Kualitas Kesehatan Anak-Anak Pengaruhi Masa Depan Indonesia
Jum'at, 19 Februari 2021 - 13:24 WIB
loading...
Selain berdampak pada pertumbuhan fisik anak, kekurangan zat besi turut pengaruhi 5 aspek tumbuh kembang anak, yakni kognitif, fisik, emosi, sosial dan bahasa. / Foto: ilustrasi/ist
A
A
A
JAKARTA - Indonesia memiliki mimpi untuk menjadi negara maju pada perayaan HUT Kemerdekaan ke-100 pada 2045. Namun, hal tersebut bergantung pada kualitas anak-anak Indonesia yang saat ini masih balita .
Baca juga: Ini Dia Obat Rumahan yang Efektif Sembuhkan Ruam Popok Secara Alami
Sayangnya, satu dari tiga anak Indonesia berusia di bawah lima tahun tercatat mengalami anemia (Riskesdas 2018), di mana 50-60% kejadian anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi (Grantham-McGregor S, 2010). Isu kesehatan ini dapat berdampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak dan tentunya memengaruhi kualitas Generasi Emas Indonesia.
President of Indonesian Nutrition Association (INA), yang juga Dokter Spesialis Gizi Klinis, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK, menjelaskan bahwa kekurangan zat besi dapat menyebabkan anak kurang konsentrasi dan fokus, serta sulit bersosialisasi.
"Kekurangan zat besi pada anak berpotensi menghambat pertumbuhan kognitif, motorik, sensorik, dan sosial anak. Jika tidak ditangani secara tepat, dampaknya bisa jadi permanen," ucap dr Luciana dalam peluncuran SGM Eksplor Pro-gress Maxx secara virtual, Kamis (18/2).
Menurutnya, hal tersebut dapat dicegah dengan memberikan makanan yang kaya zat besi seperti daging merah, hati, ikan, ayam, bayam, dan susu. "Selain itu memberikan makanan yang mengandung vitamin C juga penting untuk mendukung penyerapan zat besi," ujar Dr. Luciana.
Selain berdampak pada pertumbuhan fisik anak, kekurangan zat besi turut memengaruhi lima aspek tumbuh kembang anak , yakni kognitif, fisik, emosi, sosial dan bahasa.
Baca juga: Ini Dia Obat Rumahan yang Efektif Sembuhkan Ruam Popok Secara Alami
Sayangnya, satu dari tiga anak Indonesia berusia di bawah lima tahun tercatat mengalami anemia (Riskesdas 2018), di mana 50-60% kejadian anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi (Grantham-McGregor S, 2010). Isu kesehatan ini dapat berdampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak dan tentunya memengaruhi kualitas Generasi Emas Indonesia.
President of Indonesian Nutrition Association (INA), yang juga Dokter Spesialis Gizi Klinis, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK, menjelaskan bahwa kekurangan zat besi dapat menyebabkan anak kurang konsentrasi dan fokus, serta sulit bersosialisasi.
"Kekurangan zat besi pada anak berpotensi menghambat pertumbuhan kognitif, motorik, sensorik, dan sosial anak. Jika tidak ditangani secara tepat, dampaknya bisa jadi permanen," ucap dr Luciana dalam peluncuran SGM Eksplor Pro-gress Maxx secara virtual, Kamis (18/2).
Menurutnya, hal tersebut dapat dicegah dengan memberikan makanan yang kaya zat besi seperti daging merah, hati, ikan, ayam, bayam, dan susu. "Selain itu memberikan makanan yang mengandung vitamin C juga penting untuk mendukung penyerapan zat besi," ujar Dr. Luciana.
Selain berdampak pada pertumbuhan fisik anak, kekurangan zat besi turut memengaruhi lima aspek tumbuh kembang anak , yakni kognitif, fisik, emosi, sosial dan bahasa.
Lihat Juga :