Peran Bidan Penting untuk Cegah Stunting

loading...
Peran Bidan Penting untuk Cegah Stunting
Foto Ilustrasi/Oladoc.com
JAKARTA - Indonesia, sebagaimana diketahui, hingga saat ini masih tercatat sebagai negara dengan literasi gizi masyarakat yang rendah. Oleh karena itu, upaya-upaya peningkatan pengetahuan gizi masyarakat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya adalah peran serta bidan.

Sebagai garda terdepan masyarakat dalam memberikan edukasi tentang gizi, bidan diharapkan dapat ikut serta memberikan edukasi gizi kepada masyarakat.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Tangsel Eni Rohaeni mengatakan, bidan merupakan ujung tombak bagi optimalisasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). "Apa yang disampaikan bidan kepada masyarakat berperan penting dalam edukasi gizi untuk keluarga, guna menghindari kesalahan pengasuhan anak," jelas Eni dalam webinar yang diselenggarakan IBI Tangsel bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), belum lama ini.

Menurut Eni, salah satu kesalahan pengasuhan anak yang jarang disadari masyarakat adalah konsumsi kental manis pada balita. “Susu kental manis atau yang lebih populer dengan sebutan “susu kaleng” masih banyak diberikan oleh orangtua sebagai minuman susu untuk balita,” ujarnya.

Eni berharap bidan lebih memiliki pemahaman mengenai susu sebagai sumber gizi dan mewaspadai konsumsi kental manis oleh masyarakat di sekitarnya.



Dokter Spesialis Anak yang tergabung dalam IDAI Banten Dr. dr TB Rachmat Sentika menjelaskan, ingredient susu kental manis berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG) yang tertera pada label mengandung banyak gula. “Setiap 100 cc susu kental manis terdapat 54 gram gula dari setiap 100 cc. Setelah dikalorikan, berarti total karbodhidratnya akan menjadi 72%, padahal proporsi karbodhirat dalam makanan kita sebaiknya hanya 1/3," katanya.

“Jadi saya tegaskan lagi, susu kental manis dilarang buat anak. Selanjutnya tidak ada lagi bidan-bidan yang menyarankan dan memberikan kental manis untuk anak,” tandas dr Rachmat.

Sebelumnya, dalam penelitian yang dilakukan oleh YAICI bersama PP Aisyiyah dan PP Muslimat NU terkait penggunaan susu kental manis bagi balita di 5 provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, dan Maluku, ditemukan 1 dari 4 anak bayi di bawah lima tahun (balita) masih meminum kental manis setiap hari. Selain itu, ditemukan juga fakta bahwa informasi kental manis sebagai minuman susu untuk anak diperoleh masyarakat dari bidan.
(tsa)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top