Optimalkan Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak melalui Pemantauan di Buku KIA

loading...
Optimalkan Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak melalui Pemantauan di Buku KIA
Para narasumber dalam webinar Pentingnya Buku KIA untuk Orangtua Pantau Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak di Masa Pandemi yang digelar Kamis (29/7). Foto/YouTube
JAKARTA - Sebanyak 75,2% ibu hamil dan 65,9% balita telah memiliki Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA). Namun sayang, dari jumlah tersebut belum semua memanfaatkan buku ini untuk mendukung tumbuh kembang si kecil secara optimal.

Buku KIA dikeluarkan oleh Direktorat Kesehatan Keluarga, Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, sebagai media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) bagi ibu hamil dan balita guna memantau pertumbuhan serta perkembangan anak secara rutin. Dalam buku ini tercantum catatan seputar perkembangan anak sesuai usianya, termasuk panduan untuk memenuhi hak anak memperoleh nutrisi dan akses kesehatan.

Baca Juga: Potensial Jadi Silent Spreader, Orangtua Jangan Ragu Bawa Anak untuk Vaksinasi COVID-19

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat, sebanyak 75,2% ibu hamil dan 65,9% balita (0-59 bulan) sudah memiliki Buku KIA. Walau demikian, pemanfaatannya belum dilakukan secara maksimal.



Hal itu diakui oleh Plt. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan drg. Kartini Rustandi, M.Kes. "Kami melihat ternyata pemanfaatan Buku KIA di masyarakat hingga saat ini masih belum sesuai harapan," kata drg. Kartini dalam webinar bertema 'Pentingnya Buku KIA untuk Orangtua Pantau Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak di Masa Pandemi' yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan bersama PT Tirta Investama pada Kamis (29/7).

Maka itu, memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional 2021, pemerintah ingin kembali menggaungkan pentingnya melakukan pencatatan kesehatan ibu dan anak melalui Buku KIA. Terlebih di masa pandemi COVID-19, di mana akses ke layanan kesehatan agak dibatasi.

"Pandemi membuat akses terhadap layanan kesehatan seperti Puskesmas atau klinik, rumah bersalin, klinik kesehatan keliling, dan pusat pengobatan tradisional kurang memadai. Untuk itulah, kami melakukan kerja sama dengan berbagai pihak agar edukasi pemanfaatan Buku KIA sesuai sasaran, sehingga orangtua dapat memantau perkembangan anak balita dengan baik,” papar drg. Kartini.

Situasi Indonesia sendiri belum sepenuhnya lepas dari masalah kekurangan gizi anak, khususnya balita. Hal itu tercermin dari prevalensi stunting yang masih sebesar 27,7% hingga 2019, meskipun telah turun dari 30,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut mengindikasikan masih ada 3 dari 10 balita menderita stunting. Jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni maksimal 20% dari jumlah total balita dalam satu negara.

“Di masa pandemi pelayanan gizi dan kesehatan lebih diprioritaskan pada kelompok balita dan ibu hamil serta menyusui yang berisiko. Pada sasaran berisiko, dilakukan lewat janji temu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Pemantauan pertumbuhan di Posyandu menyesuaikan dengan kebijakan setempat. Jika Posyandu tidak buka, orangtua dianjurkan untuk melakukan pemantauan secara mandiri dengan Buku KIA," papar drg. Kartini.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top