CERMIN: Memasuki Dunia Bermain Fajar Nugros
Sabtu, 15 Oktober 2022 - 19:13 WIB
loading...
A
A
A
Ketika bertemu taman bermain maha luas, Fajar juga mencoba melakukan hal-hal di luar kebiasaannya. Bagi yang sering menonton karya-karyanya, kita tahu kekuatan Fajar terletak pada delivery comedy-nya yang menarik. Tapi kali ini Fajar melompat keluar dari kotak dan mencoba genre yang paling ditakutinya: horor.
Tapi sebenarnya Inang tak bisa dikategorikan sesederhana horor atau thriller. Ia adalah campuran dari banyak hal. Segala kegelisahan dan keresahan Fajar dimasukkan ke dalamnya.
![CERMIN: Memasuki Dunia Bermain Fajar Nugros]()
Foto: IDN Pictures
Ia memperlihatkan potret banyak perempuan di Jakarta yang berjuang sekuat tenaga dan di tengah kerapuhannya masih selalu bisa dimanfaatkan oleh sejumlah orang, terutama laki-laki. Kita akan melihat Jakarta yang kumuh, dengan rumah kos berdempetan sehingga kita bisa melihat seorang tetangga mencoba oral seks dengan pintu setengah terbuka.
Kita akan melihat Jakarta tanpa polesan, dengan rumah kos berdempetan yang salah satu di antaranya membuka jasa pelayanan seks kilat ala open BO. Dan kita akan melihat Jakarta yang tanpa ampun menyudutkan perempuan seperti Wulan sehingga tak punya banyak pilihan selain memasrahkan nasibnya pada dua orang asing.
Inang menyodorkan hal baru bagi penonton: weton Rebo Wekasan. Bagi saya yang bukan Jawa, tentu saja ini hal menarik. Saya pun baru tahu tahun ini bahwa weton saya Sabtu Pahing yang dianggap paling powerful dari semua weton. Dan “Inang” membawa kita memasuki dunia lain: sebuah dunia yang masih melanggengkan mitos.
![CERMIN: Memasuki Dunia Bermain Fajar Nugros]()
Foto: IDN Pictures
Mungkin saya beruntung karena bisa hidup di tiga fase berbeda: dunia lama yang masih percaya dengan tradisi, dunia baru yang merayakan modernitas, dan dunia masa depan yang mengutamakan logika. Karenanya cara pandang saya mungkin cukup fluid: saya cukup modern tapi pada hal tertentu masih bisa percaya dengan tradisi lama, termasuk soal mitos.
Tapi sebenarnya Inang tak bisa dikategorikan sesederhana horor atau thriller. Ia adalah campuran dari banyak hal. Segala kegelisahan dan keresahan Fajar dimasukkan ke dalamnya.

Foto: IDN Pictures
Ia memperlihatkan potret banyak perempuan di Jakarta yang berjuang sekuat tenaga dan di tengah kerapuhannya masih selalu bisa dimanfaatkan oleh sejumlah orang, terutama laki-laki. Kita akan melihat Jakarta yang kumuh, dengan rumah kos berdempetan sehingga kita bisa melihat seorang tetangga mencoba oral seks dengan pintu setengah terbuka.
Kita akan melihat Jakarta tanpa polesan, dengan rumah kos berdempetan yang salah satu di antaranya membuka jasa pelayanan seks kilat ala open BO. Dan kita akan melihat Jakarta yang tanpa ampun menyudutkan perempuan seperti Wulan sehingga tak punya banyak pilihan selain memasrahkan nasibnya pada dua orang asing.
Inang menyodorkan hal baru bagi penonton: weton Rebo Wekasan. Bagi saya yang bukan Jawa, tentu saja ini hal menarik. Saya pun baru tahu tahun ini bahwa weton saya Sabtu Pahing yang dianggap paling powerful dari semua weton. Dan “Inang” membawa kita memasuki dunia lain: sebuah dunia yang masih melanggengkan mitos.

Foto: IDN Pictures
Mungkin saya beruntung karena bisa hidup di tiga fase berbeda: dunia lama yang masih percaya dengan tradisi, dunia baru yang merayakan modernitas, dan dunia masa depan yang mengutamakan logika. Karenanya cara pandang saya mungkin cukup fluid: saya cukup modern tapi pada hal tertentu masih bisa percaya dengan tradisi lama, termasuk soal mitos.
Lihat Juga :