Sejarah Manhwa: dari Politik, Manga, ke Romansa
Sabtu, 13 November 2021 - 09:50 WIB
loading...
A
A
A
Manhwa dan Masa Kegelapannya
Menanggapi meningkatnya publikasi manhwa serta perubahan sosial dan politik di Korea Selatan, pada 1960-an, pemerintah Korea Selatan menciptakan monopoli distribusi komik dan mulai memberlakukan undang-undang sensor dan pertimbangan yang ketat sehingga menekan banyak penerbit dan seniman manhwa.
Pada sekitar tahun 1960-an hingga 1970-an, manhwa pernah dianggap tabu di Korea saat dimulainya rezim militer di Korea Selatan. Pemerintah Korea yang sedang getol membangun usai kemerdekaan menganggap manhwa dapat merusak etos anak-anak. Pada saat itu, banyak manhwa yang dibakar karena dianggap mengganggu pendidikan.
![Sejarah Manhwa: dari Politik, Manga, ke Romansa]()
Foto: LINE Webtoon
Namun, setelah kematian Presiden Park Chung-Hee, era yang mengekang manhwa pun juga berakhir pada 1980. Pada periode ini, manhwa makin populer. Lalu, pada 2004, portal pencarian Korea Selatan, Naver, meluncurkan LINE Webtoon, sebuah platform daringuntuk mendistribusikan manhwa secara daring dan gratis. Ini membuat popularitas manhwa sampai ke luar Korea, termasuk Indonesia.
Manhwa vs Manga
Selain bahasa dan negara asal, ada perbedaan mencolok antara manhwa dan manga. Manga dapat dibaca dari kanan ke kiri dan dari atas ke bawah, sedangkan manhwa dibaca dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.
Baik cetak maupun digital, manga hampir selalu dibuat hitam-putih; sedangkan manhwa memiliki warna yang lebih bervariasi. Namun, apabila dicetak, manhwa akan dibuat hitam-putih. “Manhwa kalau diterbitin enggak berwarna. Ada yang berwarna, tapi enggak banyak,” jelas Ramandha Tryana, 19, mahasiswi pembaca manga dan manhwa.
Sementara dari segi penggambaran, mayoritas gambar dalammanhwa lebih semi-realis ketimbang manga. “Manhwa gambarnya lebih tajam dan detail banget. Terus karena kebanyakan manga enggak berwarna, jadi terasa bedanya,” ujar Nasya Zahrotunida, 18, mahasiswi yang juga hobi membaca manga dan manhwa.
Hal ini juga disetujui oleh Azrah Maysa, 19, seorang freelancer yang gemar membaca manga dan manhwa. “Karakter-karakternya digambar jelas, dari mata, mulut, anggota badan, hampir mirip ke real life dan detail banget. Bahkan, ada manhwa yang kayak bukan manhwa karena saking detail gambarnya,” ucapnya.
Menanggapi meningkatnya publikasi manhwa serta perubahan sosial dan politik di Korea Selatan, pada 1960-an, pemerintah Korea Selatan menciptakan monopoli distribusi komik dan mulai memberlakukan undang-undang sensor dan pertimbangan yang ketat sehingga menekan banyak penerbit dan seniman manhwa.
Pada sekitar tahun 1960-an hingga 1970-an, manhwa pernah dianggap tabu di Korea saat dimulainya rezim militer di Korea Selatan. Pemerintah Korea yang sedang getol membangun usai kemerdekaan menganggap manhwa dapat merusak etos anak-anak. Pada saat itu, banyak manhwa yang dibakar karena dianggap mengganggu pendidikan.

Foto: LINE Webtoon
Namun, setelah kematian Presiden Park Chung-Hee, era yang mengekang manhwa pun juga berakhir pada 1980. Pada periode ini, manhwa makin populer. Lalu, pada 2004, portal pencarian Korea Selatan, Naver, meluncurkan LINE Webtoon, sebuah platform daringuntuk mendistribusikan manhwa secara daring dan gratis. Ini membuat popularitas manhwa sampai ke luar Korea, termasuk Indonesia.
Manhwa vs Manga
Selain bahasa dan negara asal, ada perbedaan mencolok antara manhwa dan manga. Manga dapat dibaca dari kanan ke kiri dan dari atas ke bawah, sedangkan manhwa dibaca dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.
Baik cetak maupun digital, manga hampir selalu dibuat hitam-putih; sedangkan manhwa memiliki warna yang lebih bervariasi. Namun, apabila dicetak, manhwa akan dibuat hitam-putih. “Manhwa kalau diterbitin enggak berwarna. Ada yang berwarna, tapi enggak banyak,” jelas Ramandha Tryana, 19, mahasiswi pembaca manga dan manhwa.
Sementara dari segi penggambaran, mayoritas gambar dalammanhwa lebih semi-realis ketimbang manga. “Manhwa gambarnya lebih tajam dan detail banget. Terus karena kebanyakan manga enggak berwarna, jadi terasa bedanya,” ujar Nasya Zahrotunida, 18, mahasiswi yang juga hobi membaca manga dan manhwa.
Hal ini juga disetujui oleh Azrah Maysa, 19, seorang freelancer yang gemar membaca manga dan manhwa. “Karakter-karakternya digambar jelas, dari mata, mulut, anggota badan, hampir mirip ke real life dan detail banget. Bahkan, ada manhwa yang kayak bukan manhwa karena saking detail gambarnya,” ucapnya.
Lihat Juga :