Upaya Pelaku Industri Capai Zero Waste dan Ciptakan Proses Produksi Ramah Lingkungan
Rabu, 05 Januari 2022 - 21:29 WIB
loading...
A
A
A
Selain proses pembuatan co-product yang menerapkan Bio-Cycle & Eco-Activity, lanjut Yudho, PT Ajinomoto Indonesia juga banyak menerapkan aktivitas produksi yang ramah lingkungan. Misalnya pengurangan 38.500 ton emisi karbon (CO2) dengan berbagai cara, seperti mengurangi konsumsi bahan bakar seluruh transportasi di tempat kerja, memangkas penggunaan tenaga listrik, dan mengatasi kebocoran uap pada peralatan produksi.
"Kami mempunyai target mengurangi 180.000 ton CO2 pada tahun 2023,” imbuh Yudho.
PT Ajinomoto Indonesia juga berkomitmen mendukung pelestarian lingkungan dengan mengurangi penggunaan air hingga 35% dengan melakukan penghematan melalui peningkatan kualitas air (water treatment) di setiap aktivitas produksi. Komitmen ini sebagai wujud partisipasi dalam menyukseskan program pelestarian lingkungan hidup dari pemerintah dan seiring dengan cita-cita Ajinomoto Co. Inc. untuk mengurangi dampak lingkungan hingga 50%.
Langkah tersebut juga bertujuan untuk menjaga ketersediaan air dalam skala regional, sehingga dapat membantu mengatasi keterbatasan sumber daya air akibat peningkatan konsumsi air, terutama pada saat masa pandemi.
“Kami aktif mengerjakan kegiatan reduce, reuse, recovery, dan recycle untuk penggunaan air di setiap aktivitas yang ada. Hal ini cukup menggembirakan, karena meski dengan mengurangi penggunaan air hingga 35%, kemampuan produksi MSG dan seasoning lain masih bisa meningkat,” ungkap Yudho.
"Kami mempunyai target mengurangi 180.000 ton CO2 pada tahun 2023,” imbuh Yudho.
PT Ajinomoto Indonesia juga berkomitmen mendukung pelestarian lingkungan dengan mengurangi penggunaan air hingga 35% dengan melakukan penghematan melalui peningkatan kualitas air (water treatment) di setiap aktivitas produksi. Komitmen ini sebagai wujud partisipasi dalam menyukseskan program pelestarian lingkungan hidup dari pemerintah dan seiring dengan cita-cita Ajinomoto Co. Inc. untuk mengurangi dampak lingkungan hingga 50%.
Langkah tersebut juga bertujuan untuk menjaga ketersediaan air dalam skala regional, sehingga dapat membantu mengatasi keterbatasan sumber daya air akibat peningkatan konsumsi air, terutama pada saat masa pandemi.
“Kami aktif mengerjakan kegiatan reduce, reuse, recovery, dan recycle untuk penggunaan air di setiap aktivitas yang ada. Hal ini cukup menggembirakan, karena meski dengan mengurangi penggunaan air hingga 35%, kemampuan produksi MSG dan seasoning lain masih bisa meningkat,” ungkap Yudho.
(tsa)