Bahaya Child Grooming, Saat Orang Dewasa Pacaran dengan Remaja di Bawah Umur
Rabu, 28 September 2022 - 18:53 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, para groomer juga senang kontak fisik dengan remaja di bawah umur lewat modus permainan, seperti masak-masakan, dokter-dokteran, dan sejenisnya.
Tahapan Seseorang Melakukan Child Grooming
Setidaknya ada lima tahapan saat seorang groomermenjalankan aksinya terhadap korban. Mengutip sejumlah sumber, kelima tahapan tersebut dimulai dari selecting, accesing, trust building, relationship building, dan silenting.
Baca Juga: 4 Drama Korea dengan Hubungan Cinta yang Menyeramkan
Selecting adalah cara pelaku dalam menyeleksi korban berdasarkan daya tarik fisik hingga kemudahan akses untuk melakukan tindakan. Setelahnya, pelaku akan mencari akses utama yang akan memudahkannya dalam melakukan pendekatan dengan korban (accesing).
Lalu, pelaku akan membangun kepercayaan dan ikatan emosional dengan korbannya, tahap ini disebut trust building. Bisa dibilang, pelaku akan membangun citra yang baik di mata korbannya, seperti melakukan obrolan intens, sering memberikan pujian, hingga membelikan hadiah.
![Bahaya Child Grooming, Saat Orang Dewasa Pacaran dengan Remaja di Bawah Umur]()
Foto: Ron Lach/Pexels
Setelah mulai terpikat, pelaku akan membawa korban menuju hubungan percintaan ataupun persahabatan palsu (relationship building). Pada tahap ini, korban biasanya akan dimanfaatkan untuk melakukan hubungan badan ataupun sejenisnya. Di sini, pelaku sudah memiliki kendali penuh dan bisa melakukan tindakan sesuka hatinya terhadap korban.
Tahap terakhir yaitu silenting, pada kondisi ini pelaku akan meminta korban untuk merahasiakan seluruh kejahatannya dari publik. Apabila tidak menurutinya, korban akan menerima rangkaian ancaman dari pelaku.
Ciri-Ciri Korban Child Grooming
Tahapan Seseorang Melakukan Child Grooming
Setidaknya ada lima tahapan saat seorang groomermenjalankan aksinya terhadap korban. Mengutip sejumlah sumber, kelima tahapan tersebut dimulai dari selecting, accesing, trust building, relationship building, dan silenting.
Baca Juga: 4 Drama Korea dengan Hubungan Cinta yang Menyeramkan
Selecting adalah cara pelaku dalam menyeleksi korban berdasarkan daya tarik fisik hingga kemudahan akses untuk melakukan tindakan. Setelahnya, pelaku akan mencari akses utama yang akan memudahkannya dalam melakukan pendekatan dengan korban (accesing).
Lalu, pelaku akan membangun kepercayaan dan ikatan emosional dengan korbannya, tahap ini disebut trust building. Bisa dibilang, pelaku akan membangun citra yang baik di mata korbannya, seperti melakukan obrolan intens, sering memberikan pujian, hingga membelikan hadiah.

Foto: Ron Lach/Pexels
Setelah mulai terpikat, pelaku akan membawa korban menuju hubungan percintaan ataupun persahabatan palsu (relationship building). Pada tahap ini, korban biasanya akan dimanfaatkan untuk melakukan hubungan badan ataupun sejenisnya. Di sini, pelaku sudah memiliki kendali penuh dan bisa melakukan tindakan sesuka hatinya terhadap korban.
Tahap terakhir yaitu silenting, pada kondisi ini pelaku akan meminta korban untuk merahasiakan seluruh kejahatannya dari publik. Apabila tidak menurutinya, korban akan menerima rangkaian ancaman dari pelaku.
Ciri-Ciri Korban Child Grooming
Lihat Juga :