Lewat Workshop, ENZ Bagikan Pendekatan Unik Mendidik Anak Usia Dini
Jum'at, 04 Desember 2020 - 18:45 WIB
loading...
A
A
A
Selain workshop yang diselenggarakan secara virtual, tema yang diangkat juga berkaitan erat dengan pendidikan di era digital. Seminar pertama yang diselenggarakan pada 25 November fokus pada bagaimana guru PAUD beradaptasi di lingkungan belajar virtual. Seminar yang dilaksanakan selama dua jam itu dihadiri 26 peserta dari jaringan sekolah Cikal di Jakarta, Banten, dan Surabaya.
"Sebagai guru PAUD, kami harus kreatif dan terus berpikiran terbuka. Selain itu, kami juga harus membuat pengajaran yang menarik namun tetap efektif, terutama di masa sekarang ini. Kami sangat senang karena pelatih dari University of Canterbury, Anna Niles, mengajarkan dan memberikan pengalaman bagaimana sebaiknya guru PAUD berinteraksi dengan siswa usia dini melalui perangkat digital," kata Academic Head Office Sekolah Cikal, Indri Savitri.
Direktur untuk Asia Timur Education New Zealand, Ben Burrowes juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada guru PAUD. "Selandia Baru, khususnya University of Canterbury, memiliki reputasi yang baik di bidang pelatihan PAUD. Secara personal, saya sendiri sangat kagum dengan kerja keras para guru PAUD. Saya juga memiliki anak kecil dan tahu jika mengajar anak kecil tidaklah mudah. Terima kasih untuk semua perjuangan Anda. Melalui seminar ini, semoga guru PAUD bisa belajar tentang pendekatan unik yang dilakukan oleh Selandia Baru di ranah pendidikan anak usia dini ," papar Ben.
Workshop berikutnya, dimulai dari 30 November hingga 12 Desember 2020 dengan tema pengajaran Bahasa Inggris untuk masa depan. Ada dua 24 peserta yang akan mengikuti workshop ini. Mereka merupakan guru dari jaringan organisasi Teach for Indonesia yang tersebar di Jakarta, Bekasi, Bogor, Tangerang, Surabaya, Manado, Palembang, Pangkal Pinang, Pontianak, Pekanbaru, dan Malang.
Berbeda dengan seminar sebelumnya yang diselenggarakan secara singkat, workshop kedua akan dilaksanakan dengan durasi lebih panjang, yakni kurang lebih dua minggu. Para peserta diminta untuk mengakses kanal pembelajaran digital milik University of Canterbury bernama UC Learn. Kemudian, mereka diwajibkan untuk melakukan self-learning atau pembelajaran mandiri melalui video rekaman selama kurang lebih lima jam. Setelah itu, para peserta akan bertemu secara tatap muka dengan pelatih melalui aplikasi Zoom sebanyak tiga kali dengan durasi dua jam per pertemuan.
"Sebagai guru PAUD, kami harus kreatif dan terus berpikiran terbuka. Selain itu, kami juga harus membuat pengajaran yang menarik namun tetap efektif, terutama di masa sekarang ini. Kami sangat senang karena pelatih dari University of Canterbury, Anna Niles, mengajarkan dan memberikan pengalaman bagaimana sebaiknya guru PAUD berinteraksi dengan siswa usia dini melalui perangkat digital," kata Academic Head Office Sekolah Cikal, Indri Savitri.
Direktur untuk Asia Timur Education New Zealand, Ben Burrowes juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada guru PAUD. "Selandia Baru, khususnya University of Canterbury, memiliki reputasi yang baik di bidang pelatihan PAUD. Secara personal, saya sendiri sangat kagum dengan kerja keras para guru PAUD. Saya juga memiliki anak kecil dan tahu jika mengajar anak kecil tidaklah mudah. Terima kasih untuk semua perjuangan Anda. Melalui seminar ini, semoga guru PAUD bisa belajar tentang pendekatan unik yang dilakukan oleh Selandia Baru di ranah pendidikan anak usia dini ," papar Ben.
Workshop berikutnya, dimulai dari 30 November hingga 12 Desember 2020 dengan tema pengajaran Bahasa Inggris untuk masa depan. Ada dua 24 peserta yang akan mengikuti workshop ini. Mereka merupakan guru dari jaringan organisasi Teach for Indonesia yang tersebar di Jakarta, Bekasi, Bogor, Tangerang, Surabaya, Manado, Palembang, Pangkal Pinang, Pontianak, Pekanbaru, dan Malang.
Berbeda dengan seminar sebelumnya yang diselenggarakan secara singkat, workshop kedua akan dilaksanakan dengan durasi lebih panjang, yakni kurang lebih dua minggu. Para peserta diminta untuk mengakses kanal pembelajaran digital milik University of Canterbury bernama UC Learn. Kemudian, mereka diwajibkan untuk melakukan self-learning atau pembelajaran mandiri melalui video rekaman selama kurang lebih lima jam. Setelah itu, para peserta akan bertemu secara tatap muka dengan pelatih melalui aplikasi Zoom sebanyak tiga kali dengan durasi dua jam per pertemuan.
Lihat Juga :