Optimalkan Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak melalui Pemantauan di Buku KIA
Jum'at, 30 Juli 2021 - 03:30 WIB
loading...
A
A
A
"Pandemi membuat akses terhadap layanan kesehatan seperti Puskesmas atau klinik, rumah bersalin, klinik kesehatan keliling, dan pusat pengobatan tradisional kurang memadai. Untuk itulah, kami melakukan kerja sama dengan berbagai pihak agar edukasi pemanfaatan Buku KIA sesuai sasaran, sehingga orangtua dapat memantau perkembangan anak balita dengan baik,” papar drg. Kartini.
Situasi Indonesia sendiri belum sepenuhnya lepas dari masalah kekurangan gizi anak, khususnya balita. Hal itu tercermin dari prevalensi stunting yang masih sebesar 27,7% hingga 2019, meskipun telah turun dari 30,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut mengindikasikan masih ada 3 dari 10 balita menderita stunting. Jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni maksimal 20% dari jumlah total balita dalam satu negara.
“Di masa pandemi pelayanan gizi dan kesehatan lebih diprioritaskan pada kelompok balita dan ibu hamil serta menyusui yang berisiko. Pada sasaran berisiko, dilakukan lewat janji temu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Pemantauan pertumbuhan di Posyandu menyesuaikan dengan kebijakan setempat. Jika Posyandu tidak buka, orangtua dianjurkan untuk melakukan pemantauan secara mandiri dengan Buku KIA," papar drg. Kartini.
Baca Juga: Aplikasi Pulih Siap Mempermudah Pasien Kanker Selama Pandemi
Koordinator Poksi Kesehatan Balita dan Anak Usia Prasekolah, Direktorat Kesehatan Keluarga, dr. Ni Made Diah, P.L.D, MKM menambahkan, Buku KIA yang pertama kali diterbitkan pada 1994 dan ditetapkan sebagai kebijakan nasional sejak 2004 sudah mengangkat nama Indonesia di dunia internasional. Sebab, negara ini bisa dikatakan pencetus hadirnya buku yang mengompilasikan catatan kesehatan ibu dan anak.
"Walaupun hanya sebuah buku, tapi Buku KIA bisa meningkatkan peran Indonesia di dunia internasinal. Pada 2007, kita dipercaya menjadi tuan rumah untuk pengembangan buku ini di 15 negara. Mereka secara rutin mengirimkan perwakilan ke Indonesia untuk menerapkan buku KIA," ujar dr. Diah.
Situasi Indonesia sendiri belum sepenuhnya lepas dari masalah kekurangan gizi anak, khususnya balita. Hal itu tercermin dari prevalensi stunting yang masih sebesar 27,7% hingga 2019, meskipun telah turun dari 30,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut mengindikasikan masih ada 3 dari 10 balita menderita stunting. Jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni maksimal 20% dari jumlah total balita dalam satu negara.
“Di masa pandemi pelayanan gizi dan kesehatan lebih diprioritaskan pada kelompok balita dan ibu hamil serta menyusui yang berisiko. Pada sasaran berisiko, dilakukan lewat janji temu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Pemantauan pertumbuhan di Posyandu menyesuaikan dengan kebijakan setempat. Jika Posyandu tidak buka, orangtua dianjurkan untuk melakukan pemantauan secara mandiri dengan Buku KIA," papar drg. Kartini.
Baca Juga: Aplikasi Pulih Siap Mempermudah Pasien Kanker Selama Pandemi
Koordinator Poksi Kesehatan Balita dan Anak Usia Prasekolah, Direktorat Kesehatan Keluarga, dr. Ni Made Diah, P.L.D, MKM menambahkan, Buku KIA yang pertama kali diterbitkan pada 1994 dan ditetapkan sebagai kebijakan nasional sejak 2004 sudah mengangkat nama Indonesia di dunia internasional. Sebab, negara ini bisa dikatakan pencetus hadirnya buku yang mengompilasikan catatan kesehatan ibu dan anak.
"Walaupun hanya sebuah buku, tapi Buku KIA bisa meningkatkan peran Indonesia di dunia internasinal. Pada 2007, kita dipercaya menjadi tuan rumah untuk pengembangan buku ini di 15 negara. Mereka secara rutin mengirimkan perwakilan ke Indonesia untuk menerapkan buku KIA," ujar dr. Diah.
Lihat Juga :