Ini Tips Pola Diet Cerdas dan Sederhana saat Pandemi
Minggu, 31 Januari 2021 - 13:06 WIB
loading...
A
A
A
"Contohnya jika yang melakukan program diet memiliki penyakit diabetes dengan obesitas, maka karbohidratnya harus dibatasi. Diabetes dengan gangguan ginjal harus dibatasi asupan proteinnya. Jadi perlu penyesuaian untuk setiap orang saat melakukan diet," tegas dr. Christopher.
Dokter Christopher mengingatkan, dalam hal asupan yang seimbang, setiap orang memiliki kebutuhan kalori yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu pertama faktor usia, semakin bertambah usia maka kebutuhan kalorinya semakin berkurang. Kedua faktor jenis kelamin, di mana pria lebih besar kebutuhan kalorinya meskipun pria lebih mudah berdiet.
Ketiga faktor tinggi badan, di mana orang dengan tinggi badan lebih akan lebih besar membutuhkan kalori. Lalu keempat faktor aktivitas fisik, seseorang dengan mayoritas aktivitas di luar dan pekerja di dalam ruangan jelas berbeda kebutuhan kalorinya. Dengan sejumlah faktor tersebut, maka pelaksanaan diet tetap mengacu pada keseimbangan pola asupan karbohidrat, protein, dan lemak yang menyesuaikan kebutuhan.
Menurut dr. Christopher, kebiasaan masyarakat di Indonesia cenderung mengonsumsi karbohidrat berlebihan berdasarkan rasa kenyang yang diperoleh guna mendapatkan energi dominan. Namun hal tersebut dinilai salah dan dapat mengganggu pola diet.
"Karbohidrat memang penting dikonsumsi karena diperlukan untuk fungsi otak dan sel darah merah, tapi tidak boleh berlebihan. Karena itu akan berefek pada obesitas yang merupakan peradangan yang lebih rentan ke beberapa penyakit. Misalnya gangguan pernapasan dan risiko pada pencernaan," sebutnya.
Dokter Christopher mengingatkan, dalam hal asupan yang seimbang, setiap orang memiliki kebutuhan kalori yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu pertama faktor usia, semakin bertambah usia maka kebutuhan kalorinya semakin berkurang. Kedua faktor jenis kelamin, di mana pria lebih besar kebutuhan kalorinya meskipun pria lebih mudah berdiet.
Ketiga faktor tinggi badan, di mana orang dengan tinggi badan lebih akan lebih besar membutuhkan kalori. Lalu keempat faktor aktivitas fisik, seseorang dengan mayoritas aktivitas di luar dan pekerja di dalam ruangan jelas berbeda kebutuhan kalorinya. Dengan sejumlah faktor tersebut, maka pelaksanaan diet tetap mengacu pada keseimbangan pola asupan karbohidrat, protein, dan lemak yang menyesuaikan kebutuhan.
Menurut dr. Christopher, kebiasaan masyarakat di Indonesia cenderung mengonsumsi karbohidrat berlebihan berdasarkan rasa kenyang yang diperoleh guna mendapatkan energi dominan. Namun hal tersebut dinilai salah dan dapat mengganggu pola diet.
"Karbohidrat memang penting dikonsumsi karena diperlukan untuk fungsi otak dan sel darah merah, tapi tidak boleh berlebihan. Karena itu akan berefek pada obesitas yang merupakan peradangan yang lebih rentan ke beberapa penyakit. Misalnya gangguan pernapasan dan risiko pada pencernaan," sebutnya.
Lihat Juga :