5 Filsuf Perempuan yang Jarang Diketahui, dari Eropa hingga Asia
Selasa, 15 Juni 2021 - 21:12 WIB
loading...
A
A
A

Foto:Vintage News
Ban Zhao adalah salah satu perempuan yang memiliki intelektualitas yang tinggi pada masa China Kuno. Ia menikah dengan Cao Shishu pada usianya yang baru saja 14 tahun. Namun, saat suaminya meninggal muda, ia menolak untuk menikah lagi.
Saat kakaknya sedang menulis "The Book of Han" yang sebelumnya ditulis oleh ayahnya, ia meninggal. Kemudian Ban melanjutkan penulisan untuk buku itu. Ban menulis puisi naratif, elegi, prasasti, argumen, esai. Oleh karena itu, dapat dikatakan Ban adalah pelopor bagi perempuan China untuk meraih pendidikan.
Salah satu tulisannya, yaitu "Lessons for Women" yang ditulis pada 106 M berisi tujuh bagian yang berisi tujuh topik: kerendahan hati, suami dan istri, kehormatan dan peringatan, kualitas seorang perempuan, pengabdian sepenuh hati, kepatuhan implisit, dan keharmonisan dengan adik serta ipar.
Bukunya ia tulis berdasarkan pengalaman hidupnya. Oleh karena itu, salah satu topik yang paling penting adalah soal hubungan suami dan istri. Menurutnya, suami dan istri harus saling menghormati satu sama lain. Keduanya juga bagaikan yin dan yang yang saling melengkapi.
Selain itu, pemikirannya untuk membangun hubungan dalam keluarga adalah tidak ada yang tidak salah. Menurutnya, semua orang dapat melakukan kesalahan dan harus mengakuinya. Apabila semua anggota keluarga menerapkan prinsip ini, secara otomatis akan terjalin hubungan yang harmonis.
Baca Juga: Bukan cuma Laki-laki dan Perempuan, Ini Lima Gender dalam Budaya Bugis
3. LALLESHWARI

Foto:Jammu Kashmir Now
Filsuf perempuan satu ini dikenal sebagai Lal Ded. Ia adalah seorang penyair yang hidup di Kashmir, India pada abad ke-14. Figurnya sangat universal dan diakui oleh sejarah agama Hindu dan Muslim. Dia dipanggil Lalleshwari oleh orang-orang Hindu dan Lalla Arifa oleh muslim.
Lalla dikenal sebagai seorang sufi yang memberikan dampak terhadap hukum pluralisme di Kashmir dari segi agama dan budaya. Selain itu, syairnya juga berisi soal kebebasan. Poin utamanya adalah kebebasan bagi tubuh dan pikiran tanpa memandang kasta, keyakinan, atau jenis kelamin.
Ia menggunakan beberapa istilah baru—diambil dari Buddha—untuk realisasi diri yang dalam syair lisannya disebut Vakh. Istilah-istilah tersebut adalah siva (realitas tertinggi sebagai ketenangan kesadaran), sakti (vitalitas atau energi kesadaran), dan sunyata (kekosongan).
Lalla juga mengombinasikan philosophical yoga dengan ajaran agama dan tradisi budaya, seperti turut menjauhi minuman beralkohol. Menurutnya, untuk mencari sebuah kebenaran dan kebebasan membutuhkan tubuh, pikiran, dan kesadaran. Selain itu, ia berkata kebebasan adalah kesadaran diri.
Lihat Juga :