sebagai cewek normal. Ia bukan cewek genit, bahkan cenderung pendiam dan pemalu. Pakaiannya juga tak pernah terbuka. Rok seragam sekolahnya panjang. Namun toh ia tetap jadi korban pemerkosaan.

Di sini, sineasnya mungkin berpesan, korban pemerkosaan bisa siapa saja. Perempuan dengan baju tertutup bisa juga jadi korban. (Baca Juga: Review Film Laskar Pelangi: Tagore, Totto-Chan, juga Hirata )

Ini juga mungkin sebuah pesan bahwa tidak pada tempatnya menyalahkan perempuan korban perkosaan karena perilaku si korban. Sosok yang sehari-hari berbaju tertutup dan bersikap pendiam juga rentan jadi korban .

Sayangnya, miniseri ini—setidaknya pada season satu part 1—tak mengeksplorasi lebih jauh soal tindak pidananya. Ceritanya berbelok pada dampak kehamilan pada remaja yang berawal dari peristiwa keji itu.

Kita tahu, kehamilan remaja menjadi wacana budaya pop kita setelah tahun lalu dirilis film "Dua Garis Biru" karya Gina S. Noer. Film itu mengumpulkan 2,6 juta penonton—terlaris ketiga tahun lalu.

Tidak ada yang menyangka sebelumnya, sebuah film drama yang punya tema berat (tentang kehamilan remaja dan pernikahan dini sebagai konsekuensinya) ternyata digandrungi penonton.

Bagaimana Mengangkat Kekerasan Seksual dalam Film

Foto: Genflix
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kemenag Cabut Izin Pesantren...
Kemenag Cabut Izin Pesantren Ibadurrahman Buntut Kasus Kekerasan Seksual
Menpora Erick Kecam...
Menpora Erick Kecam Pelecehan Seksual terhadap Atlet Menembak, Tegaskan Dukungan bagi Korban
Bintang Ghana Thomas...
Bintang Ghana Thomas Partey Dilarang Masuk Kanada Buntut Kasus Pelecehan Seksual
Rekomendasi
Bukan Sekadar Kuota,...
Bukan Sekadar Kuota, Rustini Dorong Perempuan Ambil Keputusan Strategis
Sambangi MI Raudhatul...
Sambangi MI Raudhatul Azhar, KB Bank Tanamkan Literasi Keuangan Sejak Dini
Uang Beredar Tumbuh...
Uang Beredar Tumbuh 8,7%,  Per Juni 2026 Tembus Rp10.432,8 Triliun
Berita Terkini
Lewat Buku, Saddam Permana...
Lewat Buku, Saddam Permana Bongkar Kisah Masa Lalunya
Ruben Onsu Bongkar Bukti...
Ruben Onsu Bongkar Bukti Transfer Rp11,3 Miliar untuk Rumah Sarwendah
Pernah Didiagnosis Depresi...
Pernah Didiagnosis Depresi Mayor, Saddam Permana Ceritakan Titik Terendah Hidupnya
Baper dan Penuh Twist!...
Baper dan Penuh Twist! Bring Back My Heart Jadi Microdrama yang Wajib Ditonton di V+Short
Road To Kilau Raya MNCTV...
Road To Kilau Raya MNCTV Siap Ajak Warga Klaten Joget dan Nyanyi Lagu-Lagu Viral
Paula Verhoeven Mohon...
Paula Verhoeven Mohon Doa untuk Kiano yang Tengah Dirawat di RS
Infografis
5 Pemain Paling Ikonik...
5 Pemain Paling Ikonik dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved