Latih Anak Agar Mampu Mengelola Emosi, Begini Caranya
Selasa, 08 Juni 2021 - 18:18 WIB
loading...
Foto Ilustrasi/Happiest Baby
A
A
A
JAKARTA - Anak-anak memiliki beragam perasaan layaknya orang dewasa. Setiap anak juga punya karakteristik yang khas dan khusus, yang dapat membedakan mereka dengan teman seusianya.
Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada sejak bayi baru lahir seperti menangis, tersenyum, dan frustasi. Bahkan sejumlah peneliti meyakini bahwa beberapa minggu setelah lahir, bayi dapat memperlihatkan bermacam-macam ekspresi dari semua emosi dasar. Seperti kebahagiaan, perhatian, keheranan, ketakutan, kemarahan, kesedihan, dan kebosanan sesuai dengan situasinya.
Baca Juga: Si Kecil Bercita-cita Jadi Influencer? Psikolog: Orang Tua Harus Dukung
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja RS Pondok Indah Bintaro Jaya dr. Anggia Hapsari, Sp.KJ (K) mengatakan, anak-anak biasanya belum memiliki ‘vocabulary’ untuk mengemukakan perasaan, sehingga mereka mengomunikasikan perasaan mereka dengan cara-cara lain.
“Terkadang anak-anak dapat mengekspresikan perasaan mereka melalui perilaku yang tidak tepat dan menimbulkan masalah,” ucap dr. Anggia, Selasa (8/6).
Ia menuturkan, pada semua usia, kuatnya emosi positif merupakan dasar untuk penyesuaian yang baik. Bayi yang mengalami lebih banyak emosi senang meletakkan dasar-dasar untuk penyesuaian pribadi serta penyesuaian sosial yang baik, juga untuk pola-pola perilaku yang akan menimbulkan kebahagiaan.
“Setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2-6 tahun, anak-anak prasekolah sudah dapat merasakan cinta dan mempunyai kemampuan untuk menjadi anak yang penuh kasih sayang, dapat merasakan anak lain yang sedang sedih, dan mulai merasa bersimpati, ingin menolong,” papar dr. Anggia.
Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada sejak bayi baru lahir seperti menangis, tersenyum, dan frustasi. Bahkan sejumlah peneliti meyakini bahwa beberapa minggu setelah lahir, bayi dapat memperlihatkan bermacam-macam ekspresi dari semua emosi dasar. Seperti kebahagiaan, perhatian, keheranan, ketakutan, kemarahan, kesedihan, dan kebosanan sesuai dengan situasinya.
Baca Juga: Si Kecil Bercita-cita Jadi Influencer? Psikolog: Orang Tua Harus Dukung
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja RS Pondok Indah Bintaro Jaya dr. Anggia Hapsari, Sp.KJ (K) mengatakan, anak-anak biasanya belum memiliki ‘vocabulary’ untuk mengemukakan perasaan, sehingga mereka mengomunikasikan perasaan mereka dengan cara-cara lain.
“Terkadang anak-anak dapat mengekspresikan perasaan mereka melalui perilaku yang tidak tepat dan menimbulkan masalah,” ucap dr. Anggia, Selasa (8/6).
Ia menuturkan, pada semua usia, kuatnya emosi positif merupakan dasar untuk penyesuaian yang baik. Bayi yang mengalami lebih banyak emosi senang meletakkan dasar-dasar untuk penyesuaian pribadi serta penyesuaian sosial yang baik, juga untuk pola-pola perilaku yang akan menimbulkan kebahagiaan.
“Setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2-6 tahun, anak-anak prasekolah sudah dapat merasakan cinta dan mempunyai kemampuan untuk menjadi anak yang penuh kasih sayang, dapat merasakan anak lain yang sedang sedih, dan mulai merasa bersimpati, ingin menolong,” papar dr. Anggia.
Lihat Juga :