Review Film Last Night in Soho: Twist Unik dengan Pace yang Tak Terlalu Halus
Rabu, 03 November 2021 - 18:41 WIB
loading...
A
A
A
Tapi, tentu saja, Edward Wright, sang sutradara, tidak bisa membiarkannya terus bahagia. Dia pun mengubah hidup Ellie dari yang awalnya baik-baik saja, menjadi tidak baik-baik saja. Ketakutan terus melanda Ellie sejak dia tahu mimpi buruk yang dialami Sandie.
Warna-warna cerah khas tahun 60-an pun berubah menjadi suram dengan kemunculan berbagai macam hantu tanpa wajah. Soho yang dikenal sebagai tempat ramai yang penuh berbagai macam toko, restoran, kafe dan teater pun menjadi mencekam. Terutama, buat Ellie.
Wright dengan cepat mengubah pemandangan ini menjadi nuansa jump scare yang memainkan psikologis penontonnya. Twist demi twist pun terkuak. Misteri demi misteri akhirnya terungkap. Bagi yang jeli, petunjuknya sudah ada sejak awal.
![Review Film Last Night in Soho: Twist Unik dengan Pace yang Tak Terlalu Halus]()
Visual film ini menjadi hiburan tersendiri saat menontonnya. Nuansa 60an yang dibawa memang cukup mewakili apa yang mungkin terlihat di Soho saat itu. Musik, fashion dan berbagai macam pernak perniknya sudah cukup pas mewakili era tersebut.
Ketika film ini berubah nuansa pun, terasa perubahannya. Dari warna cerah menjadi gelap dengan musik yang awalnya membuat rasa ceria menjadi tegang. Wright cukup sukses membuat perubahan ini.
Tapi, secara narasi, ceritanya memang agak kacau. Banyak bagian-bagian yang sebenarnya hanya sebagai pelengkap membuat film ini terasa lambat di awal. Dengan durasi 1 jam 56 menit, hampir separuh di awal dibuat untuk membangun cerita. Sisanya, memperlihatkan konflik dan penyelesaian.
Perubahan dari suasana yang menyenangkan ke suasana mencekam ini sebenarnya tidak terlalu halus. Malah cenderung terlihat kasar dan terburu-buru. Kemudian ada bagian yang sebenarnya tidak diperlukan, tetap diadakan. Entah buat apa, karena sebagai jembatan cerita pun, rasanya tidak perlu.
Warna-warna cerah khas tahun 60-an pun berubah menjadi suram dengan kemunculan berbagai macam hantu tanpa wajah. Soho yang dikenal sebagai tempat ramai yang penuh berbagai macam toko, restoran, kafe dan teater pun menjadi mencekam. Terutama, buat Ellie.
Wright dengan cepat mengubah pemandangan ini menjadi nuansa jump scare yang memainkan psikologis penontonnya. Twist demi twist pun terkuak. Misteri demi misteri akhirnya terungkap. Bagi yang jeli, petunjuknya sudah ada sejak awal.

Visual film ini menjadi hiburan tersendiri saat menontonnya. Nuansa 60an yang dibawa memang cukup mewakili apa yang mungkin terlihat di Soho saat itu. Musik, fashion dan berbagai macam pernak perniknya sudah cukup pas mewakili era tersebut.
Ketika film ini berubah nuansa pun, terasa perubahannya. Dari warna cerah menjadi gelap dengan musik yang awalnya membuat rasa ceria menjadi tegang. Wright cukup sukses membuat perubahan ini.
Tapi, secara narasi, ceritanya memang agak kacau. Banyak bagian-bagian yang sebenarnya hanya sebagai pelengkap membuat film ini terasa lambat di awal. Dengan durasi 1 jam 56 menit, hampir separuh di awal dibuat untuk membangun cerita. Sisanya, memperlihatkan konflik dan penyelesaian.
Perubahan dari suasana yang menyenangkan ke suasana mencekam ini sebenarnya tidak terlalu halus. Malah cenderung terlihat kasar dan terburu-buru. Kemudian ada bagian yang sebenarnya tidak diperlukan, tetap diadakan. Entah buat apa, karena sebagai jembatan cerita pun, rasanya tidak perlu.
Lihat Juga :