GOR Saparua dan Sejarah Pergerakan Musik Bawah Tanah di Bandung
Jum'at, 02 April 2021 - 19:07 WIB
loading...
A
A
A
Alvin menambahkan, Gedung Saparua berhasil melahirkan ideologi baru di kalangan budaya pop musik keras dan metal, yang juga menciptakan sebuah pergerakan musik tersebut. "Sebuah pergerakan yang mampu membawa gedung ini sebagai salah satu kuil rock n roll dalam sejarah scene musik underground di Indonesia," terangnya.
Ketika menjalani proses persiapan sampai akhirnya proses syuting, Alvin menyebut hal yang paling sulit dan menantang dikerjakan timnya adalah arsip dokumentasi yang sulit ditemukan, khususnya pada era 1980-an dan 1990-an. "Sejujurnya mencari arsip dokumentasi ini lah pekerjaan yang paling sulitnya. Karena kelemahannya di Indonesia bicara soal arsip nyari yang 1980 sampai 1990-an. Walaupun saya sama Khemod ngalamin juga, tapi susah. Enggak tahu kenapa justru 1980-an sampai 1990-an," ucapnya.
Creative Director Cerahati, Edy Khemod menuturkan, inisiatif proyek film dokumenter tersebut awalnya ingin merekam sejarah pergerakan musik rock dan metal di Indonesia. "Proyek ini inisiatif dari pihak Cerahati, Arian13 dan Roni Pramaditia. Kami sama-sama berasal dari Bandung, dan turut merasakan pertumbuhan budaya di Bandung era 1990-an saat gerakan independen mulai membesar di Bandung," kata dia.
"Kami punya kesadaran bahwa dokumentasi, terutama musik keras dan independen itu kurang banget dulu. Penyebabnya dimulai dari keterbatasan alat, padahal yang terjadi pada saat itu sangat menarik, banyak pelajaran yang bisa diambil dan itu yang menarik buat kami," lanjutnya.
Bagi pria yang juga penabuh drum band Seringai ini, Gelora Magnumentary: Saparua sangat penting disaksikan, karena ingin menyampaikan ke khalayak, bahwa akar dari berkembangnya musik rock dan metal di Bandung berawal dari GOR Saparua. "Bahwa pergerakan musik independen saat itu memulai tidak atas dasar ekonomi tapi passion atas musiknya. Hal ini penting agar generasi ke depan tidak melulu berorientasi ada kesuksesan ekonomi," kata Edy Khemod.
Ketika menjalani proses persiapan sampai akhirnya proses syuting, Alvin menyebut hal yang paling sulit dan menantang dikerjakan timnya adalah arsip dokumentasi yang sulit ditemukan, khususnya pada era 1980-an dan 1990-an. "Sejujurnya mencari arsip dokumentasi ini lah pekerjaan yang paling sulitnya. Karena kelemahannya di Indonesia bicara soal arsip nyari yang 1980 sampai 1990-an. Walaupun saya sama Khemod ngalamin juga, tapi susah. Enggak tahu kenapa justru 1980-an sampai 1990-an," ucapnya.
Creative Director Cerahati, Edy Khemod menuturkan, inisiatif proyek film dokumenter tersebut awalnya ingin merekam sejarah pergerakan musik rock dan metal di Indonesia. "Proyek ini inisiatif dari pihak Cerahati, Arian13 dan Roni Pramaditia. Kami sama-sama berasal dari Bandung, dan turut merasakan pertumbuhan budaya di Bandung era 1990-an saat gerakan independen mulai membesar di Bandung," kata dia.
"Kami punya kesadaran bahwa dokumentasi, terutama musik keras dan independen itu kurang banget dulu. Penyebabnya dimulai dari keterbatasan alat, padahal yang terjadi pada saat itu sangat menarik, banyak pelajaran yang bisa diambil dan itu yang menarik buat kami," lanjutnya.
Bagi pria yang juga penabuh drum band Seringai ini, Gelora Magnumentary: Saparua sangat penting disaksikan, karena ingin menyampaikan ke khalayak, bahwa akar dari berkembangnya musik rock dan metal di Bandung berawal dari GOR Saparua. "Bahwa pergerakan musik independen saat itu memulai tidak atas dasar ekonomi tapi passion atas musiknya. Hal ini penting agar generasi ke depan tidak melulu berorientasi ada kesuksesan ekonomi," kata Edy Khemod.
Lihat Juga :