Tuol Sleng Genocide Museum: Saksi Bisu Pembantaian Massal di Kamboja

Senin, 31 Mei 2021 - 22:15 WIB
loading...
A A A
Dengan dibantu oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, di Kamboja dibentuk sebuah pengadilan khusus bernama The Extraordinary Chambers in the Courts of Cambodia (ECCC). Mengutip dari United States Holocaust Memorial Museum , melalui ECCC, setidaknya ada tiga terdakwa yang dihukum.

Kendati demikian, pengadilan ini tetap mendapatkan kritik, baik dari dalam maupun luar Kamboja, karena ketidakpuasan terhadap kinerja ECCC. Pasalnya, sebelum sempat mendapat tindakan hukum, Pol Pot, pemimpin tertinggi sekaligus sosok yang menghadirkan kengerian selama bertahun-tahun, sudah meninggal terlebih dahulu.

Bahkan, ada pengikut Khmer Merah yang masih melenggang bebas dan menduduki posisi di pemerintahan Kamboja. Bagi masyarakat yang keluarganya menjadi korban S-21, tentu saja hal tersebut bukanlah hal mudah. Melihat sosok perenggut nyawa orang terkasih dapat hidup dengan tenang tanpa perasaan bersalah tentunya memberikan efek psikologis tersendiri.

Kendati demikian, pengadilan tersebut tetap dinilai efektif untuk menangani masalah S-21 dan pembantaian di Kamboja pada masa Khmer Merah. Terlepas dari upaya yang digencarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui ECCC, publik turut bahu-membahu untuk mengobati luka setelah kejadian di S-21.

Melansir dari United States Holocaust Memorial Museum , ada tiga upaya yang dilakukan oleh masyarakat secara umum, yaitu pendokumentasian, penyediaan layanan psikolog bagi para penyintas dan keluarganya, dan pemulihan kebudayaan.

Pendokumentasian dilakukan dengan didirikannya The Documentation Center of Cambodia (DC–Cam) pada tahun 1994 berkat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Sejak awal berdirinya, institusi tersebut mengumpulkan jutaan dokumen, artefak, dan berkas dari pemerintahan Kamboja, institusi di luar pemerintahan, dan donatur yang dirahasiakan.

Baca Juga: Belajar Filsafat, Beneran Jadi Atheis dan Sesat?

Pemulihan kebudayaan dilakukan dengan membuka peluang dan memberikan wadah bagi masyarakat Kamboja untuk berekspresi melalui seni. Pada masa Khmer Merah, musik tradisional dan tarian Kamboja diredam dan diganti dengan lagu-lagu propaganda berbau politik. Akan tetapi, sekarang orang-orang di Kamboja sudah lebih bebas dalam mengekspresikan dirinya melalui seni.

Yohanna Valerie Immanuella
Kontributor GenSINDO
Universitas Indonesia
Instagram: @yohannavalerie18
(ita)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Museum ITB Diresmikan,...
Museum ITB Diresmikan, Ruang Baru Membaca Masa Lalu dan Merajut Masa Depan
Prabowo: Indonesia Berada...
Prabowo: Indonesia Berada pada Persimpangan Sejarah, di Tengah Konflik Dunia
Markas Judi Online Hayam...
Markas Judi Online Hayam Wuruk Mirip di Kamboja dan Myanmar
Rekomendasi
FIFA Tepis Isu Pengaturan...
FIFA Tepis Isu Pengaturan Skor Pertandingan di Piala Dunia 2026
Kerugian Ekonomi Akibat...
Kerugian Ekonomi Akibat Obesitas Anak Capai Rp5.280 Triliun, Novo Nordisk Perluas Program Pencegahan
Mahasiswa Universitas...
Mahasiswa Universitas Paramadina Pelajari Investasi Syariah Bersama MNC Sekuritas
Berita Terkini
Datangi Bareskrim, Dude...
Datangi Bareskrim, Dude Harlino Kembalikan Uang Rp5,2 Miliar Honor PT DSI
Trisno Pas Band Abaikan...
Trisno Pas Band Abaikan Kaki Bengkak sebelum Divonis Gagal Ginjal Kronis
Trisno Pas Band Kritis,...
Trisno Pas Band Kritis, Gagal Ginjal dan Alami Sumbatan di Otak
Sinopsis Terlanjur Mencintaimu...
Sinopsis 'Terlanjur Mencintaimu' Eps 21: Elio Diam-Diam Terus Mendekati Arumi
Lewat Buku, Saddam Permana...
Lewat Buku, Saddam Permana Bongkar Kisah Masa Lalunya
Ruben Onsu Bongkar Bukti...
Ruben Onsu Bongkar Bukti Transfer Rp11,3 Miliar untuk Rumah Sarwendah
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved