Inovasi Sains Diperkenalkan Dua Perempuan Muda
Kamis, 26 November 2020 - 20:16 WIB
loading...
A
A
A
Prof. Dr. Arief Rachman, Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan, “Dua ilmuwan yang tahun ini dianugerahkan fellowship L’Oréal-UNESCO FWIS, tidak hanya berfokus pada permasalahan yang sedang terjadi, namun juga memikirkan berbagai tantangan lain di dunia medis. Dari dampak lanjutan pada pasien Covid-19, hingga pemanfaatan robotik dalam tindakan rehabilitasi dan operasi,’’ jelasnya.
Pemenang Dr. Anggia Prasetyoputri, M.Sc., Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menciptakan Deteksi Koinfeksi Bakteri pada Pasien COVID-19 melalui Metode Sekuensing dari Sampel Swab.
Anggia Prasetyoputri memiliki ketertarikan dalam dunia sains sejak dahulu, dilatar belakangi oleh sang ibunda yang juga seorang peneliti di bidang kesehatan lingkungan. Ia menyadari bahwa ada kemungkinan pasien COVID-19 terjangkit bakteri dan virus lain selain SARS-CoV-2.
Adanya koinfeksi atau infeksi simultan oleh bakteri dapat terjadi karena bakteri memiliki sifat oportunis yang bisa masuk saat tubuh sedang lemah, dan diketahui dapat memperparah kondisi sebagian pasien COVID-19. Dengan metode pengurutan basa nukleotida atau sekuensing dari sampel swab, Ia berharap dapat membantu tenaga medis dalam mengidentifikasi ada tidaknya bakteri patogen di dalam tubuh pasien COVID-19 dalam waktu singkat, dan juga dapat membantu memberikan informasi kepada dokter untuk memberikan antibiotik yang tepat kepada pasien.
Lalu, pemenang lainnya yakni Latifah Nurahmi, MSc, PhD, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Robot Operasi Reduksi Fraktur Sebagai Teknik Bedah Invasif Minimal. Terinspirasi dari kedua orang tua yang berkarir di bidang akademis, Latifah memilih karier sebagai peneliti dan pengajar.
Pemenang Dr. Anggia Prasetyoputri, M.Sc., Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menciptakan Deteksi Koinfeksi Bakteri pada Pasien COVID-19 melalui Metode Sekuensing dari Sampel Swab.
Anggia Prasetyoputri memiliki ketertarikan dalam dunia sains sejak dahulu, dilatar belakangi oleh sang ibunda yang juga seorang peneliti di bidang kesehatan lingkungan. Ia menyadari bahwa ada kemungkinan pasien COVID-19 terjangkit bakteri dan virus lain selain SARS-CoV-2.
Adanya koinfeksi atau infeksi simultan oleh bakteri dapat terjadi karena bakteri memiliki sifat oportunis yang bisa masuk saat tubuh sedang lemah, dan diketahui dapat memperparah kondisi sebagian pasien COVID-19. Dengan metode pengurutan basa nukleotida atau sekuensing dari sampel swab, Ia berharap dapat membantu tenaga medis dalam mengidentifikasi ada tidaknya bakteri patogen di dalam tubuh pasien COVID-19 dalam waktu singkat, dan juga dapat membantu memberikan informasi kepada dokter untuk memberikan antibiotik yang tepat kepada pasien.
Lalu, pemenang lainnya yakni Latifah Nurahmi, MSc, PhD, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Robot Operasi Reduksi Fraktur Sebagai Teknik Bedah Invasif Minimal. Terinspirasi dari kedua orang tua yang berkarir di bidang akademis, Latifah memilih karier sebagai peneliti dan pengajar.
Lihat Juga :