Menginfeksi Lebih dari 8.800 Orang di India, Ini Bahaya Jamur Hitam yang Mematikan!
Kamis, 27 Mei 2021 - 12:30 WIB
loading...
A
A
A
Prof Beri melanjutkan, apakah artinya orang dengan lupus, HIV/AIDS, diabetes, dan kanker mudah terinfeksi jamur? Jawabannya iya. Sebab, jamur menyerang orang yang kekebalan tubuhnya rendah.
"Di tempat praktik, saya sering menemukan jamur Candida pada orang dengan lupus. Demikia pula pasien kanker," katanya.
Lalu, bagaimana sebetulnya karakter jamur hitam ini?
"Sebetulnya si jamur ini teman bagi tubuh manusia, tapi karena dia menginfeksi secara oportunis, maka ketika tubuh lagi lemah, ya, dia akan jadi jahat. Bisa merusak organ tubuh," jawab Prof Beri.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah ada obatnya di Indonesia? Prof Beri pun mengatakan ada, namanya Amphotericin B. "Dulu, pada era HIV/AIDS sedang menjadi isu besar dan belum ada obat Antiretroviral (ARV), jamur itu jadi sosok yang menakutkan. Saat itu pasien HIV/AIDS banyak memakai obat Ketoconazole, Itraconazole, termasuk Amphotericin B," kata Prof Beri.
Lantas, apa hubungannya dengan Covid-19?
"Pasien Covid-19 itu mendapatkan obat dalam penanganannya. Misalnya obat antibiotik. Nah, kalau terlalu lama juga bisa menyebabkan keseimbangan antara kuman dan berbagai bakteri di tubuh jadi terganggu. Sehingga, jamur yang tadinya dianggap tubuh sebagai teman dan tidak bikin sakit, malah jadi bikin sakit ketika kekebalan tubuh menurun. Bahkan, sakit parah," terangnya.
"Di tempat praktik, saya sering menemukan jamur Candida pada orang dengan lupus. Demikia pula pasien kanker," katanya.
Lalu, bagaimana sebetulnya karakter jamur hitam ini?
"Sebetulnya si jamur ini teman bagi tubuh manusia, tapi karena dia menginfeksi secara oportunis, maka ketika tubuh lagi lemah, ya, dia akan jadi jahat. Bisa merusak organ tubuh," jawab Prof Beri.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah ada obatnya di Indonesia? Prof Beri pun mengatakan ada, namanya Amphotericin B. "Dulu, pada era HIV/AIDS sedang menjadi isu besar dan belum ada obat Antiretroviral (ARV), jamur itu jadi sosok yang menakutkan. Saat itu pasien HIV/AIDS banyak memakai obat Ketoconazole, Itraconazole, termasuk Amphotericin B," kata Prof Beri.
Lantas, apa hubungannya dengan Covid-19?
"Pasien Covid-19 itu mendapatkan obat dalam penanganannya. Misalnya obat antibiotik. Nah, kalau terlalu lama juga bisa menyebabkan keseimbangan antara kuman dan berbagai bakteri di tubuh jadi terganggu. Sehingga, jamur yang tadinya dianggap tubuh sebagai teman dan tidak bikin sakit, malah jadi bikin sakit ketika kekebalan tubuh menurun. Bahkan, sakit parah," terangnya.
Lihat Juga :