CERMIN: Tuhan (Tak) Ada di Guantanamo
Rabu, 20 Juli 2022 - 20:21 WIB
loading...
A
A
A
Korbannya adalah ribuan orang terpenjara atas nama terorisme di sana seperti Mohamedou. Dengan gamblang, The Mauritanian memperlihatkan betapa brutalnya hukum yang berdiri atas nama ketakutan.
Baca Juga: CERMIN: Perjalanan Membawamu
Hukum yang tak pernah mencoba adil, hukum yang tak bisa melihat dengan jernih dan hukum yang tak mungkin berlaku jujur. Hukum itu melucuti hak dasar manusia dan memperlakukannya sebagai objek, bahkan untuk sebuah alasan yang tak bisa disebutkan.
Sejak 11 September 2001, ketakutan dan rasa benci hidup harmonis di Amerika. Segala berbau Arab dianggap identik dengan terorisme, segala berbau Islam dengan mudah dicium dengan prasangka buruk dan kita tahu ujungnya adalah kesewenang-wenangan.
Kesewenang-wenangan itu dipelihara puluhan tahun. Tak terhitung berapa banyak orang yang dijebloskan ke Guantanamo tanpa tahu tuduhan apa yang dialamatkan kepada mereka.
Juga tak terhitung berapa banyak keluarga yang menderita karena tak pernah tahu nasib salah satu anggota keluarga mereka yang menghilang begitu saja. Tak terbilang bagaimana rasanya menjadi ibu dari para tahanan yang tak pernah melihat putranya selama bertahun-tahun dan terus memelihara harapan hingga harapan itu mati bersama mereka. Seperti ibu Mohamedou.
![CERMIN: Tuhan (Tak) Ada di Guantanamo]()
Foto: STX Entertainment
Ketakutan dan rasa benci dengan mudah menjadi alasan bagi Amerika untuk membuat garis batas jelas: “kami” dan “bukan kami”. Seakan garis batas itu mudah dibuat. Seakan “kami” hanya identik dengan warna kulit dan agama tertentu. Padahal Amerika pun tahu tak mudah mengidentifikasi diri sebagai “bukan kami”.
Bagaimana dengan warga Amerika keturunan Pakistan dan beragama Islam yang juga menjadi korban dari serangan biadab itu? Bagaimana pula dengan segelintir warga Amerika yang mensyukuri serangan itu sebagai “ujian bagi kesombongan Amerika”?
Baca Juga: CERMIN: Perjalanan Membawamu
Hukum yang tak pernah mencoba adil, hukum yang tak bisa melihat dengan jernih dan hukum yang tak mungkin berlaku jujur. Hukum itu melucuti hak dasar manusia dan memperlakukannya sebagai objek, bahkan untuk sebuah alasan yang tak bisa disebutkan.
Sejak 11 September 2001, ketakutan dan rasa benci hidup harmonis di Amerika. Segala berbau Arab dianggap identik dengan terorisme, segala berbau Islam dengan mudah dicium dengan prasangka buruk dan kita tahu ujungnya adalah kesewenang-wenangan.
Kesewenang-wenangan itu dipelihara puluhan tahun. Tak terhitung berapa banyak orang yang dijebloskan ke Guantanamo tanpa tahu tuduhan apa yang dialamatkan kepada mereka.
Juga tak terhitung berapa banyak keluarga yang menderita karena tak pernah tahu nasib salah satu anggota keluarga mereka yang menghilang begitu saja. Tak terbilang bagaimana rasanya menjadi ibu dari para tahanan yang tak pernah melihat putranya selama bertahun-tahun dan terus memelihara harapan hingga harapan itu mati bersama mereka. Seperti ibu Mohamedou.

Foto: STX Entertainment
Ketakutan dan rasa benci dengan mudah menjadi alasan bagi Amerika untuk membuat garis batas jelas: “kami” dan “bukan kami”. Seakan garis batas itu mudah dibuat. Seakan “kami” hanya identik dengan warna kulit dan agama tertentu. Padahal Amerika pun tahu tak mudah mengidentifikasi diri sebagai “bukan kami”.
Bagaimana dengan warga Amerika keturunan Pakistan dan beragama Islam yang juga menjadi korban dari serangan biadab itu? Bagaimana pula dengan segelintir warga Amerika yang mensyukuri serangan itu sebagai “ujian bagi kesombongan Amerika”?
Lihat Juga :