CERMIN: Mencari Jalan Pulang via Ngeri-Ngeri Sedap
Sabtu, 04 Juni 2022 - 09:30 WIB
loading...
Film Ngeri-Ngeri Sedap menceritakan hubungan ayah-anak dan aksi menantang adat. Foto/Imajinari
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2016. Karier profesional saya sebagai produser film sudah berjalan lima tahun. Sudah lima film panjang dihasilkan. Dan saya memutuskan untuk “pulang”.
Bagi para perantau, pulang adalah sebuah kemewahan. Pulang tak lagi sesederhana ketika kita baru meninggalkan kampung halaman. Setelah bertahun-tahun berjuang, kita tahu suatu saat kita akan pulang untuk berkarya.
Padatahun itu, saya memilih untuk pulang ke Makassar dan menyusuri cerita-cerita yang familier buat saya. Saya memilih isu kawin lari untuk berbicara dua hal yang menurut saya penting: soal adat dan keluarga.
Maka jadilah SILARIANG: Cinta Yang [Tak] Direstui,bukan sebagai kisah yang sudah dipahami sebagian besar orang, juga tentang hubungan orang tua dan anak, serta tentang bagaimana seharusnya adat memanusiakan manusia.
![CERMIN: Mencari Jalan Pulang via Ngeri-Ngeri Sedap]()
Foto: Imajinari
Dalam film itu, kita bertemu dengan Yusuf yang dengan gagah berani menantang adat. Situasi ini banyak terjadi di beragam suku lainnya. Karakter Yusuf sekilas tampak seperti Domu, karakter dalam film Ngeri-Ngeri Sedap, yang tak ingin terkungkung dalam adat Batak dan menikahi gadis Sunda.
Yusuf menantang secara terang-terangan, Domu memilih jalan senyap. Karena ia tahu ayahnya akan menentang dan menantangnya habis-habisan.
Domu ada di semua lapisan suku di Indonesia. Dibesarkan di kampung halaman, merantau sedari muda dan akhirnya berbaur dengan lapisan masyarakat lainnya. Domu yang Batak kini menjelma menjadi Domu yang Indonesia yang tak lagi sempit melihat kesukuan.
Baca Juga: CERMIN: Maverick 36 Tahun Kemudian
Bagi para perantau, pulang adalah sebuah kemewahan. Pulang tak lagi sesederhana ketika kita baru meninggalkan kampung halaman. Setelah bertahun-tahun berjuang, kita tahu suatu saat kita akan pulang untuk berkarya.
Padatahun itu, saya memilih untuk pulang ke Makassar dan menyusuri cerita-cerita yang familier buat saya. Saya memilih isu kawin lari untuk berbicara dua hal yang menurut saya penting: soal adat dan keluarga.
Maka jadilah SILARIANG: Cinta Yang [Tak] Direstui,bukan sebagai kisah yang sudah dipahami sebagian besar orang, juga tentang hubungan orang tua dan anak, serta tentang bagaimana seharusnya adat memanusiakan manusia.

Foto: Imajinari
Dalam film itu, kita bertemu dengan Yusuf yang dengan gagah berani menantang adat. Situasi ini banyak terjadi di beragam suku lainnya. Karakter Yusuf sekilas tampak seperti Domu, karakter dalam film Ngeri-Ngeri Sedap, yang tak ingin terkungkung dalam adat Batak dan menikahi gadis Sunda.
Yusuf menantang secara terang-terangan, Domu memilih jalan senyap. Karena ia tahu ayahnya akan menentang dan menantangnya habis-habisan.
Domu ada di semua lapisan suku di Indonesia. Dibesarkan di kampung halaman, merantau sedari muda dan akhirnya berbaur dengan lapisan masyarakat lainnya. Domu yang Batak kini menjelma menjadi Domu yang Indonesia yang tak lagi sempit melihat kesukuan.
Baca Juga: CERMIN: Maverick 36 Tahun Kemudian
Lihat Juga :