CERMIN: Adaptasi atau Mati
Sabtu, 30 Juli 2022 - 08:38 WIB
loading...
Miniseri Shining Girls diadaptasi dari novel karya Lauren Beukes yang dirilis pada 2013. Foto/Apple TV+
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2020. Setahun setelah saya memulai karier sebagai sutradara, saya menantang diri mengadaptasi novel populer.
Novel itu berjudul Asya Story yang dibaca hampir 30 juta kali di Wattpad ketika saya memutuskan untuk mengadaptasinya menjadi miniseri. Bagi sebagian besar pembacanya, Asya Story mungkin dianggap sebagai cerita tentang gadis korban kekerasan seksual yang bertemu dengan pangeran tampan. Namun bagi saya, Asya Story adalah cerita tentang trauma dan bagaimana menjalani hidup dengan trauma tersebut.
Sewaktu Silka Luisa membaca novel Shining Girls karya Lauren Beukes, seperti saya, ia tertarik bercerita lebih dalam melalui medium yang sangat berbeda dari novel: audio visual. Dalam medium ini, imajinasi dibatasi oleh interpretasi dari pembuatnya, sementara dalam novel, imajinasi melayang liar tak terbatas dalam benak para pembaca.
Baik Luisa maupun saya memahami betul ini dan beranggapan bahwa apa pun bisa ditempuh dalam proses mengadaptasi novel menjadi audio visual sepanjang kita memahami esensinya.
Saya membaca novel Asya Story dengan pemahaman tentang Asya yang terluka batinnya cukup dalam, bergulat dengan traumanya dan pelan-pelan membuka hatinya. Soal kekerasan seksual yang saya tampilkan cukup eksplisit dalam miniseri adaptasinya sesungguhnya cuma disinggung sekilas dalam prolog novelnya.
![CERMIN: Adaptasi atau Mati]()
Foto: Apple TV+
Namun saya justru menganggap bahwa hal tersebut adalah bagian penting dari cerita ini. Melalui peristiwa yang menimbulkan trauma itu, saya bisa bercerita secara lebih jernih. Sementara Luisa memutuskan untuk bercerita dari satu sudut pandang, berbeda dengan novelnya yang menimbulkan multi sudut pandang.
Ia dengan berani menampilkan sosok pelaku pemerkosa pada awal cerita, sebagaimana saya pun melakukannya ketika mengekspos sosok Alex yang memperkosa Asya dalam episode perdana miniseri adaptasinya.
Miniseri Shining Girlsmembawa kita, para penonton, menyaksikan Kirby, si tokoh utama, bertualang melompati waktu demi membongkar peristiwa perkosaan yang dihadapinya. Luis membawa kita pada pemahaman baru: bahwa korban perkosaan bisa bangkit dan berani berhadapan langsung dengan sang pelaku.
Novel itu berjudul Asya Story yang dibaca hampir 30 juta kali di Wattpad ketika saya memutuskan untuk mengadaptasinya menjadi miniseri. Bagi sebagian besar pembacanya, Asya Story mungkin dianggap sebagai cerita tentang gadis korban kekerasan seksual yang bertemu dengan pangeran tampan. Namun bagi saya, Asya Story adalah cerita tentang trauma dan bagaimana menjalani hidup dengan trauma tersebut.
Sewaktu Silka Luisa membaca novel Shining Girls karya Lauren Beukes, seperti saya, ia tertarik bercerita lebih dalam melalui medium yang sangat berbeda dari novel: audio visual. Dalam medium ini, imajinasi dibatasi oleh interpretasi dari pembuatnya, sementara dalam novel, imajinasi melayang liar tak terbatas dalam benak para pembaca.
Baik Luisa maupun saya memahami betul ini dan beranggapan bahwa apa pun bisa ditempuh dalam proses mengadaptasi novel menjadi audio visual sepanjang kita memahami esensinya.
Saya membaca novel Asya Story dengan pemahaman tentang Asya yang terluka batinnya cukup dalam, bergulat dengan traumanya dan pelan-pelan membuka hatinya. Soal kekerasan seksual yang saya tampilkan cukup eksplisit dalam miniseri adaptasinya sesungguhnya cuma disinggung sekilas dalam prolog novelnya.

Foto: Apple TV+
Namun saya justru menganggap bahwa hal tersebut adalah bagian penting dari cerita ini. Melalui peristiwa yang menimbulkan trauma itu, saya bisa bercerita secara lebih jernih. Sementara Luisa memutuskan untuk bercerita dari satu sudut pandang, berbeda dengan novelnya yang menimbulkan multi sudut pandang.
Ia dengan berani menampilkan sosok pelaku pemerkosa pada awal cerita, sebagaimana saya pun melakukannya ketika mengekspos sosok Alex yang memperkosa Asya dalam episode perdana miniseri adaptasinya.
Miniseri Shining Girlsmembawa kita, para penonton, menyaksikan Kirby, si tokoh utama, bertualang melompati waktu demi membongkar peristiwa perkosaan yang dihadapinya. Luis membawa kita pada pemahaman baru: bahwa korban perkosaan bisa bangkit dan berani berhadapan langsung dengan sang pelaku.
Lihat Juga :