Dorong Generasi Muda Geluti Bisnis Kuliner, Sandiaga Uno Bagikan Jurus Sukses
Minggu, 20 Juni 2021 - 14:30 WIB
loading...
A
A
A
"Mereka ini generasi yang kalau dikasih kuliner itu hal pertama yang dilakukan adalah di foto-foto untuk di-share. Ini merupakan salah satu behaviour yang menurut saya mendorong culinary tourism," ujar Menparekraf Sandi.
Selain perilaku, minat generasi milenial dan generasi Z terhadap kuliner pun berbeda dengan generasi pendahulu. Mereka lebih memilih kuliner lokal yang autentik, baik dari segi estetika hingga cita rasanya. Mereka juga mencari kuliner yang memiliki aspek keberlanjutan lingkungan, misal organik atau memiliki sisi sosial, seperti mendukung petani dan lainnya.
"Selanjutnya, kuliner ini autentik dengan storynomics, harus ada ceritanya. Di balik setiap kuliner harus ada cerita dan cerita itu akan membawa cinta. Begitu kita cinta, kita akan berwisata dan ini yang menurut saya kita harus kembangkan bahwa kuliner otentik ini dekat dengan sejarah dan budaya serta perlu ada cerita-cerita yang berkaitan dengan rempah-rempah, tradisi dan tentunya story telling," jelasnya.
Berdasarkan data Food Travel Monitor, 95% dari wisatawan berkunjung ke destinasi wisata berangkat dari ketertarikan pada kuliner. Sementara sebanyak 80% dari mereka mengecek sebelum mereka pergi. Sedangkan 70% wisatawan memilih destinasi wisata berdasarkan makanan dan minuman yang ada di sana.
Diketahui pula sebesar 70% wisatawan akan meningkatkan kualitas belanja mereka berdasarkan kuliner lokal. Dari total Rp100.000-Rp1 juta yang dibelanjakan, sepertiganya itu dialokasikan untuk membeli makanan dan minuman.
Selain perilaku, minat generasi milenial dan generasi Z terhadap kuliner pun berbeda dengan generasi pendahulu. Mereka lebih memilih kuliner lokal yang autentik, baik dari segi estetika hingga cita rasanya. Mereka juga mencari kuliner yang memiliki aspek keberlanjutan lingkungan, misal organik atau memiliki sisi sosial, seperti mendukung petani dan lainnya.
"Selanjutnya, kuliner ini autentik dengan storynomics, harus ada ceritanya. Di balik setiap kuliner harus ada cerita dan cerita itu akan membawa cinta. Begitu kita cinta, kita akan berwisata dan ini yang menurut saya kita harus kembangkan bahwa kuliner otentik ini dekat dengan sejarah dan budaya serta perlu ada cerita-cerita yang berkaitan dengan rempah-rempah, tradisi dan tentunya story telling," jelasnya.
Berdasarkan data Food Travel Monitor, 95% dari wisatawan berkunjung ke destinasi wisata berangkat dari ketertarikan pada kuliner. Sementara sebanyak 80% dari mereka mengecek sebelum mereka pergi. Sedangkan 70% wisatawan memilih destinasi wisata berdasarkan makanan dan minuman yang ada di sana.
Diketahui pula sebesar 70% wisatawan akan meningkatkan kualitas belanja mereka berdasarkan kuliner lokal. Dari total Rp100.000-Rp1 juta yang dibelanjakan, sepertiganya itu dialokasikan untuk membeli makanan dan minuman.
Lihat Juga :