Ramai Singapura dan 3 Negara Lainnya Daftarkan Kebaya ke UNESCO, Pegiat Budaya: Bukan Berarti Pengakuan!
Jum'at, 25 November 2022 - 14:07 WIB
loading...
A
A
A
Pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI), Indiah Marsaban menyebutkan bahwa suatu elemen budaya yang telah diinskripsikan dalam daftar Representative List of Intangible Cultural Heritage UNESCO hanyalah menyatakan bahwa budaya itu hidup.
Atau paling tidak sudah satu generasi diturunkan ke suatu masyarakat, yang kemudian dan masyarakat tersebut berkomitmen untuk merawat dan menjaga budaya itu.
Baca Juga: Kebaya Diupayakan Melaju ke Unesco, Ratusan Komunitas Beri Dukungan
"Terdaftar di UNESCO bukan berarti pengakuan hak eksklusif atau hak milik dari suatu elemen budaya dan bukan tentang orisinalitas atau otentiknya suatu elemen budaya, tapi maknanya adalah kontribusi elemen budaya tersebut pada nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan nilai-nilai universal untuk kemanusiaan," ungkap Indiah dikutip MNC Portal dari laman kebayaindonesia.org, Jumat (25/11/2022).
"Jadi terdaftar di UNESCO tidak ada kaitannya dengan asal-usul atau 'origin' atau asli tidaknya suatu budaya, karena bisa saja suatu budaya hidup juga di negara lain," tambahnya.
Senada dengan Indiah Marsaban, Pegiat Budaya Agnes Dwina Herdiasti menjelaskan bahwa pada kenyataannya ada banyak ragam kebaya dan busana ini memang digunakan di banyak daerah di Nusantara, pun di negara tetangga.
"Yang namanya kesamaan atau kemiripan kebudayaan kan pada dasarnya garis pembatasnya tidak setegas pembagian wilayah yang bisa diatur secara administratif," terang Agnes.
Atau paling tidak sudah satu generasi diturunkan ke suatu masyarakat, yang kemudian dan masyarakat tersebut berkomitmen untuk merawat dan menjaga budaya itu.
Baca Juga: Kebaya Diupayakan Melaju ke Unesco, Ratusan Komunitas Beri Dukungan
"Terdaftar di UNESCO bukan berarti pengakuan hak eksklusif atau hak milik dari suatu elemen budaya dan bukan tentang orisinalitas atau otentiknya suatu elemen budaya, tapi maknanya adalah kontribusi elemen budaya tersebut pada nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan nilai-nilai universal untuk kemanusiaan," ungkap Indiah dikutip MNC Portal dari laman kebayaindonesia.org, Jumat (25/11/2022).
"Jadi terdaftar di UNESCO tidak ada kaitannya dengan asal-usul atau 'origin' atau asli tidaknya suatu budaya, karena bisa saja suatu budaya hidup juga di negara lain," tambahnya.
Senada dengan Indiah Marsaban, Pegiat Budaya Agnes Dwina Herdiasti menjelaskan bahwa pada kenyataannya ada banyak ragam kebaya dan busana ini memang digunakan di banyak daerah di Nusantara, pun di negara tetangga.
"Yang namanya kesamaan atau kemiripan kebudayaan kan pada dasarnya garis pembatasnya tidak setegas pembagian wilayah yang bisa diatur secara administratif," terang Agnes.
Lihat Juga :