CERMIN: Tragedi di Balik Badai Katrina
Rabu, 05 Oktober 2022 - 15:00 WIB
loading...
A
A
A
Ketiga, listrik mati. Keempat, persediaan makanan, minuman dan obat-obatan semakin menipis. Dan tentu saja, bagaimana kondisi pasien dengan penyakit terminal yang semakin sulit bertahan hidup?
Seorang dokter disumpah untuk memberi pertolongan terbaik bagi para pasiennya. Apa pun perlu dilakukan untuk menyelamatkan nyawa. Namun dalam kondisi tidak ideal dengan harapan nyaris hilang, apa yang harus dilakukan tim medis dengan pasien penyakit terminal?
![CERMIN: Tragedi di Balik Badai Katrina]()
Foto: Apple TV
Anna Pou melakukan yang menurutnya harus dilakukannya. Ia menjunjung tinggi kenyamanan pasiennya. Ia mempertaruhkan karier profesionalnya.
Bisa saja ia memilih untuk menyelamatkan diri sendiri tapi tentu hal tersebut tak akan dilakukannya. Namun yang dilakukan Anna kelak akan menjadi kontroversi. Siapa yang paling pantas menilai pasien mana yang perlu dipertahankan dalam situasi krisis? Siapa yang paling adil menilai pasien mana yang perlu diselamatkan pertama kali dalam situasi tak ideal?
Dan opini kita terbelah. Five Days at Memorialdengan cerdik melakukannya. Ia tak menghakimi yang dilakukan Anna tapi juga memberi perhatian pada yang dilakukan tim investigasi terkait tindakan luar biasa yang Anna lakukan pada pasien terminal. Jika saya sebagai dokter berada dalam situasi yang Anna alami, apakah saya bisa mengambil keputusan yang lebih layak?
Rasa kemanusiaan kita terusik. Rasanya sama seperti ketika kita mendengar pertandingan Persebaya melawan Arema beberapa waktu lalu menelan korban jiwa mendekati 200 orang. Siapa yang perlu dipersalahkan? Siapa yang harus bertanggung jawab?
![CERMIN: Tragedi di Balik Badai Katrina]()
Foto: Apple TV
Dalam kasus Anna Pou, mengapa hanya berfokus padanya dan menyalahkannya? Mengapa tak mempertanyakan begitu lambannya penanganan pemerintah menghadapi situasi krisis seperti itu? Jika pemerintah sigap merespons bencana, mungkin Anna Pou tak harus melakukan yang menurutnya harus dilakukannya.
Seorang dokter disumpah untuk memberi pertolongan terbaik bagi para pasiennya. Apa pun perlu dilakukan untuk menyelamatkan nyawa. Namun dalam kondisi tidak ideal dengan harapan nyaris hilang, apa yang harus dilakukan tim medis dengan pasien penyakit terminal?

Foto: Apple TV
Anna Pou melakukan yang menurutnya harus dilakukannya. Ia menjunjung tinggi kenyamanan pasiennya. Ia mempertaruhkan karier profesionalnya.
Bisa saja ia memilih untuk menyelamatkan diri sendiri tapi tentu hal tersebut tak akan dilakukannya. Namun yang dilakukan Anna kelak akan menjadi kontroversi. Siapa yang paling pantas menilai pasien mana yang perlu dipertahankan dalam situasi krisis? Siapa yang paling adil menilai pasien mana yang perlu diselamatkan pertama kali dalam situasi tak ideal?
Dan opini kita terbelah. Five Days at Memorialdengan cerdik melakukannya. Ia tak menghakimi yang dilakukan Anna tapi juga memberi perhatian pada yang dilakukan tim investigasi terkait tindakan luar biasa yang Anna lakukan pada pasien terminal. Jika saya sebagai dokter berada dalam situasi yang Anna alami, apakah saya bisa mengambil keputusan yang lebih layak?
Rasa kemanusiaan kita terusik. Rasanya sama seperti ketika kita mendengar pertandingan Persebaya melawan Arema beberapa waktu lalu menelan korban jiwa mendekati 200 orang. Siapa yang perlu dipersalahkan? Siapa yang harus bertanggung jawab?

Foto: Apple TV
Dalam kasus Anna Pou, mengapa hanya berfokus padanya dan menyalahkannya? Mengapa tak mempertanyakan begitu lambannya penanganan pemerintah menghadapi situasi krisis seperti itu? Jika pemerintah sigap merespons bencana, mungkin Anna Pou tak harus melakukan yang menurutnya harus dilakukannya.
Lihat Juga :