GOR Saparua dan Sejarah Pergerakan Musik Bawah Tanah di Bandung
Jum'at, 02 April 2021 - 19:07 WIB
loading...
Kisah GOR Saparua Bandung yang menjadi tempat bersejarah perjalanan musik cadas di Kota Kembang akan ditampilkan dalam sebuah bentuk film dokumenter. / Foto: Thomas Manggalla
A
A
A
JAKARTA - Kisah GOR Saparua Bandung yang menjadi tempat bersejarah perjalanan musik keras atau rock dan metal di Kota Kembang akan ditampilkan dalam sebuah bentuk film dokumenter. Proyek tersebut akan terangkum dalam dokumenter berjudul Gelora Magnumentary: Saparua.
Baca juga: Benarkah Vaksin Covid-19 Bisa Bikin Mandul? Begini Penjelasan dr. Tirta!
Film dokumenter Gelora Magnumentary: Saparua itu sendiri digagas oleh Cerahati, Arian13 dan Roni Pramaditia dengan menggandeng Rich Music sebagai bagian dari program Distorsi Keras.
Sutradara Gelora Magnumentary: Saparua, Alvin Yunata menyebutkan bahwa film tersebut merupakan sebuah jurnal dari gedung yang dengan sengaja dialihfungsikan sebagai sarana seni dan hiburan dari lintas generasi. GOR Saparua, kata dia, merupakan satu tempat bersejarah bagi perjalanan kancah musik independen dan underground di Bandung.
"Namun ada fenomena menarik di dekade terakhir sebelum gedung ini dinonaktifkan, yaitu lahirnya sebuah generasi yang menjunjung tinggi kolektivitas. Di mana mereka bisa mengubah gedung ini bukan lagi menjadi sekadar gedung pertunjukan seni namun lebih dari itu," ungkap Alvin Yunata, yang juga gitaris Teenage Death Star, penggiat musik, dan mantan jurnalis saat jumpa pers virtual, belum lama ini.
Baca juga: Benarkah Vaksin Covid-19 Bisa Bikin Mandul? Begini Penjelasan dr. Tirta!
Film dokumenter Gelora Magnumentary: Saparua itu sendiri digagas oleh Cerahati, Arian13 dan Roni Pramaditia dengan menggandeng Rich Music sebagai bagian dari program Distorsi Keras.
Sutradara Gelora Magnumentary: Saparua, Alvin Yunata menyebutkan bahwa film tersebut merupakan sebuah jurnal dari gedung yang dengan sengaja dialihfungsikan sebagai sarana seni dan hiburan dari lintas generasi. GOR Saparua, kata dia, merupakan satu tempat bersejarah bagi perjalanan kancah musik independen dan underground di Bandung.
"Namun ada fenomena menarik di dekade terakhir sebelum gedung ini dinonaktifkan, yaitu lahirnya sebuah generasi yang menjunjung tinggi kolektivitas. Di mana mereka bisa mengubah gedung ini bukan lagi menjadi sekadar gedung pertunjukan seni namun lebih dari itu," ungkap Alvin Yunata, yang juga gitaris Teenage Death Star, penggiat musik, dan mantan jurnalis saat jumpa pers virtual, belum lama ini.
Lihat Juga :