Mengulik Alasan Logis di Balik Manjurnya Ramalan Astrologi
Selasa, 12 Mei 2020 - 20:00 WIB
loading...
A
A
A
Pada umumnya, metode dalam praktik-praktik tersebut menggunakan prinsip-prinsip psikologis manusia berupa validasi subjektif dan penipuan diri sebagai trik untuk mendapatkan kepercayaan dari si orang yang diramal.
Validasi subjektif ini adalah bias kognitif yang terjadi ketika ekspektasi individu menuntut adanya benang merah antara dua peristiwa yang sebenarnya gak saling terkait.
Konsep inilah yang bisa membawa kita pada penjelasan logis mengapa ramalan astrologi dan semacamnya terasa akurat.
Sederhananya, sih, apa yang kita anggap benar dilatarbelakangi oleh pendapat diri yang dipengaruhi oleh validasi subjektif.
Inilah yang bikin kita menghubung-hubungkan sendiri isi ramalan tersebut dengan hal yang kita miliki atau sedang kita rasakan, bukan karena ramalan tersebut emang 100 persen akurat bisa membaca diri kita.
![Mengulik Alasan Logis di Balik Manjurnya Ramalan Astrologi]()
Foto: northwestern.edu
Selain itu, penjelasan lain yang mengulas akan hal ini juga dijelaskan dalam hal yang disebut sebagai Efek Forer atau biasa dikenal juga dengan sebutan Efek Barnum.
Efek Forer, sesuai dengan namanya, dikemukakan oleh seorang psikolog asal Amerika Serikat bernama Bertram R. Forer dalam penelitiannya yang bertajuk “The Fallacy of Personal Validation: A Classroom Demonstration of Gullibility”.
Efek ini pada dasarnya memberi pendengar apa yang ingin mereka dengar atau ekspektasikan.Penelitian ini diadakan oleh Forer pada 1948 melalui sebuah tes kepribadian yang ia berikan kepada murid-muridnya.
Validasi subjektif ini adalah bias kognitif yang terjadi ketika ekspektasi individu menuntut adanya benang merah antara dua peristiwa yang sebenarnya gak saling terkait.
Konsep inilah yang bisa membawa kita pada penjelasan logis mengapa ramalan astrologi dan semacamnya terasa akurat.
Sederhananya, sih, apa yang kita anggap benar dilatarbelakangi oleh pendapat diri yang dipengaruhi oleh validasi subjektif.
Inilah yang bikin kita menghubung-hubungkan sendiri isi ramalan tersebut dengan hal yang kita miliki atau sedang kita rasakan, bukan karena ramalan tersebut emang 100 persen akurat bisa membaca diri kita.

Foto: northwestern.edu
Selain itu, penjelasan lain yang mengulas akan hal ini juga dijelaskan dalam hal yang disebut sebagai Efek Forer atau biasa dikenal juga dengan sebutan Efek Barnum.
Efek Forer, sesuai dengan namanya, dikemukakan oleh seorang psikolog asal Amerika Serikat bernama Bertram R. Forer dalam penelitiannya yang bertajuk “The Fallacy of Personal Validation: A Classroom Demonstration of Gullibility”.
Efek ini pada dasarnya memberi pendengar apa yang ingin mereka dengar atau ekspektasikan.Penelitian ini diadakan oleh Forer pada 1948 melalui sebuah tes kepribadian yang ia berikan kepada murid-muridnya.
Lihat Juga :