Review Film She Said: Kegigihan Wartawan Ungkap Pelecehan Seksual
Jum'at, 25 November 2022 - 06:06 WIB
loading...
A
A
A
Film ini juga mengangkat masalah kesehatan mental. Megan mengalami baby blues setelah melahirkan putri pertamanya. Dia kemudian mengalihkan semua masalah mentalnya itu dengan kembali bekerja. Dari duetnya dengan Jodi, kondisi mental Megan pun berangsur membaik.
Teamwork juga menjadi poin penting di film ini. Tidak hanya kerja sama antara Megan dan Jodi, tapi juga dengan tim editor mereka. Para editor ini langsung pasang badan dan bersedia menanggung semua konsekuensi yang akan diterima Megan dan Jodi dengan berita yang akan mereka tulis ini. Para editor ini sadar kalau apa yang mereka sajikan punya dampak yang sangat besar bagi masyarakat.
Foto: The New Yorker
Sayang, film ini terasa kurang mendalam dan lebih mirip dokumenter. Adegan-adegannya terasa saling bertubrukan dan ceritanya jadi kurang kohesif. Film itu juga kemudian terasa seperti sebuah penjelasan dengan asumsi penonton kurang mengenal kasus Weinstein ini. Jadi, dalam 2 jam 15 menit, lebih banyak penjelasannya ketimbang aksinya. Tapi, mungkin, inilah tujuannya.
Sementara, slice-of-life-nya relatable dengan kehidupan sehari-hari. Kehidupan keluarga Megan dan Jodi turut disorot di film ini. Ini menggambarkan bagaimana mereka berjuang untuk menyeimbangkan hidup mereka sebagai ibu dan juga jurnalis. Mereka beruntung karena suami mereka selalu mendukung mereka dan tidak protes.
Foto: Pop Sugar
She Said berusaha menggambarkan penderitaan para wanita yang menjadi korban Weinstein ini memberikan gambaran terhadap pelecehan seksual itu. Alih-alih menyajikan adegan pelecehan secara langsung, sutradara film ini, Maria Schrader memberikan rekaman suara dan gambaran tentang lokasi kejadian. Meski tidak terlalu memuaskan, tapi cukup menarik emosi.
Teamwork juga menjadi poin penting di film ini. Tidak hanya kerja sama antara Megan dan Jodi, tapi juga dengan tim editor mereka. Para editor ini langsung pasang badan dan bersedia menanggung semua konsekuensi yang akan diterima Megan dan Jodi dengan berita yang akan mereka tulis ini. Para editor ini sadar kalau apa yang mereka sajikan punya dampak yang sangat besar bagi masyarakat.
Foto: The New Yorker
Sayang, film ini terasa kurang mendalam dan lebih mirip dokumenter. Adegan-adegannya terasa saling bertubrukan dan ceritanya jadi kurang kohesif. Film itu juga kemudian terasa seperti sebuah penjelasan dengan asumsi penonton kurang mengenal kasus Weinstein ini. Jadi, dalam 2 jam 15 menit, lebih banyak penjelasannya ketimbang aksinya. Tapi, mungkin, inilah tujuannya.
Sementara, slice-of-life-nya relatable dengan kehidupan sehari-hari. Kehidupan keluarga Megan dan Jodi turut disorot di film ini. Ini menggambarkan bagaimana mereka berjuang untuk menyeimbangkan hidup mereka sebagai ibu dan juga jurnalis. Mereka beruntung karena suami mereka selalu mendukung mereka dan tidak protes.
Foto: Pop Sugar
She Said berusaha menggambarkan penderitaan para wanita yang menjadi korban Weinstein ini memberikan gambaran terhadap pelecehan seksual itu. Alih-alih menyajikan adegan pelecehan secara langsung, sutradara film ini, Maria Schrader memberikan rekaman suara dan gambaran tentang lokasi kejadian. Meski tidak terlalu memuaskan, tapi cukup menarik emosi.
Lihat Juga :