Dari Perbudakan hingga Jaring Pembunuh, Ini Fakta Mengerikan Industri Perikanan dalam Film 'Seaspiracy'
Jum'at, 02 April 2021 - 19:30 WIB
loading...
A
A
A
Akhir-akhir ini orang secara masif menyerukan tentang larangan penggunaan sedotan plastik dan barang berbahan dasar plastik untuk menjaga limbahnya tak sampai ke lautan. Hal itu merupakan langkah awal yang baik. Namun ternyata terdapat salah satu ancaman yang paling besar.
Sampah terbesar yang mengancam lautan adalah jaring nelayan. Setiap nelayan berburu, mereka membentangkan jaring berbahan senar yang jika diakumulasi dapat melilit permukaan Bumi sebanyak 500 kali dalam sehari.
Baca Juga: Rekomendasi Buku dari Barack Obama, dari Fiksi hingga Autobiografi
Seorang jurnalis, George Monbiot, mengatakan, “Di Pulau Sampah Pasifik Besar, 40% sampah terbanyaknya adalah jaring ikan. Setiap selesai memancing, nelayan akan membuangnya ke laut. Sampah ini menjadi ancaman besar untuk satwa.”
Enam dari spesies penyu terancam punah karena mereka secara tidak sengaja terlilit jaring yang dipakai oleh nelayan. Terdapat studi yang memperkirakan 1.000 penyu mati karena plastik setiap tahunnya. Padahal, menurut Sea Turtle Conservancy , di Amerika saja terdapat 250.000 penyu yang terluka dan mati karena ikut terjerat penangkapan ikan.
3. SUSTAINABLE FISHING YANG TAK ADA ARTINYA
![Dari Perbudakan hingga Jaring Pembunuh, Ini Fakta Mengerikan Industri Perikanan dalam Film 'Seaspiracy']()
Menurut Fishcount, industri perikanan menangkap setidaknya 2,7 triliun ikan setiap tahun, artinya sebanyak lima juta ikan terbunuh tiap menitnya. Bahkan, Cornelia Dean melaporkan apabila tren penangkapan ikan secara masif terus berlangsung, maka pada 2048 lautan akan hampir kosong.
Flora di laut per hektarenya dapat menyerap lebih banyak karbon, yaitu 20 lipatnya daripada hutan di darat, bahkan 93% karbon dioksida diserap oleh lautan. Menurut Richard Oppenlander, dengan terus mengambil ikan dari lautan, pada dasarnya sama dengan menggunduli lautan.
Faktanya, jaring pukat merupakan salah satu metode penangkapan ikan dengan risiko kerusakan terbesar. Metode kerjanya adalah seperti buldozer yang akan meratakan permukaan laut sembari menangkap ikan-ikan dalam jumlah besar.
Setiap tahunnya, penggunaan metode jaring pukat dapat menyapu sebesar 3,9 miliar hektare area lautan. Hal tersebut setara dengan kehilangan 4.136 lapangan sepak bola setiap menitnya.
Banyak LSM yang mengampanyekan untuk beralih ke penangkapan ikan berkelanjutan (sustainable fishing) seperti OCEANA. Saat Ali mewawancarainya, mereka justru kebingungan akan makna sebenarnya dari penangkapan ikan berkelanjutan yang dikampanyekan.
Budi daya ikan dengan tambak juga menjadi masalah. Seperti pada Skotlandia yang menggunakan metode tersebut untuk salmon. Namun, kenyataannya ikan-ikan tersebut justru mati karena terserang penyakit seperti kutu laut. Pada akhirnya, ikan-ikan itu terbuang dengan sia-sia.
4. PERBUDAKAN KEJAM YANG DIALAMI PEKERJA THAILAND
Sampah terbesar yang mengancam lautan adalah jaring nelayan. Setiap nelayan berburu, mereka membentangkan jaring berbahan senar yang jika diakumulasi dapat melilit permukaan Bumi sebanyak 500 kali dalam sehari.
Baca Juga: Rekomendasi Buku dari Barack Obama, dari Fiksi hingga Autobiografi
Seorang jurnalis, George Monbiot, mengatakan, “Di Pulau Sampah Pasifik Besar, 40% sampah terbanyaknya adalah jaring ikan. Setiap selesai memancing, nelayan akan membuangnya ke laut. Sampah ini menjadi ancaman besar untuk satwa.”
Enam dari spesies penyu terancam punah karena mereka secara tidak sengaja terlilit jaring yang dipakai oleh nelayan. Terdapat studi yang memperkirakan 1.000 penyu mati karena plastik setiap tahunnya. Padahal, menurut Sea Turtle Conservancy , di Amerika saja terdapat 250.000 penyu yang terluka dan mati karena ikut terjerat penangkapan ikan.
3. SUSTAINABLE FISHING YANG TAK ADA ARTINYA

Menurut Fishcount, industri perikanan menangkap setidaknya 2,7 triliun ikan setiap tahun, artinya sebanyak lima juta ikan terbunuh tiap menitnya. Bahkan, Cornelia Dean melaporkan apabila tren penangkapan ikan secara masif terus berlangsung, maka pada 2048 lautan akan hampir kosong.
Flora di laut per hektarenya dapat menyerap lebih banyak karbon, yaitu 20 lipatnya daripada hutan di darat, bahkan 93% karbon dioksida diserap oleh lautan. Menurut Richard Oppenlander, dengan terus mengambil ikan dari lautan, pada dasarnya sama dengan menggunduli lautan.
Faktanya, jaring pukat merupakan salah satu metode penangkapan ikan dengan risiko kerusakan terbesar. Metode kerjanya adalah seperti buldozer yang akan meratakan permukaan laut sembari menangkap ikan-ikan dalam jumlah besar.
Setiap tahunnya, penggunaan metode jaring pukat dapat menyapu sebesar 3,9 miliar hektare area lautan. Hal tersebut setara dengan kehilangan 4.136 lapangan sepak bola setiap menitnya.
Banyak LSM yang mengampanyekan untuk beralih ke penangkapan ikan berkelanjutan (sustainable fishing) seperti OCEANA. Saat Ali mewawancarainya, mereka justru kebingungan akan makna sebenarnya dari penangkapan ikan berkelanjutan yang dikampanyekan.
Budi daya ikan dengan tambak juga menjadi masalah. Seperti pada Skotlandia yang menggunakan metode tersebut untuk salmon. Namun, kenyataannya ikan-ikan tersebut justru mati karena terserang penyakit seperti kutu laut. Pada akhirnya, ikan-ikan itu terbuang dengan sia-sia.
4. PERBUDAKAN KEJAM YANG DIALAMI PEKERJA THAILAND

Lihat Juga :