Peneliti Thailand Kembangkan Tes Covid-19 dengan Keringat

loading...
Peneliti Thailand Kembangkan Tes Covid-19 dengan Keringat
Peneliti Thailand kembangkan tes Covid-19 dengan keringat. Alat tes ini diklaim memiliki tingkat akurasi 95% dan sudah melakukan uji coba di pasar Bangkok. Foto/The Straits Times.
JAKARTA - Peneliti Thailand kembangkan tes Covid-19 dengan keringat . Alat tes ini diklaim memiliki tingkat akurasi 95%. Peneliti sudah melakukan uji coba pada pemilik toko di pasar makanan Bangkok.

"Dari sampel, kami menemukan bahwa orang yang terinfeksi Covid-19 mengeluarkan bahan kimia yang sangat berbeda," kata Dr Chadin Kulsing dari Universitas Chulalongkorn Bangkok dilansir dari The Straits Times, Selasa (14/9/2021).

"Kami menggunakan temuan ini untuk mengembangkan alat untuk mendeteksi bau spesifik yang dihasilkan oleh bakteri tertentu dalam keringat pasien Covid-19 ," sambungnya.

Para ilmuwan mengadaptasi perangkat yang biasanya digunakan untuk mendeteksi bahan kimia beracun di lingkungan. Subyek meletakkan kapas di bawah lengan selama 15 menit, sebelum kapas dimasukkan ke dalam botol kaca dan disterilkan dengan sinar ultraviolet.



Baca Juga: Obat Sakit Gigi yang Bisa Dibeli di Apotek Tanpa Resep, Apa Saja?

"Teknisi kemudian mengambil sampel dalam jumlah yang sesuai menggunakan selang hisap, dan menekannya ke dalam alat analisa untuk memeriksa hasilnya," jelas Dr Chadin.

Pengambilan sampel membutuhkan waktu 15 menit dan hasilnya siap dalam 30 detik. Tes Covid-19 dengan menggunakan keringat ini diapresiasi oleh penjual di pasar Bangkok, yang mengatakan ini jauh lebih menyenangkan daripada tes swab .

"Tes keringat ini lebih nyaman karena saya bekerja sambil menunggu hasilnya. Dengan tes PCR, saya harus berada di pusat tes, duduk dan menunggu hasilnya dan itu hanya membuang waktu saya," ujar penjual semangka di pasar Bangkok kepada AFP.

Dr Chadin berharap tes ini bisa diluncurkan sebagai alternatif yang terjangkau untuk tes swab yang lebih mahal dan memerlukan pemrosesan laboratorium. Namun, tes ini masih dalam tahap pengembangan. Selain itu, penelitian di baliknya belum dipublikasikan atau ditinjau oleh rekan sejawat.

Baca Juga: Gejala Stroke saat Berjalan yang Pantang Diabaikan
(dra)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top