CERMIN: Belajar Islam yang (Memang) Memanusiakan Manusia
Rabu, 23 November 2022 - 14:40 WIB
loading...
Film dokumenter Pesantren menunjukkan wajah Islam yang terbuka dan kritis. Foto/Negeri Films
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2006. Saya baru setahun merantau di Jakarta dan diajak bertualang ke pesantren melalui program JIFFest Travelling.
Jakarta International Film Festival (JIFFest) punya peran penting dalam hidup saya. JIFFest lah yang menyebabkan saya jatuh cinta lagi dengan dunia film dan akhirnya menetapkan hati untuk fokus di dunia tersebut. Salah satu program JIFFest adalah JIFFest Travelling yang bertualang ke beberapa kota dan pada 2006 kami mengunjungi sejumlah pesantren.
Di sini untuk pertama kalinya saya bersentuhan langsung dengan dunia pesantren. Saya yang tak pernah mengenyam pendidikan agama secara formal [kecuali melalui mata pelajaran Agama Islam di sekolah] akhirnya bisa melihat langsung sebenar-benarnya pesantren menjalankan rutinitasnya.
Lebih dari 10 tahun setelahnya, saya diundang menjadi pembicara dalam seminar film yang diadakan Pesantren Gontor Putri Ngawi. Meski sebelumnya sudah pernah bersentuhan dengan dunia pesantren, saya terkejut karena diundang oleh pesantren khusus perempuan. Kejutan-kejutan lain menanti saya ketika menginjakkan kaki dan berinteraksi dengan para santriwati di sana.
![CERMIN: Belajar Islam yang (Memang) Memanusiakan Manusia]()
Foto: Negeri Films
Pesantren Gontor Putri Ngawi adalah dunia yang aktif. Daripukul 4 pagi semuanya sudah terbangun dari mimpi indahnya dan bersiap melakukan aktivitas seharian penuh. Jangan berpikir bahwa aktivitas yang dilakukan cuma mengaji, shalat, dan semacam kajian saja.
Saya melihat langsung betapa banyak sekali kegiatan dilakukan santriwati bahkan hingga jelang dinihari. Semua dilakukan dengan penuh semangat dan energi yang positif.
Baca Juga: CERMIN: Kebangkitan Genre Superhero Indonesia
Sejak itu pandangan saya tentang pesantren berubah. Sebagaimana dunia bergerak cepat, begitu pula perubahan terjadi di pesantren. Adaptasi dilakukan agar pesantren selalu bisa mengikuti zaman. Perubahan diikuti sepanjang masih berada di koridor Al-Qur’an dan hadis. Film Pesantrenmemperlihatkan itu semua sepanjang 105 menit durasinya.
Jakarta International Film Festival (JIFFest) punya peran penting dalam hidup saya. JIFFest lah yang menyebabkan saya jatuh cinta lagi dengan dunia film dan akhirnya menetapkan hati untuk fokus di dunia tersebut. Salah satu program JIFFest adalah JIFFest Travelling yang bertualang ke beberapa kota dan pada 2006 kami mengunjungi sejumlah pesantren.
Di sini untuk pertama kalinya saya bersentuhan langsung dengan dunia pesantren. Saya yang tak pernah mengenyam pendidikan agama secara formal [kecuali melalui mata pelajaran Agama Islam di sekolah] akhirnya bisa melihat langsung sebenar-benarnya pesantren menjalankan rutinitasnya.
Lebih dari 10 tahun setelahnya, saya diundang menjadi pembicara dalam seminar film yang diadakan Pesantren Gontor Putri Ngawi. Meski sebelumnya sudah pernah bersentuhan dengan dunia pesantren, saya terkejut karena diundang oleh pesantren khusus perempuan. Kejutan-kejutan lain menanti saya ketika menginjakkan kaki dan berinteraksi dengan para santriwati di sana.

Foto: Negeri Films
Pesantren Gontor Putri Ngawi adalah dunia yang aktif. Daripukul 4 pagi semuanya sudah terbangun dari mimpi indahnya dan bersiap melakukan aktivitas seharian penuh. Jangan berpikir bahwa aktivitas yang dilakukan cuma mengaji, shalat, dan semacam kajian saja.
Saya melihat langsung betapa banyak sekali kegiatan dilakukan santriwati bahkan hingga jelang dinihari. Semua dilakukan dengan penuh semangat dan energi yang positif.
Baca Juga: CERMIN: Kebangkitan Genre Superhero Indonesia
Sejak itu pandangan saya tentang pesantren berubah. Sebagaimana dunia bergerak cepat, begitu pula perubahan terjadi di pesantren. Adaptasi dilakukan agar pesantren selalu bisa mengikuti zaman. Perubahan diikuti sepanjang masih berada di koridor Al-Qur’an dan hadis. Film Pesantrenmemperlihatkan itu semua sepanjang 105 menit durasinya.
Lihat Juga :