Bagaimana Jalani Pernikahan Beda Agama? Ikuti Vision+ Originals Katanya Episode 7
Rabu, 04 Mei 2022 - 12:59 WIB
loading...
Menikah beda agama menjadi suatu hal yang banyak diperdebatkan di masyarakat Indonesia. / Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Menikah beda agama menjadi suatu hal yang banyak diperdebatkan di masyarakat Indonesia. Untuk menelusuri isu ini lebih dalam, Vision+ dan Cretivox berkolaborasi merilis original series berjudul Katanya , yang membahas stigma pernikahan beda agama di episode ke-7.
Katanya membahas mengenai berbagai mitos dan stigma yang erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Serial bergenre dokumenter ini dibintangi oleh Ben Sihombing sebagai host, dan dirilis pada bulan Maret 2022.
Untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai pernikahan beda agama di Indonesia, Ben Sihombing mewawancarai dua narasumber, yaitu Ahmad Nurcholish selaku Konselor pernikahan beda agama, dan Intan Erlita, M.Psi selaku psikolog.
Baca juga: Isi Libur Lebaran dengan Original Series Vision+
“Terkait dengan pernikahan beda agama, pada umumnya agama-agama itu memiliki pandangan yang melarang atau tidak memperbolehkan, tetapi yang menarik adalah riset saya tahun 2005-2010 itu menemukan hal-hal yang menarik, sebetulnya,” ujar Ahmad Nurcholish.
Di sisi lain, Intan Erlita menjelaskan fenomena pernikahan beda agama menurut ilmu psikologi.
“Ketika memutuskan untuk menikah beda agama, itu harus dipahami bahwa di sesuatu yang dasar, kita sudah berbeda. Jadi itu harus menjadi pertimbangan yang sangat matang. Kalau kamu nikah karena hanya ‘aku sayang kamu’, itu nggak bertahan lama, tetapi kalau kita menikah karena mau menerima semua yang dimiliki pasangan kita, maka itu bisa kalian jalani,” jelas Intan Erlita.
Katanya membahas mengenai berbagai mitos dan stigma yang erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Serial bergenre dokumenter ini dibintangi oleh Ben Sihombing sebagai host, dan dirilis pada bulan Maret 2022.
Untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai pernikahan beda agama di Indonesia, Ben Sihombing mewawancarai dua narasumber, yaitu Ahmad Nurcholish selaku Konselor pernikahan beda agama, dan Intan Erlita, M.Psi selaku psikolog.
Baca juga: Isi Libur Lebaran dengan Original Series Vision+
“Terkait dengan pernikahan beda agama, pada umumnya agama-agama itu memiliki pandangan yang melarang atau tidak memperbolehkan, tetapi yang menarik adalah riset saya tahun 2005-2010 itu menemukan hal-hal yang menarik, sebetulnya,” ujar Ahmad Nurcholish.
Di sisi lain, Intan Erlita menjelaskan fenomena pernikahan beda agama menurut ilmu psikologi.
“Ketika memutuskan untuk menikah beda agama, itu harus dipahami bahwa di sesuatu yang dasar, kita sudah berbeda. Jadi itu harus menjadi pertimbangan yang sangat matang. Kalau kamu nikah karena hanya ‘aku sayang kamu’, itu nggak bertahan lama, tetapi kalau kita menikah karena mau menerima semua yang dimiliki pasangan kita, maka itu bisa kalian jalani,” jelas Intan Erlita.
Lihat Juga :