CERMIN: Mencari Jalan Pulang via Ngeri-Ngeri Sedap
Sabtu, 04 Juni 2022 - 09:30 WIB
loading...
A
A
A
Domu punya masalah komunikasi dengan ayahnya. Sama seperti yang dialami banyak anak laki-laki termasuk saya. Sebelum merantau, hubungan saya dengan ayah saya tak terlalu baik. Saya bahkan merantau diam-diam, tak meminta ijin ke beliau karena tahu tak bakal diizinkan. Sosok Bapak dalam film Ngeri-Ngeri Sedapadalah representasi para ayah dari generasi X.
Yang banyak dari kita baru tahu kemudian adalah diam-diam para bapak dengan para anak yang merantau itu juga merindukan diam-diam. Perlahan hubungan saya dengan ayah saya membaik justru setelah saya meninggalkan kampung halaman. Kami bisa berbicara lebih terbuka soal apa pun dari ke hati. Ketika bertemu, kami pun tak sekaku sebelumnya.
![CERMIN: Mencari Jalan Pulang via Ngeri-Ngeri Sedap]()
Foto: Imajinari
Mau Batak atau Makassar, sosok bapak dari generasi X mungkin memang sebagian besar sekaku itu. Maka terenyuhlah kita ketika Domu curhat ke adik perempuan satu-satunya, “Kami tak pernah diperlihatkan oleh Bapak bagaimana cara berkomunikasi sesama laki-laki.”
Maka Domu, Gabe, dan Sahat pun hampir sekaku ayah mereka ketika berada di satu ruangan yang sama. Mereka tak punya role model sosok laki-laki yang bisa bersikap cair kepada anak-anaknya.
Menarik sekali melihat bagaimana sosok bapak diperlihatkan sehitam putih itu ke penonton. Yang lebih menarik adalah penggambaran itu terasa tak menghakimi. Hanya mengajak penonton untuk melihat tanpa menyalahkan, hanya mengajak penonton untuk mendengarkan tanpa membenarkan.
Mungkin sekilas Bapak terasa seperti sosok dua dimensi, tapi di tangan aktor sehebat Arswendi Nasution, sosok yang susah sekali untuk disukai ini bisa menjelma seperti bapak yang saya temui di rumah.
Bapak yang mungkin pernah kita benci tapi akan selalu kita sayangi sepenuh hati. Dengan sorot mata dan lenturnya olah tubuh, kita tahu Bapak adalah sosok ayah yang diam-diam merindukan anak-anaknya untuk pulang. Tapi gengsinya terlalu berlebihan mengalahkan rindunya.
![CERMIN: Mencari Jalan Pulang via Ngeri-Ngeri Sedap]()
Foto: Imajinari
Yang banyak dari kita baru tahu kemudian adalah diam-diam para bapak dengan para anak yang merantau itu juga merindukan diam-diam. Perlahan hubungan saya dengan ayah saya membaik justru setelah saya meninggalkan kampung halaman. Kami bisa berbicara lebih terbuka soal apa pun dari ke hati. Ketika bertemu, kami pun tak sekaku sebelumnya.

Foto: Imajinari
Mau Batak atau Makassar, sosok bapak dari generasi X mungkin memang sebagian besar sekaku itu. Maka terenyuhlah kita ketika Domu curhat ke adik perempuan satu-satunya, “Kami tak pernah diperlihatkan oleh Bapak bagaimana cara berkomunikasi sesama laki-laki.”
Maka Domu, Gabe, dan Sahat pun hampir sekaku ayah mereka ketika berada di satu ruangan yang sama. Mereka tak punya role model sosok laki-laki yang bisa bersikap cair kepada anak-anaknya.
Menarik sekali melihat bagaimana sosok bapak diperlihatkan sehitam putih itu ke penonton. Yang lebih menarik adalah penggambaran itu terasa tak menghakimi. Hanya mengajak penonton untuk melihat tanpa menyalahkan, hanya mengajak penonton untuk mendengarkan tanpa membenarkan.
Mungkin sekilas Bapak terasa seperti sosok dua dimensi, tapi di tangan aktor sehebat Arswendi Nasution, sosok yang susah sekali untuk disukai ini bisa menjelma seperti bapak yang saya temui di rumah.
Bapak yang mungkin pernah kita benci tapi akan selalu kita sayangi sepenuh hati. Dengan sorot mata dan lenturnya olah tubuh, kita tahu Bapak adalah sosok ayah yang diam-diam merindukan anak-anaknya untuk pulang. Tapi gengsinya terlalu berlebihan mengalahkan rindunya.

Foto: Imajinari
Lihat Juga :