Ramai Singapura dan 3 Negara Lainnya Daftarkan Kebaya ke UNESCO, Pegiat Budaya: Bukan Berarti Pengakuan!
Jum'at, 25 November 2022 - 14:07 WIB
loading...
A
A
A
Ia melanjutkan, "Busana kebaya yang dipasangkan dengan kain lilit sudah sejak lama menjadi busana banyak suku bangsa di Asia Tenggara, bukan hanya di Indonesia."
Hanya saja, mungkin ada perbedaan atau ciri khas antara daerah satu dengan lainnya. Misal kebaya peranakan, itu memang lekat di masyarakat keturunan Tionghoa di Singapura, mungkin juga ada di Malaysia dan Brunei.
"Kalau mau klaim-mengklaim, bisa saja kita mengusulkan kebaya Kutubaru misalnya karena memang menjadi kekhasan kita," ungkap Agnes.
Ia pun menyoroti bahwa UNESCO selalu menjadi tolak ukur pengakuan kekayaan budaya suatu negara. Untuk kepentingan level negara, kata Agnes, atau untuk kepentingan pariwisata, dipersilahkan.
"Namun, kita sebagai pemilik kebudayaan itu seharusnya tidak membutuhkan pengakuan dari lembaga luar. Terlebih jika penanda kebudayaan tertentu itu menjadi bagian dari hidup kita," katanya.
"Jangan seperti yang sudah-sudah, kita baru ingat kita punya batik, kebaya, reog, dan wayang ketika ada klaim negara lain. Padahal yang lebih penting dipertanyakan adalah sudah berbuat apa untuk melestarikannya?" tambah Agnes.
Hanya saja, mungkin ada perbedaan atau ciri khas antara daerah satu dengan lainnya. Misal kebaya peranakan, itu memang lekat di masyarakat keturunan Tionghoa di Singapura, mungkin juga ada di Malaysia dan Brunei.
"Kalau mau klaim-mengklaim, bisa saja kita mengusulkan kebaya Kutubaru misalnya karena memang menjadi kekhasan kita," ungkap Agnes.
Ia pun menyoroti bahwa UNESCO selalu menjadi tolak ukur pengakuan kekayaan budaya suatu negara. Untuk kepentingan level negara, kata Agnes, atau untuk kepentingan pariwisata, dipersilahkan.
"Namun, kita sebagai pemilik kebudayaan itu seharusnya tidak membutuhkan pengakuan dari lembaga luar. Terlebih jika penanda kebudayaan tertentu itu menjadi bagian dari hidup kita," katanya.
"Jangan seperti yang sudah-sudah, kita baru ingat kita punya batik, kebaya, reog, dan wayang ketika ada klaim negara lain. Padahal yang lebih penting dipertanyakan adalah sudah berbuat apa untuk melestarikannya?" tambah Agnes.
(hri)
Lihat Juga :