5 Filsuf Perempuan yang Jarang Diketahui, dari Eropa hingga Asia
Selasa, 15 Juni 2021 - 21:12 WIB
loading...
A
A
A
4. SOPHIE BOSEDE OLUWOLE
![5 Filsuf Perempuan yang Jarang Diketahui, dari Eropa hingga Asia]()
Foto:iNigerian
Sophie adalah seorang filsuf asal Nigeria. Ia menjadi perempuan pertama yang mendapatkan gelar doktor dalam bidang filsafat di Nigeria. Keahliannya adalah Filsafat Yoruba yang merupakan kelompok etnis terbesar di Nigeria. Sophie juga sangat vokal dalam menyuarakan peran perempuan dalam filsafat dan mengkritik para pemikir Afrika yang masih bias dalam dunia pendidikan.
Pemikiran filsafatnya didorong oleh pelatihan dan pengalamannya terhadap filsafat Barat. Ia diajarkan bahwa orang Afrika tidak pernah memulai tradisi filsafat yang meyakinkan. Oleh karena itu, ia ingin membuktikan bahwa Afrika juga memiliki pengetahuan asli.
Ia berpendapat bahwa filsafat Afrika dapat ditemukan melalui pendekatan hermeneutika, yaitu teori atau metode interpretasi. Ia berargumen bahwa interpretasi dari “Corpus Ifá” yang ditulis oleh Orunmila juga memiliki tema-tema filsafat, seperti kebijaksanaan, keadilan, waktu, takdir, dan demokrasi.
Dalam buku terakhirnya "Socrates and Orunmila: The Two Patrons of Classical Philosophy", ia membandingkan Socrates dengan Orunmila. Menurutnya, Socrates dapat dikatakan sebagai bapak filsafat Barat meskipun tidak meninggalkan karya tulis sendiri. Namun, mengapa Orunmila yang diyakini sudah ada sebelum Socrates dan menghasilkan suatu karya tidak dianggap sebagai bapak filsafat Afrika.
Baca Juga: Sejarah Korupsi Di Indonesia, Sudah Ada Sejak Zaman Kerajaan
5. AZIZAH Y. AL-HIBRI
![5 Filsuf Perempuan yang Jarang Diketahui, dari Eropa hingga Asia]()
Foto:University of Richmond
Azizah adalah salah satu tokoh filsuf perempuan kontemporer. Ia berfokus pada studi tentang hukum Islam. Menurutnya, dalam mendeskripsikan hukum Islam diperlukan pemikiran politik, dan analisis etika serta filsafat. Azizah menjadi perempuan muslim pertama yang bekerja sebagai profesor hukum di Amerika.
Ia adalah seorang pendiri dan presiden asosiasi Pengacara Wanita Muslim untuk Hak Asasi Manusia (KARAMAH). Ia juga telah banyak menulis persoalan Islam dan demokrasi, hak-hak perempuan muslim, dan hak asasi manusia dalam Islam.
Tulisan-tulisannya menjelaskan dan mendefinisikan prinsip-prinsip yurisprudensi Islam untuk khalayak hukum. Azizah juga mengkritik interpretasi sejarah teks agama yang dikatakan melanggengkan budaya patriarki. Azizah berkata bahwa terlalu sering tradisi adat—khususnya di negara Timur Tengah—bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadis. Kebingungan untuk membedakan budaya dengan teks agama ini mengancam otonomi perempuan.
Alifia Putri Yudanti
Kontributor GenSINDO
Universitas Indonesia
Twitter: @shcsei

Foto:iNigerian
Sophie adalah seorang filsuf asal Nigeria. Ia menjadi perempuan pertama yang mendapatkan gelar doktor dalam bidang filsafat di Nigeria. Keahliannya adalah Filsafat Yoruba yang merupakan kelompok etnis terbesar di Nigeria. Sophie juga sangat vokal dalam menyuarakan peran perempuan dalam filsafat dan mengkritik para pemikir Afrika yang masih bias dalam dunia pendidikan.
Pemikiran filsafatnya didorong oleh pelatihan dan pengalamannya terhadap filsafat Barat. Ia diajarkan bahwa orang Afrika tidak pernah memulai tradisi filsafat yang meyakinkan. Oleh karena itu, ia ingin membuktikan bahwa Afrika juga memiliki pengetahuan asli.
Ia berpendapat bahwa filsafat Afrika dapat ditemukan melalui pendekatan hermeneutika, yaitu teori atau metode interpretasi. Ia berargumen bahwa interpretasi dari “Corpus Ifá” yang ditulis oleh Orunmila juga memiliki tema-tema filsafat, seperti kebijaksanaan, keadilan, waktu, takdir, dan demokrasi.
Dalam buku terakhirnya "Socrates and Orunmila: The Two Patrons of Classical Philosophy", ia membandingkan Socrates dengan Orunmila. Menurutnya, Socrates dapat dikatakan sebagai bapak filsafat Barat meskipun tidak meninggalkan karya tulis sendiri. Namun, mengapa Orunmila yang diyakini sudah ada sebelum Socrates dan menghasilkan suatu karya tidak dianggap sebagai bapak filsafat Afrika.
Baca Juga: Sejarah Korupsi Di Indonesia, Sudah Ada Sejak Zaman Kerajaan
5. AZIZAH Y. AL-HIBRI

Foto:University of Richmond
Azizah adalah salah satu tokoh filsuf perempuan kontemporer. Ia berfokus pada studi tentang hukum Islam. Menurutnya, dalam mendeskripsikan hukum Islam diperlukan pemikiran politik, dan analisis etika serta filsafat. Azizah menjadi perempuan muslim pertama yang bekerja sebagai profesor hukum di Amerika.
Ia adalah seorang pendiri dan presiden asosiasi Pengacara Wanita Muslim untuk Hak Asasi Manusia (KARAMAH). Ia juga telah banyak menulis persoalan Islam dan demokrasi, hak-hak perempuan muslim, dan hak asasi manusia dalam Islam.
Tulisan-tulisannya menjelaskan dan mendefinisikan prinsip-prinsip yurisprudensi Islam untuk khalayak hukum. Azizah juga mengkritik interpretasi sejarah teks agama yang dikatakan melanggengkan budaya patriarki. Azizah berkata bahwa terlalu sering tradisi adat—khususnya di negara Timur Tengah—bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadis. Kebingungan untuk membedakan budaya dengan teks agama ini mengancam otonomi perempuan.
Alifia Putri Yudanti
Kontributor GenSINDO
Universitas Indonesia
Twitter: @shcsei
(ita)
Lihat Juga :