Selalu Butuh Validasi dari Orang Lain, Wajar atau Tidak?
Sabtu, 12 Februari 2022 - 08:08 WIB
loading...
A
A
A
“Jadi bisa dari pola asuh keluarga yang “harus-harus-harus”, yang membandingkan, kemudian segala disediakan, disuruh mencontoh figur ABC, dan tidak pernah bereksplorasi. Ketika ada masalah yang rumit, maka dia akan butuh tuntunan dan arahan. Kasarnya dia harus selalu dikasih tahu,” papar Tiara.
Baca Juga: 8 Tanda Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah
Dalam kasus lain, misalnya ketika masuk kuliah, setiap dosen memiliki aturan yang berbeda-beda. Tiap mahasiswa pun punya latar belakang kepribadian berbeda. Nah, anak yang selalu butuh validasi akan merasakan kesulitan sehingga membutuhkan orang lain untuk membantunya mencari jalan keluar untuk beradaptasi dengan baik.
![Selalu Butuh Validasi dari Orang Lain, Wajar atau Tidak?]()
Foto: Shutterstock
Seperti halnya Melly Mumtaz, mahasiswi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), yang pernah merasakan haus validasi saat baru menjabat sebagai staf sekretaris di BEM. Saat itu, Melly merasa dirinya terlalu mengharapkan pujian dari sekretaris karena usahanya dalam menjalankan tugas.
“Saat itu aku udah berekspetasi tinggi, aku udah bikin proposal tebel banget. Tapi pas disuruh minta tanda tangan sekretaris, proposal aku malah banyak yang harus direvisi. Akhirnya aku rombak lagi.” ucap Melly.
Melly juga menceritakan bahwa sejak kecil, ia harus selalu mengikuti keinginan orang tuanya. Sehingga kini ia selalu merasa cemas kalau salah dalam mengerjakan sesuatu dan takut untuk dikomentari karena tidak mampu mendebat orang lain.
Dengan mencari validasi dari orang lain, Melly merasa jadi bisa memastikan apakah hal yang dikerjakannya itu sudah benar atau tidak. Validasi membuatnya bisa meningkatkan motivasi untuk bekerja lebih baik. Namun ia menyadari bahwa haus validasi juga membuatnya sulit dalam menyelesaikan masalah. Dia juga menjadi pribadi yang terlalu mengharapkan pujian dari orang lain.
Sama halnya dengan Tri Afif, pekerja berusia 18 tahun, yang pernah merasakan haus validasi sebelum memutuskan untuk bekerja. Tri yang saat itu sedang berkuliah nekat untuk berhenti agar mendapatkan pengakuan dari sang pacar.
Baca Juga: 8 Tanda Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah
Dalam kasus lain, misalnya ketika masuk kuliah, setiap dosen memiliki aturan yang berbeda-beda. Tiap mahasiswa pun punya latar belakang kepribadian berbeda. Nah, anak yang selalu butuh validasi akan merasakan kesulitan sehingga membutuhkan orang lain untuk membantunya mencari jalan keluar untuk beradaptasi dengan baik.

Foto: Shutterstock
Seperti halnya Melly Mumtaz, mahasiswi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), yang pernah merasakan haus validasi saat baru menjabat sebagai staf sekretaris di BEM. Saat itu, Melly merasa dirinya terlalu mengharapkan pujian dari sekretaris karena usahanya dalam menjalankan tugas.
“Saat itu aku udah berekspetasi tinggi, aku udah bikin proposal tebel banget. Tapi pas disuruh minta tanda tangan sekretaris, proposal aku malah banyak yang harus direvisi. Akhirnya aku rombak lagi.” ucap Melly.
Melly juga menceritakan bahwa sejak kecil, ia harus selalu mengikuti keinginan orang tuanya. Sehingga kini ia selalu merasa cemas kalau salah dalam mengerjakan sesuatu dan takut untuk dikomentari karena tidak mampu mendebat orang lain.
Dengan mencari validasi dari orang lain, Melly merasa jadi bisa memastikan apakah hal yang dikerjakannya itu sudah benar atau tidak. Validasi membuatnya bisa meningkatkan motivasi untuk bekerja lebih baik. Namun ia menyadari bahwa haus validasi juga membuatnya sulit dalam menyelesaikan masalah. Dia juga menjadi pribadi yang terlalu mengharapkan pujian dari orang lain.
Sama halnya dengan Tri Afif, pekerja berusia 18 tahun, yang pernah merasakan haus validasi sebelum memutuskan untuk bekerja. Tri yang saat itu sedang berkuliah nekat untuk berhenti agar mendapatkan pengakuan dari sang pacar.
Lihat Juga :