Golongan Darah Dapat Prediksi Risiko Anda untuk COVID-19 Parah
Senin, 19 Oktober 2020 - 09:05 WIB
loading...
A
A
A
Penelitian ini menambahkan, lebih banyak pasien dengan golongan darah A dan AB membutuhkan dialisis untuk gagal ginjal. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien COVID-19 dengan golongan darah A dan AB memiliki peningkatan risiko disfungsi atau kegagalan organ dibandingkan mereka yang bergolongan darah O atau B.
Mereka juga menemukan bahwa meskipun orang dengan golongan darah A dan AB tidak memiliki waktu rawat inap di rumah sakit lebih lama daripada mereka yang bergolongan darah O atau B, rata-rata pemilik golongan darah A dan AB itu berada dalam perawatan intensif lebih lama, yang mungkin mengindikasikan COVID-19 yang lebih parah.
(Baca Juga: Studi: Virus Corona Bertahan 28 Hari di Permukaan, termasuk Ponsel dan Uang Kertas )
"Bagian unik dari penelitian kami adalah fokus pada efek keparahan golongan darah terhadap COVID-19. Kami mengamati kerusakan paru-paru dan ginjal, lalu dalam penelitian selanjutnya, kami ingin mengetahui efek golongan darah dan COVID-19 terhadap organ vital lain," kata penulis studi Dr. Mypinder Sekhon, Instruktur Klinis di Division of Critical Care Medicine University of British Columbia, Vancouver, Kanada, seperti dikutip dari laman WebMd.
Mereka juga menemukan bahwa meskipun orang dengan golongan darah A dan AB tidak memiliki waktu rawat inap di rumah sakit lebih lama daripada mereka yang bergolongan darah O atau B, rata-rata pemilik golongan darah A dan AB itu berada dalam perawatan intensif lebih lama, yang mungkin mengindikasikan COVID-19 yang lebih parah.
(Baca Juga: Studi: Virus Corona Bertahan 28 Hari di Permukaan, termasuk Ponsel dan Uang Kertas )
"Bagian unik dari penelitian kami adalah fokus pada efek keparahan golongan darah terhadap COVID-19. Kami mengamati kerusakan paru-paru dan ginjal, lalu dalam penelitian selanjutnya, kami ingin mengetahui efek golongan darah dan COVID-19 terhadap organ vital lain," kata penulis studi Dr. Mypinder Sekhon, Instruktur Klinis di Division of Critical Care Medicine University of British Columbia, Vancouver, Kanada, seperti dikutip dari laman WebMd.
(tsa)
Lihat Juga :