Menunggu Lahirnya Web Series Lokal Keren dari Writing Master Class 2022
Senin, 25 April 2022 - 15:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: 7 Drama Korea Adaptasi Webtoon dengan Rating Tinggi pada 2021-2022
Ia mengawali kerjanya dengan membuat garis besar cerita, lalu ia akan menekankan scene-scene tertentu yang dianggap penting untuk bisa diceritakan lebih menarik.
“Yang penting sudah ada garis besar dan konfliknya di awal. Nanti di tengah-tengahnya bisa dibuat lebih berkembang lagi atau dikoreksi,” ujar Kim yang juga sudah memikirkan akhir cerita, termasuk karakter-karakter yang akan dibuat mati, sejak awal penulisan.
![Menunggu Lahirnya Web Series Lokal Keren dari Writing Master Class 2022]()
Foto: Netflix
Ia juga menjelaskan perbedaan antara serial yang terdiri dari enam episode seperti My Name dengan yang lebih panjang. “Kalau hanya enam episode, hanya ada satu masalah atau pertanyaan. Tapi kalau lebih dari enam episode, maka pertanyaan dan konfliknya harus berkembang,” ucap Kim.
Misalnya saja, setelah empat episode, konflik pertama berhasil diselesaikan. Lalu empat episode berikutnya dimunculkan konflik baru untuk diselesaikan oleh karakter utama.
Kim juga mengingatkan bahwa karakter dalam serial harus mampu mengundang simpati penonton dan membuat penonton peduli pada nasibnya untuk tetap mau mengikuti cerita hingga akhir.
Sementara untuk visualisasi, ia kerap membayangkan apa yang sekiranya akan dilakukan tokoh tertentu jika ia dihadapkan pada situasi tertentu. “Misalnya karakter lonely, kalau sendirian apa yang dilakukannya? Saya pakai imajinasi itu,” ujar Kim yang rutin menulis layaknya orang kantoran, yaitu dari pukul 09.00 hingga 17.00.
Meski kedua mentor sudah memberikan teori penulisan skenario secara detail, tapi Peracchio menegaskan bahwa tetap saja kesuksesan sebuah cerita berada di tangan penulis dan faktor X.
“Menulis adalah sebuah seni. Penulis perlu tahu dasarnya, tapi bukan berarti harus menulis seperti itu. Sebuah scene saat ditulis harus sepanjang dua halaman, lalu lihatlah scene 14 menit serial tertentu yang melanggar semua aturan itu, tapi (hasilnya) luar biasa,” katanya.
Ia mengawali kerjanya dengan membuat garis besar cerita, lalu ia akan menekankan scene-scene tertentu yang dianggap penting untuk bisa diceritakan lebih menarik.
“Yang penting sudah ada garis besar dan konfliknya di awal. Nanti di tengah-tengahnya bisa dibuat lebih berkembang lagi atau dikoreksi,” ujar Kim yang juga sudah memikirkan akhir cerita, termasuk karakter-karakter yang akan dibuat mati, sejak awal penulisan.

Foto: Netflix
Ia juga menjelaskan perbedaan antara serial yang terdiri dari enam episode seperti My Name dengan yang lebih panjang. “Kalau hanya enam episode, hanya ada satu masalah atau pertanyaan. Tapi kalau lebih dari enam episode, maka pertanyaan dan konfliknya harus berkembang,” ucap Kim.
Misalnya saja, setelah empat episode, konflik pertama berhasil diselesaikan. Lalu empat episode berikutnya dimunculkan konflik baru untuk diselesaikan oleh karakter utama.
Kim juga mengingatkan bahwa karakter dalam serial harus mampu mengundang simpati penonton dan membuat penonton peduli pada nasibnya untuk tetap mau mengikuti cerita hingga akhir.
Sementara untuk visualisasi, ia kerap membayangkan apa yang sekiranya akan dilakukan tokoh tertentu jika ia dihadapkan pada situasi tertentu. “Misalnya karakter lonely, kalau sendirian apa yang dilakukannya? Saya pakai imajinasi itu,” ujar Kim yang rutin menulis layaknya orang kantoran, yaitu dari pukul 09.00 hingga 17.00.
Meski kedua mentor sudah memberikan teori penulisan skenario secara detail, tapi Peracchio menegaskan bahwa tetap saja kesuksesan sebuah cerita berada di tangan penulis dan faktor X.
“Menulis adalah sebuah seni. Penulis perlu tahu dasarnya, tapi bukan berarti harus menulis seperti itu. Sebuah scene saat ditulis harus sepanjang dua halaman, lalu lihatlah scene 14 menit serial tertentu yang melanggar semua aturan itu, tapi (hasilnya) luar biasa,” katanya.
Lihat Juga :