Biasakan Anak Tetap Aktif Bergerak di Rumah Selama Pandemi
Sabtu, 17 Oktober 2020 - 14:15 WIB
loading...
Foto/dok
A
A
A
JAKARTA - Wabah virus corona membuat anak-anak menjadi kurang kesempatan untuk bermain. Meski begitu, tetap biasakan anak-anak untuk aktif bergerak meski di rumah saja.
Selama di rumah saja, kebebasan anak untuk bermain di luar rumah semakin berkurang. Anak terpaksa belajar secara bebas, kurang dapat bersosialisasi bersama teman-teman, dan belum lagi banyaknya beban aktivitas sekolah dari rumah secara online. Anak-anak pun, mau tak mau, dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan keadaan pandemi. (Baca: Inilah 10 Adab Berbicara Agar Lisan Terjaga)
Orangtua pun dituntut menyesuaikan diri untuk menjalankan berbagai peran sekaligus, yaitu menjadi orang tua, guru, juga sekaligus teman bermain anak. Menyikapi hal ini, dr Annisa Rahmania Yulman SpA, dokter spesialis anak RSUI, mengatakan, meski anak di rumah saja namun mereka harus tetap aktif. Hal ini untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan mereka agar tetap optimal.
“Sedentary lifestyle harus dihindari, harus istirahat cukup dan walaupun di rumah saja. Penggunaan gadget harus bijak walaupun sekolah pun menggunakan gadget. Orang tua harus mempunyai dalih dan strategi untuk mengatur screen time anak,” ujar dokter yang akrab disapa dr Ninis ini.
Menurut dia, screen time untuk anak 0-1 tahun adalah zero atau nol. Tidak boleh ada screen time untuk anak 0-1 tahun. Adapun untuk anak di atas usia 1-2 tahun, orang dewasa harus selalu mendampingi anak-anak dalam memanfaatkan gawainya. Beberapa tanda-tanda anak yang adiksi gawai perlu diwaspadai, seperti anak sulit konsentrasi, mudah tantrum, dan sejenisnya.
Dr Ninis juga menyampaikan bahwa untuk mencapai kualitas kehidupan yang baik dan aktif, anak diharuskan melakukan aktivitas fisik selama waktu tertentu yang berbeda untuk setiap umurnya. Dalam sehari, minimal selama 30 menit aktivitas fisik dianjurkan untuk 0-1 tahun, 180 menit anak umur 1-2 tahun dan umur 3-4 tahun. (Baca juga: Kemendikbud Akan Kembangkan SMK untuk Bangun Desa)
Tentunya, intensitas beratnya aktivitas untuk anak usia 1-2 tahun dan 3-4 tahun berbeda. Dikatakan Ns Mila Sri Wardani, sarjana keperawatan, masa usia dini disebut juga masa keemasan atau golden years yang menyebabkan si kecil mulai peka menerima berbagai macam rangsangan.
Selama di rumah saja, kebebasan anak untuk bermain di luar rumah semakin berkurang. Anak terpaksa belajar secara bebas, kurang dapat bersosialisasi bersama teman-teman, dan belum lagi banyaknya beban aktivitas sekolah dari rumah secara online. Anak-anak pun, mau tak mau, dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan keadaan pandemi. (Baca: Inilah 10 Adab Berbicara Agar Lisan Terjaga)
Orangtua pun dituntut menyesuaikan diri untuk menjalankan berbagai peran sekaligus, yaitu menjadi orang tua, guru, juga sekaligus teman bermain anak. Menyikapi hal ini, dr Annisa Rahmania Yulman SpA, dokter spesialis anak RSUI, mengatakan, meski anak di rumah saja namun mereka harus tetap aktif. Hal ini untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan mereka agar tetap optimal.
“Sedentary lifestyle harus dihindari, harus istirahat cukup dan walaupun di rumah saja. Penggunaan gadget harus bijak walaupun sekolah pun menggunakan gadget. Orang tua harus mempunyai dalih dan strategi untuk mengatur screen time anak,” ujar dokter yang akrab disapa dr Ninis ini.
Menurut dia, screen time untuk anak 0-1 tahun adalah zero atau nol. Tidak boleh ada screen time untuk anak 0-1 tahun. Adapun untuk anak di atas usia 1-2 tahun, orang dewasa harus selalu mendampingi anak-anak dalam memanfaatkan gawainya. Beberapa tanda-tanda anak yang adiksi gawai perlu diwaspadai, seperti anak sulit konsentrasi, mudah tantrum, dan sejenisnya.
Dr Ninis juga menyampaikan bahwa untuk mencapai kualitas kehidupan yang baik dan aktif, anak diharuskan melakukan aktivitas fisik selama waktu tertentu yang berbeda untuk setiap umurnya. Dalam sehari, minimal selama 30 menit aktivitas fisik dianjurkan untuk 0-1 tahun, 180 menit anak umur 1-2 tahun dan umur 3-4 tahun. (Baca juga: Kemendikbud Akan Kembangkan SMK untuk Bangun Desa)
Tentunya, intensitas beratnya aktivitas untuk anak usia 1-2 tahun dan 3-4 tahun berbeda. Dikatakan Ns Mila Sri Wardani, sarjana keperawatan, masa usia dini disebut juga masa keemasan atau golden years yang menyebabkan si kecil mulai peka menerima berbagai macam rangsangan.
Lihat Juga :