10 Adaptasi Live-Action Anime Paling Jelek Sepanjang Masa
Minggu, 31 Juli 2022 - 07:17 WIB
loading...
A
A
A
Meski filmnya besar, kreatornya tidak bisa membiarkan karakternya punya waktu yang cukup untuk berkembang dan tumbuh pada audiens-nya. Selain itu, inkonsistensi dan akhir longgar plotnya adalah titik kegagalan film dua bagian ini. Dengan dua film, seharusnya adaptasi live-action ini punya banyak waktu untuk berkembang.
![10 Adaptasi Live-Action Anime Paling Jelek Sepanjang Masa]()
Foto: Forbes
Film live-action yang dirilis pada 2009 ini diangkat dari franchise Dragon Ball. Selain dari penulis naskahnya, Ben Ramsey, dengan memperlakukan film ini sebagai proyek untuk mendapatkan keungungan, mereka meng-casting aktor non-Asia, Justin Chatwin, sebagai Goku. Film ini mengabaikan pembangunan dunia dan pengembangan karakter yang dinikmati penggemar di manga dan anime.
Para kreatornya memangkas asal usul Goku. Mereka juga tidak memasukkan busur bagaimana dia mendapatkan kemampuannya dan menjadi seorang Saiyan. Selain itu, franchise Dragon Ball sudah ada sebelum Big Three. Ini lebih lanjut meningkatkan kemarahan atas film itu.
![10 Adaptasi Live-Action Anime Paling Jelek Sepanjang Masa]()
Foto: Amino Apps
Serial klasik modern ini menghadapi tema rumit seperti perang, politik dan moral. Menjustifikasi sebuah anime dengan ide luas seperti itu adalah tugas yang sulit meng-casting aktor Jepang untuk film tentang Jerman adalah masalah adaptasi film live-action Attack on Titan.
Film live-action ini meremehkan sifat rumit karakternya. Film ini menggambarkan mereka sebagai remaja dangkal dan egois. Sementara CGI-nya lumayan bagus, penggemar merasa film ini agak terlalu bergantung pada efek khusus, terutama untuk Titan-nya, yang tidak terlihat menakutkan seperti di anime.
![10 Adaptasi Live-Action Anime Paling Jelek Sepanjang Masa]()
Foto: ComicBook.com
Adaptasi live action ini ke mana-mana. Ber-setting pada 2000-an, alih-alih abad 20, film ini mengacaukan sejumlah poin plot utama dan deskripsi karakternya. Ciel Phantomhive menjadi Ciel Genpo, seorang cewek muda, bukan cowok muda. Iblis karismatik Sebastian menjadi orang bodoh yang tidak sepadang dengan garamnya.
Di film ini, Sebastian juga mengabaikan kesepakatan Faustian yang dibuat Ciel dengannya. Alih-alih melahap jiwa Ciel, Sebastian malah jatuh cinta padanya. Sekuat apa pun ikatan Ciel dan Sebastian di anime, perubahan di adaptasi live-action ini sama sekali tidak bisa diterima.
![10 Adaptasi Live-Action Anime Paling Jelek Sepanjang Masa]()
Foto: Moria Reviews
Anime ini dikenal sebagai serial body horror-thriller-sci-fi. Sayang, film live-action-nya punya CGI terburuk. Selain dari efek khusus yang dipertanyakan, film ini gagal menangkap inti sesungguhnya serial ini. Karakternya, dalam desain dan kepribadian, berbeda dari materi sumbernya.
7. Dragon Ball: Evolution

Foto: Forbes
Film live-action yang dirilis pada 2009 ini diangkat dari franchise Dragon Ball. Selain dari penulis naskahnya, Ben Ramsey, dengan memperlakukan film ini sebagai proyek untuk mendapatkan keungungan, mereka meng-casting aktor non-Asia, Justin Chatwin, sebagai Goku. Film ini mengabaikan pembangunan dunia dan pengembangan karakter yang dinikmati penggemar di manga dan anime.
Para kreatornya memangkas asal usul Goku. Mereka juga tidak memasukkan busur bagaimana dia mendapatkan kemampuannya dan menjadi seorang Saiyan. Selain itu, franchise Dragon Ball sudah ada sebelum Big Three. Ini lebih lanjut meningkatkan kemarahan atas film itu.
6. Attack on Titan

Foto: Amino Apps
Serial klasik modern ini menghadapi tema rumit seperti perang, politik dan moral. Menjustifikasi sebuah anime dengan ide luas seperti itu adalah tugas yang sulit meng-casting aktor Jepang untuk film tentang Jerman adalah masalah adaptasi film live-action Attack on Titan.
Film live-action ini meremehkan sifat rumit karakternya. Film ini menggambarkan mereka sebagai remaja dangkal dan egois. Sementara CGI-nya lumayan bagus, penggemar merasa film ini agak terlalu bergantung pada efek khusus, terutama untuk Titan-nya, yang tidak terlihat menakutkan seperti di anime.
5. Black Butler

Foto: ComicBook.com
Adaptasi live action ini ke mana-mana. Ber-setting pada 2000-an, alih-alih abad 20, film ini mengacaukan sejumlah poin plot utama dan deskripsi karakternya. Ciel Phantomhive menjadi Ciel Genpo, seorang cewek muda, bukan cowok muda. Iblis karismatik Sebastian menjadi orang bodoh yang tidak sepadang dengan garamnya.
Di film ini, Sebastian juga mengabaikan kesepakatan Faustian yang dibuat Ciel dengannya. Alih-alih melahap jiwa Ciel, Sebastian malah jatuh cinta padanya. Sekuat apa pun ikatan Ciel dan Sebastian di anime, perubahan di adaptasi live-action ini sama sekali tidak bisa diterima.
4. Parasyte

Foto: Moria Reviews
Anime ini dikenal sebagai serial body horror-thriller-sci-fi. Sayang, film live-action-nya punya CGI terburuk. Selain dari efek khusus yang dipertanyakan, film ini gagal menangkap inti sesungguhnya serial ini. Karakternya, dalam desain dan kepribadian, berbeda dari materi sumbernya.
Lihat Juga :