Sastra Wangi, Buah Pikir Perempuan yang Mengundang Perdebatan
Selasa, 26 Mei 2020 - 20:01 WIB
loading...
Istilah sastra wangi muncul untuk menyebut fenomena karya penulis muda perempuan yang membahas soal seksualitas. Foto/vectorstock
A
A
A
JAKARTA - Jangan salah dengan istilah sastra wangi. Ini bukan karya sastra yang membahas hal-hal yang harum wanginya atau sebuah buku yang akan mengeluarkan semerbak harum berbagai jenis bunga.
Sastra wangi adalah istilah yang muncul pada sekitar awal tahun 2000-an. Istilah ini memberi label pada karya sastra yang ditulis oleh penulis perempuan muda, dengan tema yang dianggap tabu dan vulgar, seperti seks dan tubuh.
Sastra wangi bukan merupakan genre atau aliran dalam sastra. Istilah ini sengaja diada-adakan dan dibuat-buat.
Jejak sastra wangi bisa ditelusuri pada akhir tahun 90-an, saat novel "Saman" karya Ayu Utami terbit. Novel pertama Ayu ini memberi pembaharuan dalam dunia sastra Indonesia dari segi cerita. Ayu Utami secara berani menjadi penulis perempuan pertama yang membahas isu-isu tabu dalam karyanya.
![Sastra Wangi, Buah Pikir Perempuan yang Mengundang Perdebatan]()
Foto: Kepustakaan Populer Gramedia
"Saman" dianggap sebagai karya sastra kanon, yaitu karya yang banyak dibicarakan karena mampu menjadi penanda suatu zaman serta menjadi trendsetter bagi karya-karya lain.
Sebagai trendsetter, maka setelah "Saman", muncul penulis-penulis perempuan yang menerbitkan karya dengan pembahasan serupa seperti Djenar Maesa Ayu dan Dewi Lestari.
Sastra wangi adalah istilah yang muncul pada sekitar awal tahun 2000-an. Istilah ini memberi label pada karya sastra yang ditulis oleh penulis perempuan muda, dengan tema yang dianggap tabu dan vulgar, seperti seks dan tubuh.
Sastra wangi bukan merupakan genre atau aliran dalam sastra. Istilah ini sengaja diada-adakan dan dibuat-buat.
Jejak sastra wangi bisa ditelusuri pada akhir tahun 90-an, saat novel "Saman" karya Ayu Utami terbit. Novel pertama Ayu ini memberi pembaharuan dalam dunia sastra Indonesia dari segi cerita. Ayu Utami secara berani menjadi penulis perempuan pertama yang membahas isu-isu tabu dalam karyanya.

Foto: Kepustakaan Populer Gramedia
"Saman" dianggap sebagai karya sastra kanon, yaitu karya yang banyak dibicarakan karena mampu menjadi penanda suatu zaman serta menjadi trendsetter bagi karya-karya lain.
Sebagai trendsetter, maka setelah "Saman", muncul penulis-penulis perempuan yang menerbitkan karya dengan pembahasan serupa seperti Djenar Maesa Ayu dan Dewi Lestari.
Lihat Juga :