Tekan Kasus Malnutrisi, Asupan Gizi Harus Dijaga Sejak Dini
Sabtu, 05 Juni 2021 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Bekerja sama dengan lembaga penelitian dan universitas di Indonesia, SEANUTS melibatkan sekitar 3 ribu anak di seluruh Indonesia dengan rentang usia 6 bulan-12 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi anak dengan menilai asupan makanan, antropometri, aktivitas fisik, dan parameter biokimia.
Peneliti Utama SEANUTS, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A (K) mengungkapkan betapa pentingnya edukasi gizi kepada masarakat dalam upaya menekan kasus malnutrisi pada anak. Hal itu menjadi demikian penting dalam rangka mencetak generasi penerus bangsa yang sehat dan berdampak pada peningkatan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia di kemudian hari.
"Definisi anak kan sejak dari dalam kandungan. Status gizi kurang pada ibu dan asupan makanan rendah gizi dapat berdampak pada saat proses kehamilan. Kondisi ini bisa menyebabkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, prematur, dan meningkatkan risiko anak mengalami gizi kurang, gizi buruk, atau pun stunting," terang Prof Rini, di Jakarta, Jumat (4/6).
Dia menyatakan bahwa anak yang terlahir dengan gizi kurang akan tumbuh menjadi remaja dengan status gizi kurang dan berpotensi kembali melahirkan anak dengan kondisi gizi kurang. "Mata rantai ini lah yang harus diputus dengan berbagai macam upaya," ucap Prof Rini.
Dia menambahkan, faktanya remaja saat ini cenderung menyukai makanan cepat saji, perihal harga yang terjangkau dan praktis. Namun, konsumsi makanan yang baik, seharusnya juga turut mempertimbangan keseimbangan nutrisinya.
Peneliti Utama SEANUTS, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A (K) mengungkapkan betapa pentingnya edukasi gizi kepada masarakat dalam upaya menekan kasus malnutrisi pada anak. Hal itu menjadi demikian penting dalam rangka mencetak generasi penerus bangsa yang sehat dan berdampak pada peningkatan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia di kemudian hari.
"Definisi anak kan sejak dari dalam kandungan. Status gizi kurang pada ibu dan asupan makanan rendah gizi dapat berdampak pada saat proses kehamilan. Kondisi ini bisa menyebabkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, prematur, dan meningkatkan risiko anak mengalami gizi kurang, gizi buruk, atau pun stunting," terang Prof Rini, di Jakarta, Jumat (4/6).
Dia menyatakan bahwa anak yang terlahir dengan gizi kurang akan tumbuh menjadi remaja dengan status gizi kurang dan berpotensi kembali melahirkan anak dengan kondisi gizi kurang. "Mata rantai ini lah yang harus diputus dengan berbagai macam upaya," ucap Prof Rini.
Dia menambahkan, faktanya remaja saat ini cenderung menyukai makanan cepat saji, perihal harga yang terjangkau dan praktis. Namun, konsumsi makanan yang baik, seharusnya juga turut mempertimbangan keseimbangan nutrisinya.
Lihat Juga :