CERMIN: Apa yang Kau Cari, Sophie?
Sabtu, 03 September 2022 - 13:07 WIB
loading...
A
A
A
Ada 1001 kemungkinan tentang masa lalu kita yang bisa menyerang kita kapan saja. Bagaimana jika pada masa lalu, kita adalah seseorang dengan perilaku buruk? Bagaimana jikapada masa lalu, kita justru adalah karakter antagonis dalam cerita kita sendiri?
![CERMIN: Apa yang Kau Cari, Sophie?]()
Foto: Apple TV
Saya ingat sebuah film yang tak kalah uniknya, Eternal Sunshine of the Spotless Minds. Dikisahkan Clem yang sakit hati dengan mantan kekasihnya, Joel, melakukan tindakan radikal: menghapus semua memori tentang mantan dan akhirnya tak mengenalinya sama sekali. Bagi Clem, masa lalu tentang seorang adalah kabar buruk dan ia punya pilihan untuk menghilangkannya sama sekali.
Tapi Sophie berbeda. Ia penasaran dengan masa lalunya. Bayangan samar-samar justru memberinya rasa penasaran. “Apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku sebelumnya?” mungkin begitu tanya yang terus bergaung di benaknya.
Baca Juga: CERMIN: Drama Sambo di Tangan Charles, Oliver, dan Mabel
Benarkah ia ingin bunuh diri di tengah kehidupan yang tampak sempurna yang dijalaninya? Apakah tak mungkin jika ia dijebak untuk melakukan upaya bunuh diri? Dan 1001 pertanyaan terus bermunculan di benak Sophie dan di benak kita semua sebagai penonton.
Bagi sebagian orang, kenangan masa lalu mulai tampak samar. Beberapa di antaranya berupa potongan demi potongan yang menunggu untuk direkatkan. Beberapa kenangan masa lalu yang buruk bisa jadi mencuat dan kita terkesan bagaimana cara kerja otak menyembunyikannya selama ini.
Sementara otak kita bekerja dengan lebih banyak memunculkan kenangan manis. Apakah bawah sadar kita memang selalu menginginkan untuk menyembunyikan luka dan trauma?
![CERMIN: Apa yang Kau Cari, Sophie?]()
Foto: Apple TV
Luka, trauma, dan masa lalu. Ketiganya berpilin dan tak mencoba menjadi lebih dominan satu dengan yang lain. Ketiganya membentuk diri kita seperti sekarang. Luka terasa perih jika terus menerus dikorek dan kita akan tiba di satu titik saat akhirnya kita berdamai dengannya.

Foto: Apple TV
Saya ingat sebuah film yang tak kalah uniknya, Eternal Sunshine of the Spotless Minds. Dikisahkan Clem yang sakit hati dengan mantan kekasihnya, Joel, melakukan tindakan radikal: menghapus semua memori tentang mantan dan akhirnya tak mengenalinya sama sekali. Bagi Clem, masa lalu tentang seorang adalah kabar buruk dan ia punya pilihan untuk menghilangkannya sama sekali.
Tapi Sophie berbeda. Ia penasaran dengan masa lalunya. Bayangan samar-samar justru memberinya rasa penasaran. “Apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku sebelumnya?” mungkin begitu tanya yang terus bergaung di benaknya.
Baca Juga: CERMIN: Drama Sambo di Tangan Charles, Oliver, dan Mabel
Benarkah ia ingin bunuh diri di tengah kehidupan yang tampak sempurna yang dijalaninya? Apakah tak mungkin jika ia dijebak untuk melakukan upaya bunuh diri? Dan 1001 pertanyaan terus bermunculan di benak Sophie dan di benak kita semua sebagai penonton.
Bagi sebagian orang, kenangan masa lalu mulai tampak samar. Beberapa di antaranya berupa potongan demi potongan yang menunggu untuk direkatkan. Beberapa kenangan masa lalu yang buruk bisa jadi mencuat dan kita terkesan bagaimana cara kerja otak menyembunyikannya selama ini.
Sementara otak kita bekerja dengan lebih banyak memunculkan kenangan manis. Apakah bawah sadar kita memang selalu menginginkan untuk menyembunyikan luka dan trauma?

Foto: Apple TV
Luka, trauma, dan masa lalu. Ketiganya berpilin dan tak mencoba menjadi lebih dominan satu dengan yang lain. Ketiganya membentuk diri kita seperti sekarang. Luka terasa perih jika terus menerus dikorek dan kita akan tiba di satu titik saat akhirnya kita berdamai dengannya.
Lihat Juga :