Berkunjung dan Mengenal Lebih Dekat Sejarah Museum Lawang Sewu
Rabu, 16 Desember 2020 - 14:20 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, guna menekan potensi penyebaran virus corona baru , PT KAI juga mengupayakan transaksi pembelian tiket secara non-tunai. Di sisi lain, agar pengunjung tetap aman dan nyaman, PT KAI berlakukan pembatasan jumlah pengunjung sehingga tidak terjadi penumpukan dan pengunjung tetap menjaga jarak.
Tidak hanya pada pengunjung, petugas Lawang Sewu juga wajib menerapkan protokol kesehatan. Lawang Sewu merupakan gedung bersejarah milik PT KAI (Persero) yang awalnya digunakan sebagai Kantor Pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Lawang Sewu dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 m2.
Bangunan utama dimulai pada 27 Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907. Sedangkan bangunan tambahan dibangun sekitar 1916 dan selesai 1918. "Di sini masih ada kamar kecil peninggalan Belanda. Masih asli. Wastafel dari Belanda. Identik bangunan ini ada bata cokelat. Semua bahan bangunan Lawang Sewu dari Belanda. Lantai masih asli dari Belanda," ungkap seorang pemandu wisata Hariyono.
Dirancang Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, arsitek dari Amsterdam, saat ini Lawang Sewu dimanfaatkan sebagai museum yang menyajikan beragam koleksi dari masa ke masa perkeretaapian di Indonesia. Koleksi yang dipamerkan antara lain koleksi alkmaar, mesin edmonson, mesin hitung, mesin tik, replika lokomotif uap, surat berharga dan lain-lain.
Tidak hanya pada pengunjung, petugas Lawang Sewu juga wajib menerapkan protokol kesehatan. Lawang Sewu merupakan gedung bersejarah milik PT KAI (Persero) yang awalnya digunakan sebagai Kantor Pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Lawang Sewu dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 m2.

Bangunan utama dimulai pada 27 Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907. Sedangkan bangunan tambahan dibangun sekitar 1916 dan selesai 1918. "Di sini masih ada kamar kecil peninggalan Belanda. Masih asli. Wastafel dari Belanda. Identik bangunan ini ada bata cokelat. Semua bahan bangunan Lawang Sewu dari Belanda. Lantai masih asli dari Belanda," ungkap seorang pemandu wisata Hariyono.
Dirancang Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, arsitek dari Amsterdam, saat ini Lawang Sewu dimanfaatkan sebagai museum yang menyajikan beragam koleksi dari masa ke masa perkeretaapian di Indonesia. Koleksi yang dipamerkan antara lain koleksi alkmaar, mesin edmonson, mesin hitung, mesin tik, replika lokomotif uap, surat berharga dan lain-lain.
Lihat Juga :