CERMIN: Memasuki Dunia Bermain Fajar Nugros
Sabtu, 15 Oktober 2022 - 19:13 WIB
loading...
Fajar memanfaatkan betul kesempatan mengeksplorasi taman bermain mahaluas itu. Ia memaksimalkan potensi di semua lini dan para aktor bercahaya lebih terang. (Foto: IDN Pictures)
A
A
A
Tahun 2011. Saya diundang menyaksikan film Cinta di Saku Celana di Reading Room, kafe milik almarhum Richard Oh di Kemang. Saya menjadi saksi betapa Fajar Nugros bisa membesut film dengan kualitas jempolan ketika diberi ruang bermain yang luas.
Cinta di Saku Celana lahir dari cerita yang ditulis sendiri oleh Fajar dan kemudian disutradainya sendiri. Dengan biaya produksi tak besar, di tangan Fajar, cerita itu bisa diolah dengan perspektif unik dan kemudian menjadi identitas Fajar dalam beberapa filmnya berikutnya.
Saya lantas bertemu dengan Fajar saat produksi film Rumah di Seribu Ombak pada akhir tahun 2011. Fajar didapuk sebagai co-director sementara saya membantu Jujur Prananto mengembangkan skenarionya dari novel Erwin Arnada. Saya semakin memahami bahwa Fajar punya visi yang menarik atas film yang dipercayakan kepadanya.
Baca Juga: CERMIN: Menyaksikan Arab Saudi yang Berubah
Dari film panjang pertamanya, Mati Bujang di Tengah Malam pada 2007, perlu waktu hingga 15 tahun bagi Fajar untuk bertemu dunia bermain seluas imajinasinya. IDN Pictures menjadi taman bermain mahaluas yang bisa memuat imajinasinya itu dan hasilnya adalah dua film dengan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan: Srimulat: Hil Yang Mustahal dan Inang.
Dalam Srimulat: Hil Yang Mustahal, Fajar memanfaatkan betul kesempatan besar untuk mengeksplorasi taman bermain mahaluas itu. Ia memaksimalkan potensi di semua lini dan paling tidak kita melihat para aktor bercahaya lebih terang di tangannya. Dalam Inang, kita melihat Fajar melahirkan kembali Naysila Mirdad. Nay yang terbiasa kita lihat sebagai pesinetron dengan peran perempuan lemah lembut tersakiti kini menjelma menjadi aktris tangguh yang bersedia melakukan banyak hal di luar kebiasaannya.
![CERMIN: Memasuki Dunia Bermain Fajar Nugros]()
Foto: IDN Pictures
Cinta di Saku Celana lahir dari cerita yang ditulis sendiri oleh Fajar dan kemudian disutradainya sendiri. Dengan biaya produksi tak besar, di tangan Fajar, cerita itu bisa diolah dengan perspektif unik dan kemudian menjadi identitas Fajar dalam beberapa filmnya berikutnya.
Saya lantas bertemu dengan Fajar saat produksi film Rumah di Seribu Ombak pada akhir tahun 2011. Fajar didapuk sebagai co-director sementara saya membantu Jujur Prananto mengembangkan skenarionya dari novel Erwin Arnada. Saya semakin memahami bahwa Fajar punya visi yang menarik atas film yang dipercayakan kepadanya.
Baca Juga: CERMIN: Menyaksikan Arab Saudi yang Berubah
Dari film panjang pertamanya, Mati Bujang di Tengah Malam pada 2007, perlu waktu hingga 15 tahun bagi Fajar untuk bertemu dunia bermain seluas imajinasinya. IDN Pictures menjadi taman bermain mahaluas yang bisa memuat imajinasinya itu dan hasilnya adalah dua film dengan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan: Srimulat: Hil Yang Mustahal dan Inang.
Dalam Srimulat: Hil Yang Mustahal, Fajar memanfaatkan betul kesempatan besar untuk mengeksplorasi taman bermain mahaluas itu. Ia memaksimalkan potensi di semua lini dan paling tidak kita melihat para aktor bercahaya lebih terang di tangannya. Dalam Inang, kita melihat Fajar melahirkan kembali Naysila Mirdad. Nay yang terbiasa kita lihat sebagai pesinetron dengan peran perempuan lemah lembut tersakiti kini menjelma menjadi aktris tangguh yang bersedia melakukan banyak hal di luar kebiasaannya.

Foto: IDN Pictures
Lihat Juga :