Mengapa Pemain Sepakbola Tidak Boleh Makan Gorengan seperti Aturan yang Diterapkan Shin Tae Yong?

Rabu, 30 November 2022 - 21:01 WIB
loading...
Mengapa Pemain Sepakbola Tidak Boleh Makan Gorengan seperti Aturan yang Diterapkan Shin Tae Yong?
Pemain sepakbola harus menghindari gorengan demi menunjang stamina mereka selama 90 menit pertandingan. Foto Ilustrasi/Istimewa
A A A
JAKARTA - Pemain sepakbola , sebagaimana atlet cabang olahraga lain, harus senantiasa menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh agar memiliki performa yang baik saat bertanding.

Asupan yang masuk ke dalam tubuh seorang pemain sepakbola tentu harus diperhatikan demi menunjang stamina mereka guna menampilkan performa terbaik selama 90 menit pertandingan. Makanya, pelatih Timnas Indonesia Shin Tae Yong, saat ini memiliki peraturan unik, yaitu melarang para pemain untuk makan gorengan.

Baca Juga: Suka Makan Gorengan, Kebiasaan Buruk Pemain Indonesia yang Tak Disukai Shin Tae-yong

Coach Shin Tae Yong pasti memiliki alasan kuat mengapa anak asuhnya tak diperbolehkan mengonsumsi gorengan. Apa alasannya? Ternyata, bahaya itu terletak pada lemak jenuh yang terkandung di dalam makanan yang digoreng.

Lemak jenuh diketahui dapat meningkat dalam darah sehingga akan sulit dicerna oleh tubuh. Sehingga nantinya bisa membuat perut tidak nyaman, melilit, dan kram sehingga performa atlet pun bisa tidak maksimal.

Lebih parah lagi, mengonsumsi gorengan bisa meningkatkan risiko serangan jantung mendadak karena kandungan garam yang tinggi.

Baca Juga: Artis yang Tidak Makan Gorengan, Nomor 2 Ingin Sembuh dari Jerawat

Selain itu, kandungan lemak yang tinggi pada makanan yang digoreng juga bakal menyebabkan sulit dibakar dalam metabolisme tubuh saat diperlukan menjadi energi. Sedangkan sepakbola dengan keperluan lari yang cukup menguras energi, ditambah beban metabolisme, tentu membutuhkan proses metabolisme energi yang cepat.

Apalagi jika gorengan itu dilapisi tepung yang membuat semakin tinggi kalori masuk ke dalam tubuh, namun tidak ada gizinya sama sekali. Nanti, atlet semakin cepat lemas dan meningkatkan risiko terserang berbagai macam penyakit.

Tentu si atlet tak akan kuat berlari ke sana kemari selama 90 menit jika tubuh mudah lemas, bukan?
(tsa)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1948 seconds (11.210#12.26)