Kanker Terus Mengancam

Kamis, 25 Februari 2021 - 06:13 WIB
loading...
Kanker Terus Mengancam
Penyakit kanker masih menjadi ancaman bagi masyarakat. FOTO/WIN CAHYONO
A A A
JAKARTA - Di tengah wabah Covid-19 , penyakit kanker menjadi ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat. Selama 2020 saja, tercatat sebanyak 400.000 kasus kanker baru di Indonesia.

Mengacu pada laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (The International Agency for Research on Cancer/IARC) yang terbit Desember 2020 lalu, Indonesia tercatat sebagai negara ke-8 penderita kanker terbanyak di dunia yang mencapai hampir 400.000 kasus selama 2020 dimana 54 persen kasus di antaranya menimpa perempuan.

Disebutkan pula bahwa kanker payudara, mulut rahim (serviks), dan rahim (ovarium) adalah jenis kanker tertinggi yang banyak menimpa perempuan, sementara kanker kasus kanker paru-paru, prostat, hati, dan usus besar (kolorektal) kebanyakan menimpa laki-laki.

Baca juga: Masa Pandemi, Penyitas Kanker Harus Memperhatikan Asupan Nutrisi

Hal itu mengemuka dalam diskusi virtual tentang seluk beluk penyakit kanker yang digelar oleh Parkway Cancer Center (PCC) beberapa waktu lalu. Menurut Senior Consultant Medical Oncology PCC, Dr Wong Ciung Ing dengan tingkat kematian mencapai 59 persen, sangatlah penting untuk mengetahui seluk beluk tentang kanker, penyebab, tanda kemunculan dan gejala, serta bentuk pengobatannya.

Terlebih, tidak ada penyebab pasti seseorang menderita kanker. Terjadinya kanker umumnya dikaitkan dengan berbagai alasan mulai dari profil genetik individu hingga kebiasaan gaya hidup seperti merokok. Mengenali tanda dan gejala serta diagnosis yang tepat sejak dini dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam penanganan kanker.

"Kanker payudara masih mendominasi kasus kanker di Indonesia, terhitung 20 persen dari kasus yang menyerang wanita. Wanita perlu dididik tentang tanda dan gejala kanker payudara," tutur Dr Wong.

Baca juga: Bams Eks Band Samson Mengaku Mengidap Kanker Kulit dan Otot

Ahli diagnosis dan pengobatan kanker pada orang dewasa dengan minat khusus kanker payudara dan ginekologi itu memaparkan, dalam beberapa kasus, tanda dan gejala kanker payudara di antaranya benjolan di payudara, inversi puting susu atau perubahan kulit yang tidak normal. Sebagian besar kanker payudara juga ditemukan saat masih terlokalisasi di payudara dan kelenjar getah bening di ketiak pada sisi yang sama.

"Kanker payudara pada fase lebih dini dapat diobati secara efektif dan berpotensi dapat disembuhkan dengan operasi, kemoterapi, terapi hormonal, terapi bertarget, dan radioterapi," terangnya.Selain kanker payudara, lanjut Dr Wong, kanker serviks juga menjadi ancaman lain bagi perempuan. Kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus (HPV) dan terjadi di jaringan serviks (organ yang menghubungkan rahim dan vagina).

Dr Wong menjelaskan, infeksi HPV umumnya terjadi akibat aktivitas seksual dimana 80 persen atau 90 persen infeksi bersifat sementara dan sebagian kecil kasus dapat memicu pertumbuhan abnormal pada sel-sel lapisan dalam.

"Sel-sel ini kemudian dapat berkembang menjadi prakanker, yakni perubahan prainvasif yang disebut CIN (cervical intraepithelial beoplasia) yang pada akhirnya dapat menyebabkan kanker invasif," jelas pemegang gelar Sarjana Kedokteran, Sarjana Bedah (MB ChB) dari University of Manchester di Inggris itu.

Jenis kanker lain yang juga terus meningkat jumlahnya adalah kanker paru. Data terbaru menyebutkan bahwa angka kunjungan pasien kanker paru pada pusat rujukan respirasi nasional meningkat hampir 10 kali lipat dibanding 15 tahun lalu.

Baca juga: Waspada Fenomena Long COVID-19, Berikut Penjelasan PDPI

Data Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyebutkan bahwa insiden tertinggi di Indonesia adalah pada laki-laki dan 11,2% pada perempuan. Bagi pasien kanker paru, angka ini merupakan perjalanan hidup berliku yang harus dilalui dengan kesakitan.

Belum cukup dengan itu, pasien juga harus menghadapi beban psikososial dan ekonomi yang berdampak pada keluarga, bahkan ekonomi negara. Hingga kini pemerintah masih terus mengupayakan menekan prevalensi kanker paru melalui optimalisasi fasilitas kesehatan dan pengobatan.

Dr dr Agus Dwi Susanto SpP (K) FAPSR FISR selaku Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengungkapkan, lebih dari 80% pasien kanker paru datang setelah stadium lanjut atau stadium IV. “Dibutuhkan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat luas terkait deteksi dini dan pengobatan kanker paru,” kata dr Agus.

Terkait itu, dr Elisna Syahruddin PhD SpP (K), Ketua Pokja Kanker Paru PDPI, menambahkan, usaha yang paling penting adalah pengendalian faktor risiko yang perlu ditingkatkan secara masif agar dapat menurunkan jumlah kasus baru beberapa tahun kedepannya. “Tentu pasien perlu mendapatkan pengobatan segera,” kata dr Elisna.

Modalitas pengobatan/terapi kanker paru ditentukan jenis sel kanker, stadium penyakit saat ditemukan, dan kondisi pasien. Saat ini tidakada masalah untuk pilihan pengobatan kanker paru. Standar pengobatan di Indonesia maju dan setara dengan pedoman pengobatan internasional.

Modalitas terapi, di antaranya operasi, terapi radiasi, kemoterapi, terapi target, dan imunoterapi, dapat diberikan, meski jenis pengobatan terapi target dan imunoterapi perlu dilakukan pemeriksaan khusus, yaitu bio molekuler marker.

Menurut dr Elisna, standar pengobatan kanker paru terkini bisa lebih spesifik dan diharapkan akan meningkatkan harapan hidup pasien dengan efek samping lebih ringan. “Terpenting, keseluruhan pengobatan ini dapat dilakukan di Indonesia,” ucapnya.

Masyarakat sebetulnya juga membutuhkan informasi tentang kanker, khususnya kanker paru, seperti faktor risiko, gejala, serta diagnosis dan metode pengobatan yang sesuai dengan pedoman penatalaksanaannya. Hal ini bertujuan meluruskan mitos yang selama ini berkembang di masyarakat.

“Ini mendorong kami sebagai wadah pasien/penyintas kanker untuk bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mencanangkan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP),” tutur Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Umum Cancer Information and Support Center(CISC).

Dia melanjutkan, ke depannya IPKP akan mengajak semua pihak menyelenggarakan upaya penanggulangan kanker paru. Dengan adanya gerakan nasional ini, diharapkan masyarakat dapat berpartisipasi dan memberikan dukungan serta suara aktif dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat kanker paru di Indonesia.

Kanker prostat juga kini terus meningkat kasusnya. Ini merupakan jenis kanker dengan jumlah angka kejadian terbanyak ke-4 di seluruh dunia dan menempati urutan ke-2 kanker yang diderita oleh pria setelah kanker paru. Berdasarkan Global Cancer Statistics 2018, diperkirakan sebanyak 1,2 juta kasus baru muncul di seluruh dunia dan 359.000 kematian disebabkan oleh kanker prostat.

Kondisi ini terjadi karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kanker prostat dan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan dini, terutama pada populasi risiko tinggi. Kanker prostat merupakan kanker yang terjadi di prostat, sebuah kelenjar kecil berbentuk buah kenari pada pria yang menghasilkan cairan mani sebagai pemberi makan dan pengangkut sperma.

Kanker ini adalah salah satu jenis kanker yang paling umum. Banyak kanker prostat tumbuh perlahan dan terbatas pada kelenjar prostat, di mana mereka mungkin tidak menyebabkan kerusakan yang serius. Namun, sementara beberapa jenis kanker prostat tumbuh lambat dan mungkin memerlukan sedikit atau bahkan tanpa pengobatan, jenis lain bisa jadi bersifat agresif dan dapat menyebar dengan cepat. Karena itu kanker prostat dapat mengancam jiwa laki-laki.

Di Indonesia, kanker prostat menempati urutan ke-4 dengan jumlah penderita diperkirakan mencapai 25.012 orang. Sebagian besar pasien didiagnosis pada stadium lanjut karena deteksi dini kasus kanker prostat belum optimal di Indonesia. Padahal, pasien kanker prostat yang didiagnosis dan ditatalaksana pada stadium dini memiliki angka harapan hidup selama 10 tahun dan mencapai di atas 90%.

"Angka ini dapat turun hingga 50% apabila ditemukan pada stadium lanjut. Oleh karena itu, program deteksi dini yang lebih baik dan efisien perlu ditingkatkan,” jelas dokter spesialis konsultan uro-onkologi Siloam Hospitals ASRI dr. Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid, Sp.U (K), PhD.

Adapun faktor risiko kanker prostat diantaranya usia yang semakin tua. Penyakit ini paling umum terjadi setelah usia 50 tahun. Kemudian ras, untuk alasan yang belum ditentukan, orang kulit hitam memiliki risiko lebih besar terkena kanker prostat daripada orang dari ras lain. Pada orang kulit hitam, kanker prostat juga lebih cenderung menjadi agresif atau lanjut.

Sejarah keluarga juga menjadi faktor risiko, jika saudara sedarah, seperti orang tua, saudara kandung atau anak, telah didiagnosis menderita kanker prostat, risiko seseorang mengalaminya akan meningkat. Selain itu, jika memiliki riwayat keluarga dengan gen yang meningkatkan risiko kanker payudara (BRCA1 atau BRCA2) atau riwayat keluarga kanker payudara yang sangat kuat, risiko seorang laki-laki terkena kanker prostat bisa jadi lebih tinggi.
(ynt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Aturan Baru BPJS Kesehatan...
Aturan Baru BPJS Kesehatan per 1 Juni 2026, Kontrol Harus Sesuai Tanggal Surat
Isu Semprot Parfum di...
Isu Semprot Parfum di Leher Sebabkan Kanker dan Tiroid Ternyata Mitos, Ini Kata Dokter
Tips Sate Sehat Anti...
Tips Sate Sehat Anti Kanker ala Menkes, Cocok untuk Olahan Daging Kurban
Angka Kasus Kanker Tembus...
Angka Kasus Kanker Tembus 408 Ribu, Teknologi SPECT/CT Pertama Hadir untuk Putus Diagnosis Stadium Lanjut
Kanker Usus Besar Mulai...
Kanker Usus Besar Mulai Serang Kalangan Anak Muda, Jangan Sepelekan Gejala Ini
Perawatan Kanker Kini...
Perawatan Kanker Kini Mengarah pada Pendekatan Individual
PDIP Ingatkan Syarat...
PDIP Ingatkan Syarat BPJS Kesehatan bagi Mahasiswa Tidak Memberatkan
PROLANIS Bantu Peserta...
PROLANIS Bantu Peserta JKN Memantau Penyakit Kronis
Dirut BPJS Kesehatan...
Dirut BPJS Kesehatan Dorong Generasi Muda Cegah DM dan Hipertensi melalui Fun Run 2026
Rekomendasi
Drawing Campus League...
Drawing Campus League Basketball The Nationals 2026: Berebut Predikat Kampus Terbaik Indonesia
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Kolaborasi Kemanusiaan,...
Kolaborasi Kemanusiaan, Polda Riau Bantu 310 Warga Ikut Operasi Katarak Gratis
Berita Terkini
Liburan Sekolah Penuh...
Liburan Sekolah Penuh dengan Keseruan: Menjelajahi Pesona Malaysia, Singapura & Thailand
Sinopsis Sinetron Terikat...
Sinopsis Sinetron 'Terikat Janji' Eps 62: Dipa Terus Memprovokasi Novan, Sementara Davina Merasakan Firasat Buruk
Shopee Campus Cup Diperpanjang!...
Shopee Campus Cup Diperpanjang! Waktunya All Out & Kumpulkan Poin untuk Bawa Kampus Kamu Jadi Juara!
Kini Merawat Kulit Jadi...
Kini Merawat Kulit Jadi Lebih Personal, Teknologi EXO3 Siap Manjakan Kulitmu dari Rumah
Pesan Menyentuh Ruben...
Pesan Menyentuh Ruben Onsu untuk Anak di Hari Ulang Tahun, Singgung Kenangan yang Masih Disimpan
Sarwendah Minta Maaf...
Sarwendah Minta Maaf usai Video Kontroversial Viral, Akui Ucapannya Kurang Tepat
Infografis
Alfamart Tutup 400 Gerai,...
Alfamart Tutup 400 Gerai, Sementara Warung Madura Terus Ekspansi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved