Bagaimana Mengangkat Kekerasan Seksual dalam Film
Rabu, 07 Oktober 2020 - 15:29 WIB
loading...
A
A
A
Usai nonton miniseri ini, kita takkan memandangnya sama lagi sebagai gadis jebolan era popularitas girlband danboyband. Sebentar lagi ia bakal menapaki jalan seperti Morgan Oey, alumni boyband yang punya akting keren saat main film.
![Bagaimana Mengangkat Kekerasan Seksual dalam Film]()
Foto: Genflix
Miniseri ini lahir dari Ichwan Persada sebagai sutradara. Ichwan mengawali karier di jagat sinema dari bawah, mulai dari publisis, kemudian melompat jadi produser, dan beberapa tahun terakhir mencoba jadi sutradara. Ia telah menyutradarai beberapa film pendek.
Dalam "Asya Story", ia tampak kian mantap menjalani peran sebagai sutradara. Seorang sineas mudah tergelincir saat menggarap cerita yang sensitif macam begini.
Misalnya, mengeksploitasi adegan pemerkosaan menjadi vulgar dan mengundang berahi yang malah melecehkan perempuan; atau justru mendudukkan korban sebagai pesakitan dan turut dipersalahkan.
Beruntung, Ichwan peka terhadap sensitivitas itu. Adegan pemerkosaan dalam "Asya Story" dibuatnya terlihat real. Saya tak sampai hati menontonnya. Menimbulkan rasa tak nyaman saat ditonton. Itu mungkin tujuan Ichwan. Pesannya jelas, pemerkosaan sebuah tindakan keji.
Meski jam terbangnya sebagai sutradara belum banyak, dan apalagi ia seorang pria, Ichwan relatif berhasil menggarap sebuah isu yang sensitif. (Baca Juga: 5 Hal Penting dari Film The Social Dilemma dan 6 Hal untuk Dilakukan agar Kamu Gak Dimanipulasi Internet )
Ilmu penyutradaraan bisa ditimba seiring makin banyak jam terbang ia raih sebagai sineas, tapi kepekaan gender atau keberpihakan pada korban bukan berasal dari ilmu teknis menggarap film. Kita beruntung Ichwan memiliki bekal budi pekerti itu.
"Asya Story" bisa ditonton di layanan streaming Genflix.
Fadhil Ahmad Haidar
Penikmat film

Foto: Genflix
Miniseri ini lahir dari Ichwan Persada sebagai sutradara. Ichwan mengawali karier di jagat sinema dari bawah, mulai dari publisis, kemudian melompat jadi produser, dan beberapa tahun terakhir mencoba jadi sutradara. Ia telah menyutradarai beberapa film pendek.
Dalam "Asya Story", ia tampak kian mantap menjalani peran sebagai sutradara. Seorang sineas mudah tergelincir saat menggarap cerita yang sensitif macam begini.
Misalnya, mengeksploitasi adegan pemerkosaan menjadi vulgar dan mengundang berahi yang malah melecehkan perempuan; atau justru mendudukkan korban sebagai pesakitan dan turut dipersalahkan.
Beruntung, Ichwan peka terhadap sensitivitas itu. Adegan pemerkosaan dalam "Asya Story" dibuatnya terlihat real. Saya tak sampai hati menontonnya. Menimbulkan rasa tak nyaman saat ditonton. Itu mungkin tujuan Ichwan. Pesannya jelas, pemerkosaan sebuah tindakan keji.
Meski jam terbangnya sebagai sutradara belum banyak, dan apalagi ia seorang pria, Ichwan relatif berhasil menggarap sebuah isu yang sensitif. (Baca Juga: 5 Hal Penting dari Film The Social Dilemma dan 6 Hal untuk Dilakukan agar Kamu Gak Dimanipulasi Internet )
Ilmu penyutradaraan bisa ditimba seiring makin banyak jam terbang ia raih sebagai sineas, tapi kepekaan gender atau keberpihakan pada korban bukan berasal dari ilmu teknis menggarap film. Kita beruntung Ichwan memiliki bekal budi pekerti itu.
"Asya Story" bisa ditonton di layanan streaming Genflix.
Fadhil Ahmad Haidar
Penikmat film
(it)
Lihat Juga :