Sastra Wangi, Buah Pikir Perempuan yang Mengundang Perdebatan
Selasa, 26 Mei 2020 - 20:01 WIB
loading...
A
A
A
Mencuatnya istilah sastra wangi menimbulkan pro dan kontra. Melansir dari jurnal Leksika Vol.2 No.2 –Agustus 2008, dituliskan bahwa beberapa pihak menganggap bahwa sebaiknya isu-isu tabu tidak dibahas oleh pengarang perempuan karena hal tersebut dianggap melanggar standar moral adat ketimuran.
Komentar tersebut salah satunya dilontarkan oleh Taufiq Ismail yang menulis syair berikut:
"Penulis-penulis, berlomba mencabul-cabulkan karya, asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dalam Gerakan Syahwat Merdeka/Dari halaman-halaman buku mereka menyebar hawa lendir yang mirip aroma bangkai anak tikus terlantar tiga hari di selokan pasar desa/Aku melihat orang-orang menutup hidung dan jijik karenanya. Jijik. Malu aku memikirkannya."
![Sastra Wangi, Buah Pikir Perempuan yang Mengundang Perdebatan]()
Foto: Freepik
Syair ini jelas merupakan kritikan pedas dari seorang Taufiq Ismail, yang memang dikenal sangat religius. Ia betul-betul tidak bisa menerima kehadiran karya-karya sastra wangi untuk hadir di Indonesia.
Yang lain juga menyebut bahwa label ini menafikan segala semangat, pencapaian, dan keunggulan yang telah dilakukan oleh penulis perempuan saat ini, dan mereduksi semuanya itu dalam penampilan fisik dan seksualitas belaka.
Sementara pihak yang pro berpendapat bahwa baik perempuan dan laki-laki berhak menulis mengenai apa saja. Perempuan sering dilihat sebagai objek seksual semata. Melalui karya sastra tersebut, masyarakat pun bisa menyadari bahwa perempuan juga punya hasrat seksual dan bukan sebuah objek pelampiasan hasrat.
Komentar tersebut salah satunya dilontarkan oleh Taufiq Ismail yang menulis syair berikut:
"Penulis-penulis, berlomba mencabul-cabulkan karya, asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dalam Gerakan Syahwat Merdeka/Dari halaman-halaman buku mereka menyebar hawa lendir yang mirip aroma bangkai anak tikus terlantar tiga hari di selokan pasar desa/Aku melihat orang-orang menutup hidung dan jijik karenanya. Jijik. Malu aku memikirkannya."

Foto: Freepik
Syair ini jelas merupakan kritikan pedas dari seorang Taufiq Ismail, yang memang dikenal sangat religius. Ia betul-betul tidak bisa menerima kehadiran karya-karya sastra wangi untuk hadir di Indonesia.
Yang lain juga menyebut bahwa label ini menafikan segala semangat, pencapaian, dan keunggulan yang telah dilakukan oleh penulis perempuan saat ini, dan mereduksi semuanya itu dalam penampilan fisik dan seksualitas belaka.
Sementara pihak yang pro berpendapat bahwa baik perempuan dan laki-laki berhak menulis mengenai apa saja. Perempuan sering dilihat sebagai objek seksual semata. Melalui karya sastra tersebut, masyarakat pun bisa menyadari bahwa perempuan juga punya hasrat seksual dan bukan sebuah objek pelampiasan hasrat.
Lihat Juga :