Diskriminasi, Mengapa Ada dan Terus Terulang?

Sabtu, 27 Juni 2020 - 08:01 WIB
loading...
Diskriminasi, Mengapa...
Diskriminasi kerap terjadi pada kelompok minoritas, dan berawal dari stigma negatif yang dibiarkan berkembang. Foto/Nathan Dumlao, Unsplash
A A A
JAKARTA - Belakangan ini, kita sering mendengar kasus-kasus mengenai diskriminasi. Tapi, sebenarnya, apa, sih, diskriminasi itu?

Mengutip dari Amnesty International, LSM swasta yang fokus pada isu hak asasi manusia (HAM), diskriminasi adalah ketika seseorang tidak dapat menikmati hak asasi manusianya atau hak-hak hukum lainnya atas dasar kesetaraan dengan orang lain, karena perbedaan yang tidak dapat dibenarkan, yang dibuat dalam kebijakan, hukum, atau perlakuan.

Aslinya, kita semua punya hak untuk diperlakukan secara setara, gak pandang ras, suku, kelas sosial, agama, jenis kelamin, atau status lainnya.

Sayangnya, sering banget kita lihat atau dengar ada orang-orang yang mendapat ketidakadilan di lingkungannya, cuma gara-gara mereka dianggap sebagai bagian dari kelompok yang “berbeda” dan posisinya gak kuat atau jadi minoritas di lingkungannya.

Diskriminasi, Mengapa Ada dan Terus Terulang?

Foto: afdinternational.org

Contohnya, seseorang atau sebuah keluarga merantau ke daerah yang jauh dari kampungnya. Di daerah baru tersebut, keluarga itu mendapat perlakuan yang gak menyenangkan. Mereka gak diterima oleh sekitarnya dan gak mendapat layanan kesehatan karena sukunya bukan berasal dari daerah itu.

Diskriminasi gender juga sering kali terjadi. Dalam suatu organisasi, terkadang ada peraturan yang mengesankan bahwa perempuan gak bisa menjadi pemimpin organisasi tersebut, sepotensial apa pun dirinya.

Yang berhak menjadi pemimpin cuma laki-laki. Hal ini membatasi kebebasan perempuan dalam mengembangkan kemampuannya.

Kasus-kasus ini dekat dengan kita. Apalagi Indonesia adalah negara yang penduduknya beragam dari banyak segi, jadi peluang terjadinya kasus diskriminasi terbuka lebar, dan terus berulang.

Diskriminasi, Mengapa Ada dan Terus Terulang?

Foto: Getty Images

Pertanyaannya, mengapa bisa terus berulang?

Andi Muhammad Rezaldy, staf Divisi Pembelaan HAM di LSM Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menjelaskan bahwa diskriminasi bermula dari adanya prasangka, dan terulang karena prasangka dibiarkan tumbuh berkembang.

“Dari prasangka itu berubah ke dalam bentuk tindakan. Prasangka itu maksudnya sikap negatif kita dalam berpikir terhadap individu atau kelompok tertentu tanpa dasar alasan yang benar,” jelas Andi.

Dilanggengkan Kebijakan

Masih menurut Andi, prasangka bisa muncul dari berbagai sumber, salah satunya dari faktor lingkungan.

“Setiap dari diri kita, saya percaya awalnya tidak memiliki prasangka buruk atau menaruh kebencian terhadap kelompok tertentu, tapi karena adanya faktor lingkungan atau eksternal, sikap kebencian itu dapat timbul dan tumbuh dengan sendirinya,” ujarnya.

Selain itu, ada juga teori kambing hitam, yang pada intinya karena rasa kecewa atau frustasinya yang gak bisa diekspresikan, maka ia arahkan pada target yang dianggap rentan dan lemah.

Diskriminasi, Mengapa Ada dan Terus Terulang?

Foto: fedemploymentlaw.com

Andi jugamenuturkan bahwa beberapa kebijakan negara juga melanggengkan diskriminasi itu terjadi.

“Sebagai contoh, ada temuan Komnas Perempuan, yaitu terdapat 421 perda yang diskriminatif dan merugikan perempuan. Bentuknya pembatasan ekspresi, pembatasan identitas, dan memosisikan perempuan tidak setara dengan laki-laki,” tegas Andi.

Dalam konteks keagamaan, KontraS mencatat selama periode Desember 2018 - November 2019, tercatat ada 70 peristiwa dengan mayoritas tindakan pelarangan dan persekusi.

Diskriminasi, Mengapa Ada dan Terus Terulang?

Foto: Getty Images

“Menurut saya, cara mengatasi agar diskriminasi itu tidak terjadi lagi, khusus untuk negara, harus mencabut segala bentuk regulasi yang diskriminatif karena dapat dijadikan oleh orang atau kelompok intoleran untuk menggunakan instrumen tersebut sebagai alasan pembenar melakukan tindakan diskriminatif,” ujarnya panjang lebar.

Selain itu, Andi juga mengingatkan masyarakat untuk pentingnya membuat ruang-ruang dialog, baik oleh tokoh agama maupun tokoh masyarakat untuk bisa meminimalisir prasangka negatif terhadap kelompok tertentu dan bisa memutus siklus prasangka.

GenSINDO
Farah Nadhilah
Politeknik Negeri Jakarta
(it)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Puan Ungkap 16 Isu yang...
Puan Ungkap 16 Isu yang Jadi Sorotan Publik Bakal Diawasi DPR
Ribka Tjiptaning Soroti...
Ribka Tjiptaning Soroti Tindakan Diskriminatif kepada Penyintas HIV/AIDS
Hadapi Diskriminasi...
Hadapi Diskriminasi Global, Indonesia Perketat Standar Sawit Berkelanjutan
Rekomendasi
Ketum IPSI Sambut Komitmen...
Ketum IPSI Sambut Komitmen Presiden Prabowo soal Pelatnas Jangka Panjang, Optimistis Pencak Silat Mendunia
BPDP Unjuk Gigi Tampilkan...
BPDP Unjuk Gigi Tampilkan Produk Turunan Kakao EastFood Indonesia 2026
Kantongi Pendanaan USD11,3...
Kantongi Pendanaan USD11,3 Juta, FLOQ Pacu Integrasi Teknologi Blockchain
Berita Terkini
Nyaris Kaya Mendadak,...
Nyaris Kaya Mendadak, Driver Ojol Tak Menyangka Temuan Ini Disebut Jeratan Gaib
Miyako Gelar Lomba Desain,...
Miyako Gelar Lomba Desain, Ajak Mahasiswa Berkreasi dan Dukung Pendidikan di NTT
Tantri Kotak Beberkan...
Tantri Kotak Beberkan Awal Mula Jadi Korban Penipuan, Bermula dari Teman Sekolah Anak
Insting Buruknya Jadi...
Insting Buruknya Jadi Nyata! Pengemudi Ojol Ngaku Jadi Target Ilmu Hitam hingga Alami Kecelakaan
Sinopsis Sinetron Tobat...
Sinopsis Sinetron 'Tobat Jatuh Cinta' Eps 4: Tingkah Lucu Warga Kampung Sindang Barang Tetap Mewarnai Suasana
Industri Perfilman Indonesia...
Industri Perfilman Indonesia Masuki Era Baru Pendanaan Digital, Puluhan Proyek Film Siap Dikembangkan
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved